Informasi Seputar Serah Terima Santri Baru (STSB) TP 2019/2020

Bismillah

Bapak/ibu sekalian yang semoga senantiasa dalam naungan rahmat dan kasih sayang-Nya, berikut kami sampaikan beberapa informasi penting seputar acara Serah Terima Santri Baru (STSB) TP 2019/2020.

Rute Pesantren

Dari arah bandara Yogyakarta  naik bus DAMRI jurusan magelang  turun di pertigaan blondo  naik ojek/ojek online  Pesantren putra di depan samsat mungkid/dishub mungkid

Dari arah terminal Yogyakarta  naik bus jurusan magelang  turun di pertigaan blondo  naik ojek/ojek online  Pesantren putra di depan samsat mungkid/dishub mungkid

Dari arah semarang  naik bus jurusan magelang  turun di terminal tidar magelang  bisa dua pilihan. Pertama dengan mode transportasi online atau naik angkot jurusan Borobudur  turun di pertigaan blondo  naik ojek  Pesantren putra di depan samsat mungkid/dishub mungkid

Catatan : Magelang sudah tersedia aplikasi grab/gojek, insyaallah dengan aplikasi ini akan memudahkan transportasi.

Alternatif Penginapan (Bila Diperlukan)

Berikut beberapa hotel yang bisa dijadikan referensi untuk bapak/ibu sekalian dalam menginap

  1. Hotel Orchid, Telp (0293) 320 1350
  2. Hotel Catur, Telp (0293) 326 980 / 081 328 413 080
  3. Grand Artos Hotel, Telp (0293) 321 8888
  4. Atria Hotel, Telp (0293) 321 9999

Cuaca Sekitar Pesantren

Cuaca di sekitar Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Suhu berkisar antara 210 – 310 C. Terutama di malam hari, kadang cuaca cukup dingin bagi beberapa santri. Jikalau anak bapak ibu sekalian kadang merasa kedinginan di malam hari, maka silahkan untuk membawa selimut.

Perlengkapan Santri Baru

Perlengkapan santri yang perlu untuk dibawa, meliputi :

  1. Perlengkapan baju secukupnya, meliputi sarung : 2 buah, baju ibadah (koko/kemeja) : 4 buah, celana panjang traning : 2 buah, celana dalam : 6 buah, kaos dalam : 4 buah, kaos santai : 4 buah, jubah resmi sholat : 2 buah, celana 3/4 : 2 buah, serta jaket tanpa tulisan dan gambar belakang : 2 buah.
  2. Sepatu untuk olahraga (tidak wajib)
  3. Handuk (minimal dua handuk)
  4. Sprei (cukup satu untuk ganti)
  5. Kamus (tidak wajib)
  6. Obat-obatan pribadi (jikalau diperlukan)
  7. Alat tulis*
  8. Buku tulis*
  9. Alat mandi*
  10. Ember bertutup*
  11. Hanger baju*

*Bisa dibeli di supermarket pesantren

Catatan :

  1. Membawa lebih sedikit dari jumlah yang ditentukan lebih baik.
  2. Tidak melebihi dari batas jumlah yang ditentukan.

Barang Terlarang

Barang yang dilarang untuk dibawa ke pesantren, meliputi :

  1. Dispenser air
  2. Pemanas air
  3. Alat elektronik seperti hp, mp3, kipas angin dll
  4. Celana berbahan levis/jeans dan berbentuk pensil
  5. Baju/kaos/sprei yang bergambar makhluk hidup
  6. Sprei/baju/kaos bola yang menggambarkan syiar kaum non muslim
  7. Senjata tajam seperti pisau dll

Fasilitas pesantren

  1. Masjid berkapasitas 800 jamaah di lantai satu
  2. 34 ruang kelas, asrama dan kantor (6 di antaranya sedang dalam proses pembangunan)
  3. Ruang asrama (ranjang, kasur, bantal dan lemari)
  4. Area olahraga dan bermain
  5. Ruang makan dan kantin
  6. Toko
  7. Air bersih dan air minum
  8. Layanan kesehatan
  9. Layanan komunikasi
  10. Layanan laundry

Pusat Informasi

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi nomor berikut

0822 1912 1999 (Telkomsel)

0856 0312 1999 (Indosat)

08777 1144 999 (XL)

Proposal CARA (Ceria Ramadhan) 1440 H

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam dan keluarganya, sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga hari akhir kelak. Amma ba’du.

Bulan ramadhan merupakan bulan mulia yang kehadirannya senantiasa dinantikan oleh kaum muslimin. Di bulan ini, amalan shalih dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, orang yang mempercayai keberkahan bulan ramadhan ini tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun waktunya. Kaum muslimin akan senantiasa berpacu untuk mengisi waktu paginya, waktu siangnya, waktu sorenya, dan terutama waktu malamnya untuk beribadah mendekatkan diri hanya kepada Allah ta’ala.

Masjid-masjid akan lebih ramai terisi oleh para jama’ah jika dibandingkan bulan-bulan lainnya. Semangat seorang muslim untuk beribadah di bulan ramadhan akan saling menular dan menguatkan antara seorang muslim dan lainnya. Pintu-pintu kebaikan yang biasanya sepi dengan peminat akan kita dapati terbuka dengan sangat lebarnya dengan sejumlah besar orang berbondong-bondong memasukinya.

Oleh karena itu, Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan Magelang berencana untuk menyelenggarakan serangkaian kegiatan pada Bulan Ramadhan 1440 H ini. Selain itu, Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan Magelang juga membuka peluang untuk kaum muslimin yang ingin berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan ini. Semoga kegiatan Ramadhan ini bisa berjalan lancar dan membawa manfaat bagi kaum muslimin.


Klik PROPOSAL berikut, untuk mengetahui lebih lanjut program CARA 1440 H.

Demikian yang dapat kami sampaikan dalam kesempatan kali ini. Semoga Allah ta’ala memberikan kemudahan dan keberkahan dalam setiap kebaikan yang kita upayakan bersama. Semoga Allah ta’ala mempertemukan kita semua dengan bulan yang mulia ini. Terimakasih, jazaakumullahu khairan.

Salam Hormat

Panitia CARA (Ceria Ramadhan) 1440 H

Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan Magelang

Bersama Kita Berbagi Keceriaan di Bulan Ramadhan

Dzulhijjah Istimewa

Sesungguhnya jumlah bilangan bulan dalam islam sudah Allah ta’ala tentukan sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At Taubah: 36).

Yang dimaksud bulan dalam ayat ini adalah bulan hijriyah. Di dalam satu tahun dalam islam ada dua belas bulan, dan di antara dua belas bulan tersebut terdapat bulan-bulan khusus yang Allah ta’ala muliakan yaitu: dzulqa’dah, dzulhijjah, muharram,dan rajab.

Saat ini, kita berada di bulan dzulhijjah dan di dalam bulan dzulhijjah terdapat hari-hari yang Allah sendiri bersumpah dengannya yaitu sepuluh hari pertama. Allah ta’ala berfrman;

وَالۡفَجۡرِۙ وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ

Demi waktu fajar. Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr 1-2)

Banyak ahli tafsir menjelaskan bahwa makna “malam yang sepuluh” dalam ayat di atas adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Allah ta’ala bersumpah dengannya menunjukkan bahwa ia memiliki keutamaan. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya:

“Sepuluh malam yang dimaksud dalam ayat ini adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnuz Zubair, Mujahid dan banyak lagi ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf yang berpendapat demikian.”[1]

Amalan Bulan Dzulhijjah

Karena bulan tersebut merupakan salah satu bulan yang mulia, maka sepatutnya kita memuliakannya. Namun dengan apa kita memuliakan? Tentunya dengan mengerjakan kebaikan dan menjauhi larangan-Nya. Bahkan orang jahiliyah dahulupun memuliakan bulan dzulhijjah tersebut, salah satunya dengan adanya genjatan perang antar suku. Berikut beberapa amalan yang dianjurkan dan diajarkan dalam islam saat bulan dzulhijjah.

Banyak Berdzikir Mengingat Allah

Allah ta’ala berfirman:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Dan hendaklah mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah DIMAKLUMI tersebut.” (QS. Al-Hajj: 28)

Dan juga firman Allah ta’ala:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah dengan menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah DITENTUKAN” [QS. Al-Baqoroh: 203]

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumaa berkata menjelaskan dua ayat di atas: “Berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah DIMAKLUMI, maksudnya adalah pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Sedangkan hari-hari yang sudah DITENTUKAN, adalah hari-hari Tasyrik (penyembelihan).” [Riwayat Al-Bukhari]

Terdapat hadist juga yang menyebutkan lebih jelas untuk kita banyak berdzikir di bulan dzulhijjah. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

“Tidaklah ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh yang lebih dicintai Allah ta’ala daripada SEPULUH HARI PERTAMA DZULHIJJAH. Maka perbanyaklah ucapan Tahlil, Takbir dan Tahmid.” [HR. Ahmad no. 6154 dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Al-Anauth]

Maka, sudah selayaknya bagi kita semua untuk membasahi lidah kita dengan banyak berdzikir mengingat Allah.

Berpuasa

Di antara amalan pada saat 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah berpuasa. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya” (HR. Abu Daud)

Puasa Arafah

Hukum asal amalan yang dikerjakan di bulan dzulhijah memiliki pahala yang besar di sisi Allah ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahuanhu bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda yang artinya:

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud).

Maka tidaklah heran kalau puasa arofah memiliki keutamaan yang sangat besar, seperti yang disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ dari sahabat Abu Qatadah radhiyallahuanhu yang artinya;

Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

Menunaikan Haji

Amalan ini khusus dikerjakan saat bulan dzulhijjah, yaitu ibadah haji. Terlebih seseorang yang mampu melaksanakan haji dan pelaksanaan haji tersebut mabrur maka tidak ada pahala baginya selain surga. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan sahabat Abu Hurairah radhiyallahuanhu yang artinya;

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari)

Berqurban

Amalan ini juga khusus dikerjakan saat bulan dzulhijjah, yaitu ibadah qurban. Allah ta’ala berfirman yang artinya:

“Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (Qs. Al Kautsar: 2)

Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukil dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah.[2]

Demikian tulisan ringkas tentang keutamaan bulan dzulhijjah dan amalan-amalan yang bisa dilaksanakan saat di bulan tersebut. Semoga Allah ta’ala memudahkan setiap langkah kebaikan kita di atas jalan kebaikan dan ketakwaan.


[1] Tafsir Ibnu Katsir

[2] Taisirul ‘Allaam, 534, Taudhihul Ahkaam IV/450, & Shahih Fiqih Sunnah II/366

Di Manakah Allah ta’ala?

Metode ahlussunnah wal jamaah dalam menetapkan sifat Allah adalah mengikuti alquran, hadits dan ijma’ ulama. Di antara keyakinan yang dipegang oleh para ulama bahwasanya alquran dan hadits-hadits shahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan Allah berada di atas ‘Arsy dan mereka meyakini bahwa Allah beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy-Nya.

‘Abdurrahman bin Abi Hatim berkata, ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata aku diceritakan dari Sa’id bin ‘Amir Adh Dhuba’i bahwa ia berbicara mengenai Jahmiyah. Beliau berkata,

الجهمية فقال هم شر قولا من اليهود والنصارى قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس على شيء

“Jahmiyah lebih jelek dari Yahudi dan Nashrani. Telah diketahui bahwa Yahudi dan Nashrani serta agama lainnya bersama kaum muslimin bersepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy. Sedangkan Jahmiyah, mereka katakan bahwa Allah tidak di atas sesuatu pun.” (Lihat Al-‘Uluw li Al-‘Aliyyi Al- Ghaffar, hlm. 157 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hlm. 168).

Mereka menetapkan hal ini tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk), tanpa tahrif (mengubah, baik mengubah lafaz maupun makna) dan tanpa ta’thil (mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya, baik mengingkari keseluruhan maupun sebagian, baik dengan men-tahrif maknanya maupun menolaknya). Allah sendiri terpisah dari makhluk dan makhluk pun terpisah dari Allah. Allah tidak mungkin menyatu dan bercampur dengan makhluk-Nya. Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya di langit sana dan bukan menetap di bumi ini bersama makhluk-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy. (QS. Thaha: 5)

Dan juga ayat-ayat lainnya yang menjelaskan bahwa Allah menetap tinggi di atas ‘arsy begitu juga di dalam hadist-hadist Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua ayat dan hadits menggunakan huruf ‘ala على yang artinya di atas. Tapi masih dapat kita jumpai beberapa orang mengingkari hal tersebut, mereka yang mendahulukan nalar dan nafsu.

Begitu juga disebutkan dalam hadits,  dari hadits Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulamiy dengan lafazh dari Muslim.

“Saya memiliki seorang budak yang biasa mengembalakan kambingku sebelum di daerah antara Uhud dan Al Jawaniyyah (daerah di dekat Uhud, utara Madinah, pen). Lalu pada suatu hari dia berbuat suatu kesalahan, dia pergi membawa seekor kambing. Saya adalah manusia, yang tentu juga bisa timbul marah. Lantas aku menamparnya, lalu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkara ini masih mengkhawatirkanku. Aku lantas berbicara pada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus membebaskan budakku ini?” “Bawa dia padaku,” beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berujar. Kemudian aku segera membawanya menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya pada budakku ini,

أَيْنَ اللَّهُ

“Di mana Allah?”

Dia menjawab,

فِى السَّمَاءِ

Di atas langit

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa saya?” Budakku menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

“Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.”[1]

Begitulah hadits yang menunjukkan Allah ada di atas, dan masih banyak lagi hadist yang menunjukkan bahwa Allah di atas langit, seperti halnya hadits keutamaan sepertiga malam terakhir.

Tidak dipungkiri juga, bahwasanya imam mazhab, semuanya sepakat dan sepaham dalam hal keberadaan Allah ta’ala. Imam Abu Hanifah pernah ditanya tentang keberadaan Allah, maka beliau berkata:

من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر

“Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir.”[2]

Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (yang terkenal dengan Imam Syafi’i), yang mayoritas penduduk indonesia bermadzhab dengannya, beliau berkata:

القول في السنة التي أنا عليها ورأيت اصحابنا عليها اصحاب الحديث الذين رأيتهم فأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة ان لااله الا الله وان محمدا رسول الله وذكر شيئا ثم قال وان الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وان الله تعالى ينزل الى السماء الدنيا كيف شاء وذكر سائر الاعتقاد

“Perkataan dalam As Sunnah yang aku dan pengikutku serta pakar hadits meyakininya, juga hal ini diyakini oleh Sufyan, Malik dan selainnya : “Kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Lalu Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya”[3]

Dari dalil-dalil yang sudah terpapar, baik dari alquran maupun hadits serta sebagian perkataan ulama salaf, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Allah ta’ala berada di atas ’arsy-Nya. Semoga Allah ta’ala senantiasa meneguhkan diri kita semua di atas pemahaman yang benar dan dijauhkan dari pemahaman yang salah serta menyimpang.


[1] HR. Ahmad [5/447], Malik dalam Al Muwatho’ [666], Muslim [537], Abu Daud [3282], An Nasa’i dalam Al Mujtaba’ [3/15], Ibnu Khuzaimah [178-180], Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah [1/215], Al Lalika’iy dalam Ushul Ahlis Sunnah [3/392], Adz Dzahabi dalam Al ‘Uluw [81]

[2] Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 116-117, Darus Salafiyah, Kuwait, cetakan pertama, 1406 H. Lihat pula Mukhtashor Al ‘Uluw, Adz Dzahabiy, Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 137, Al Maktab Al Islamiy.

[3] Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, hal. 123-124. Disebutkan pula dalam Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal.165

Ringkasan Nasihat Saat Thabur Shabah, Senin 15 Juli 2019

Ringkasan Nasihat Thabur Shabah/Apel Pagi
Senin, 15 Juli 2019 M/12 Dzulqa’dah 1440 H

Oleh : Ustadz Fathurrahman

Di awal pembukaan apel pagi ini, ustadz Fathurrahman menukilkan sebuah hadits akan keutamaan hari senin dan kamis. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 :؛عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

تفتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَخَمِيسٍ، فَيُغْفَرُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمَيْنِ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا مَنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ”، فَيُقَالُ : أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا “. رواه أبو داود

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda :

“Pintu-pintu surga akan dibuka setiap hari senin dan kamis maka allah ta’ala akan mengampuni hamba-hambanya yang tidak menyekutukan Allah ta’ala (syirik) sedikit pun kecuali orang-orang yang ada pada saudaranya permusuhan dengannya sampai dia memperdamaikan dirinya. (HR. Abu Dawud. No. 4916)

Beranjak dari hadits tersebut beliau mengajak segenap anak-anak :

  1. Untuk terus meningkatkan tauhid kepada Allah ta’ala dengan terus berharap hanya kepadanya. Meminta semuanya kepada Allah ta’ala semata, dimudahkan dalam belajar, dimudahkan dalam menghafal alquran, semuanya harus meminta kepada Allah ta’ala.
  2. Pentingnya persaudaraan, tidak ada permusuhan dan rasa benci di antara sesama santri di Pesantren, kakak kelas dengan adik kelas, adik kelas dengan kakak kelas, semuanya disini tidak ada permusuhan dan rasa benci. Selama masih ada benci dan permusuhan di antara kalian, maka ampunan Allah tidak ada meskipun telah memurnikan tauhid kepada Allah ta’ala semata..

Setelah itu, beliau melanjutkan akan pentingnya akhlak mulia berupa memberikan makan orang lain dan mengucapkan salam kepada orang yg dikenal atau yang tidak dikenal..

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

عَن عبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ ؟ قَالَ : ” تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ “. ( رَواه اليخاري ٦٢٣٦)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Amalan islam apa yang paling baik?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Memberi makan (kepada orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali.” (HR. Bukhari no. 6236)

Maka dalam kesempatan apel pagi ini, beliau mengajak :

  1. Agar tidak melupakan teman sekamar saat mendapatkan kiriman makanan dari orang tua di rumah. Salinglah berbagi kepada sesama teman sekamar.
  2. Senantiasa mengucapkan salam kepada sesama, adik kelas ke kakak kelas. Kakak kelas ke adik kelas, bahkan kepada tamu yang berkunjung ke pesantren, jangan lupa untuk diberikan salam.

Demikian ringkasan ini kami tulis, semoga bermanfaat.

Jazaakumullahu khairan wa Baarakallahu fiikum

Resume Nasihat Thabur Shabah (Apel Pagi) Pertama di TP 2019/2020

Resume Nasihat Thabur Shabah (Apel Pagi) Pertama di TP 2019/2020

Oleh : Ustadz Rizal Yuliar Putrananda (Pengasuh Pesantren)

Berikut kami kami sampaikan resume/kesimpulan nasihat dan arahan yang disampaikan :

  1. Pengumuman kepada segenap Civitas Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan, bahwasanya kegiatan Thabur Shobah (Apel Pagi) setiap hari senin wajib diikuti oleh segenap santri dan asatidzah Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan.
  2. Penyampaian nasehat bagi santri-santri lama terutama santri kelas 3 aliyah, agar dapat menjadi tauladan kebaikan bagi adik-adik kelasnya.
  3. Penyampaian permohonan maaf serta pengumuman atas keterlambatan proses pembangunan kelas baru di bagian barat masjid. Untuk segenap santri kelas Aliyah, dimana yang direncanakan akan menempati bangunan baru, untuk sementara ini akan melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Masjid.
  4. Penyampaian nasehat bagi kelas yang belajar di masjid, agar dapat menjaga adab-adab selama belajar di masjid.
  5. Motivasi kepada seluruh santri dan asatidzah Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan, agar senantiasa menerapkan penggunaan Bahasa arab dalam kegiatan keseharian di lingkungan Pesantren.
  6. Pengumuman mengenai perkembangan akreditasi Universitas Islam Madinah yang mengalami keterlambatan karena adanya pergantian rektor dari pihak Kerajaan Arab Saudi.
  7. Penyampaian masukan dari salah satu rekan pengasuh pesantren yang membantu dalam lancarnya proses akreditasi Universitas Islam Madinah, agar memaksimalkan prestasi santri-santri Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan. Sehingga kedepannya seluruh santri diberikan kemudahan untuk indahnya belajar di Universitas Islam Madinah.
  8. Selain nasehat yang disampaikan oleh pengasuh Pesantren ust. Rizal Yuliar Putrananda, ada sedikin tambahan yang disampaikan oleh bagian staf kurikulum ust. Abdurrahman Muttaqin. Beliau menyampaiakan bahwasanya wajib bagi seluruh santri menggunakan seragam dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Demikian ringkasan ini kami tulis.
Jazaakumullahu khairan wa Baarakallahu fiikum

BBQ – Bahagia BerQurban – 1440 H

Allah Ta’ala berfirman,

فصل لربك وانحر

“Maka shalat-lah untuk Rabb-mu dan sembelih-lah (hewan)” [QS. Al-Kautsar : 2]

Para Ahli tafsir seperti Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Qatadah, ‘Atha, Mujahid dan ‘Ikrimah berpendapat bahwa hewan yang dimaksud adalah hewan kurban yang disembelih selepas shalat Idul Adha. [Tafsir Ibnu Katsir V/503].

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah Ta’ala dan bertakbir” [HR. Al-Bukhari no. 5565, Muslim no. 5060 dan 5061].

Mari bantu menyebarkan kebaikan dengan membagikan pamflet BBQ 1440H ini di media sosial yang antum miliki, silahkan download dengan KLIK DISINI

Dahulu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dan berkata, “Ya Allah, (kurban) ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad” [HR. Ibnu Majah no. 3122 dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu].

Para Ulama menjelaskan bahwa kurban yang dilakukan oleh seseorang atas dirinya dapat berlaku atas diri segenap keluarganya sampaipun yang telah meninggal dunia.

كان الرجل في عهد النبي صلى الله عليه وسلم يضحي بالشاة عنه وعن أهل بيته

Pada masa Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam ada seseorang yang menyembelih seekor kambing (berkurban) untuk dirinya beserta keluarganya. [HR. At-Tirmidzi no. 1505, Ibnu Majah no. 3138 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam kitab Al-Irwa no. 1142].

Mari Berbagi

Dengan memohon taufik dari Allah Ta’ala, Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan bersedia membantu Bapak dan Ibu dalam menyampaikan amanah distribusi daging hewan kurban yang dititipkan kepada kami di Pesantren yang berlokasi di Dsn. Kawungon, Ds. Bumirejo, Kec. Mungkid, Kab. Magelang.

Berbagi bahagia di hari raya Idu Adha 1440 H bersama para generasi muda penuntut ilmu agama dan segenap masyarakat sekitar Pesantren melalui kegiatan sosial edukatif yang sarat nilai dakwah dan pahala. Amalan mulia tersebut dapat disalurkan melalui kami di Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan.

PILIHAN JENIS KAMBING
TYPEHARGA
A. PLATINUM> 3.600.000
B. GOLD2.750.000 – 3.500.000
C. SILVER1.500.000 – 2.500.000
Mari bantu menyebarkan kebaikan dengan membagikan pamflet BBQ 1440H ini di media sosial yang antum miliki, silahkan download dengan KLIK DISINI
PILIHAN JENIS SAPI
TYPEHARGA
A. PLATINUM@ MULAI 4.000.000/orang
B. GOLD@ MULAI 3.200.000/orang
C. SILVER@ MULAI 2.600.000/orang

 

Keterangan

Biaya penitipan hewan kurban dikirimkan ke nomor rekening resmi Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan:

Rekening BNI SYARIAH
Atas Nama : Ponpes Al Lulu Wal Marjan
Nomor Rekening : 057 6129 100
(Kode Bank 427)
Konfirmasi Transfer 
Format : Nama#BBQ 1440H#Hewan Pilihan#Nominal#Tgl Transfer
Contoh : Abdullah#BBQ 1440H#Sapi Platinum#4.000.000#01 Juni 2019
Mohon dapat pula menyertakan bukti pembayaran

Dikirim melalui:
Whatsapp/Telegram : 0856 0312 1999 Kesekretariatan Pesantren
Whatsapp/Telegram : 0858 4292 9244 Keuangan Pesantren

Informasi
0856 03 121 999 / 0822 19 121 999 / 08 777 1144 999
Email : pesantrenluluwalmarjan@gmail.com
Website : www.pesantrenluluwalmarjan.org

Mari bantu menyebarkan kebaikan dengan membagikan pamflet BBQ 1440H ini di media sosial yang antum miliki, silahkan download dengan KLIK DISINI