
Buku Sebagai Sarana, Ulama sebagai Penuntun
Buku Sebagai Sarana, Ulama sebagai Penuntun
Ustadz Luthfi Ihsanuddin
Kamis, 5 Februari 2026
Kita akan melanjutkan pembahasan kitab kita pada malam hari ini yang berjudul “Awaaiq Ath Thalab” (Penjelasan Tentang Berbagai Penghalang yang Menimpa Seorang Penuntut Ilmu) karya Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullahu ta’ala
Kita akan membahas tantangan yang ke-3 yaitu “Hanya bersandar kepada buku, tanpa bimbingan Ulama” alias belajar ilmu secara otodidak tidak pernah didampingi guru, hal ini dikategorikan sebagai penghalang mendapatkan ilmu.
Buku adalah wasilah untuk mengumpukan ilmu, sarana pendukung dan buku sangat membantu sekali di dalam menuntut ilmu dan sangat berfaedah bagi penuntut ilmu akan tetapi seorang penuntut ilmu tidak boleh mencukupkan dengan buku saja. Umumnya seseorang yang belajar ilmu secara otodidak/mandiri tanpa bimbingan guru dia bisa tersifati dengan 3 sifat yang tercela atau akan menempel pada dirinya 3 sifat yang tercela.
Yang pertama adalah sifat Ujub (merasa paling baik) terperdaya dengan kesombongan. Dia terjatuh kepada kesombongan tanpa ia sadari. Yang kedua adalah sifat Su’ul Adab (tidak beretika), bagaimana menjaga adab para guru, meremehkan fatwa-fatwa para alim ulama. Dan yang ketiga adalah sifat penyimpangan pola fikirnya.
Mari sama-sama kita menyaksikan bersama kajian kitab “Awaaiq Ath Thalab” (Penjelasan Tentang Berbagai Penghalang yang Menimpa Seorang Penuntut Ilmu).