Pembatal Keislaman Ke-10

Pembatal tauhid atau keislaman yang kesepuluh adalah berpaling dari agama Allah ta’ala, dengan tidak mempelajarinya dan tidak beramal dengannya.

Ketika seorang muslim akan melakukan sebuah amalan harus mengetahui terlebih dahulu hukum secara syariat islam dari amalan yang akan ia lakukan. Apakah amalan yang akan ia lakukan dibolehkan atau justru dilarang dan diharamkan oleh syariat islam.

Bagaimana seorang muslim bisa mengetahui hukum dari suatu amalan tanpa mempelajari syariat islam? Oleh karenanya, mempelajari agama allah, syariat-syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah hal yang sangat penting. Agar ketika seorang muslim melakukan suatu amalan, tidak melakukan amalan yang salah dan diharamkan oleh agama, terlebih lagi melakukan amalan yang dapat mengeluarkannya dari agama islam dikarenakan tidak mengetahui hukum dari amalan yang telah ia lakukan. Allah ta’ala telah memberikan peringatan yang sangat jelas, sebagaimana yang telah tercantum pada firman-Nya :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta(QS. Taha: 124)

Adapun orang yang sudah mempelajari agama Allah namun ia tidak mau beramal dengannya, maka ia termasuk kedalam golongan orang-orang yang dimurkai, sebagaimana firman Allah ta’ala :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ (7)

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (nasrani). (QS. Al-Fatihah :6-7)

Dari sedikit penjelasan diatas sudah jelas, bahwasanya mempelajari agama Allah merupakan salah satu pedoman kita dalam melakukan amalan-amalan sholeh. Barang siapa meninggalkan agama allah, maka sungguh tauhid atau keislamannya telah rusak. Sama halnya dengan orang yang telah mempelajari agama Allah namun ia tidak mau beramal dengannya maka dia termasuk orang-orang yang dimurkai oleh Allah ta’ala.

Pembatal Keislaman IX

Islam memiliki dua pedoman yang harus dipegang teguh dalam menjalankan ibadah, agar ibadah tersebut diterima oleh Allah ta’ala dan dapat dinilai sebagai pahala. Dua hal tersebut adalah alquran dan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ : 59)

Pada ayat diatas telah dijelaskan untuk senantiasa mentaati Allah ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Barangsiapa yang berselisih pendapat dalam suatu perkara, maka kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Definisi dari “taat” yaitu senantiasa tunduk, patuh serta mengikuti apa yang telah diajarkan. Sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk senantiasa patuh dan tunduk serta mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عليكم بسنتي وسنة الخلفاءِ الراشدين المَهديين منْ بعدي ، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ ،وإياكم ومحدثات الأمورِ؛ فإن كل بدعة ضلالة

Wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin sepeninggalku. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At-Tirmidzi No. 2676. Ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).

Barangsiapa yang mengikuti rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia telah berada di jalan yang lurus yang kelak akan membawanya ke surga. Namun barangsiapa tidak mentaati rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ancaman siksa kubur serta adzab pedih yang akan dia dapatkan. Allah ta’ala berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur : 63)

Mengikuti rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah suatu kewajiban. Kewajiban itu adalah hal yang harus dilakukan, maka seorang muslim tidak boleh meyakini adanya sebagian orang yang tidak berkewajiban mengikuti rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfriman :

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

Keadaan Saat Turunnya Wahyu – Ustadz Fathurrahman

Keadaan Saat Turunnya Wahyu merupakan kajian Islam Rutin yang disampaikan oleh: Ustadz Fathurrohman dalam pembahasan AqidahKajian ini disampaikan rutin setelah maghrib setiap hari selasa di Pesantren Al lulu wal Marjan Magelang

Dahsyat dan beratnya peristiwa menerima wahyu ini berbeda-beda. Wahyu yang satu bisa lebih berat dari wahyu lainnya. Al-Harits bin Hisyam radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepadamu?” Rasulullah ﷺ menjawab,

أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلاً فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ

“Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng. Inilah yang terberat bagiku. Dia memberitakan sesuatu dan aku memahami apa yang ia ucapkan. Dan terkadang malaikat datang dalam wujud seorang laki-laki, lalu dia berbicara padaku dan aku paham apa yang diucapkannya.” (HR. al-Bukhari 3043 dan Muslim 2333).

Jadi, tingkat kesulitan penerimaan wahyu itu berbeda-beda. Dan yang paling berat adalah seperti gemerincing lonceng. Aisyah radhiallahu ‘anha paham betul tentang beratnya wahyu itu. ia menuturkan bagaimana keadaan Nabi ﷺ saat turun wahyu di musim dingin.

وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

“Sungguh aku melihat wahyu turun kepada beliau di hari yang sangat dingin namun beliau tidak merasa kedinginan. Bahkan dari dahi beliau mengeluarkan keringat.” (HR. al-Bukhari 2, at-Turmudzi 3634, an-Nasai- 1006, dan Ahmad 26241).

Di ruang ber-AC dengan suhu 200c saja, kita sudah tidak berkeringat. Sedangkan dinginnya Kota Madinah bisa mencapai 100c bahkan lebih rendah lagi. Dalam kodisi seperti itu, Rasulullah ﷺ berkeringat. Terbayang, betapa berat keadaan yang dialami Nabi ﷺ saat menerima wahyu.

Read more https://kisahmuslim.com/5562-keadaan-saat-turunnya-wahyu.html

Simak Video Penjelasan Lengkapnya dibawah ini:

Lihat video kajian lainnya dengan KLIK DISINI


Dapatkan rekaman audio kajian Pesantren Al lulu wal Marjan lainnya, melalui:
Kajian Aqidah | Kajian Tafsir | Kajian Hadits | Kajian Sirah | Kajian Tematik | Khutbah Jum’at

Dapatkan informasi terbaru Pesantren Al lulu wal Marjan melalui Social Media Resmi:
Halaman Facebook | Akun Twitter | Akun Instagram | Channel Youtube

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan hasil rekaman ataupun link kajian yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Mengimani Turunnya Allah ke Langit Dunia – Ustadz Fathurrahman

Mengimani Turunnya Allah ke Langit Dunia merupakan kajian Islam Rutin yang disampaikan oleh: Ustadz Fathurrohman dalam pembahasan AqidahKajian ini disampaikan rutin setelah maghrib setiap hari selasa di Pesantren Al lulu wal Marjan Magelang

Kita harus beriman kepada nama dan sifat yang Allah menamakan dan menyifati diri-Nya di dalam kitab-Nya, melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mengubah, tanpa mempermasalahkan, tanpa mempertanyakan, dan tanpa membuat permisalan. Melakukan perubahan terhadap nash, mempermasalahkan keyakinan, mempertanyakan sifat, dan juga membuat permisalan dalam sifat merupakan hal-hal yang harus kita hindari. Akidah kita harus bersih dari keempat bahaya ini. Manusia harus menahan diri dari mempertanyakan masalah ini dengan “mengapa?” dan “bagaimana?”, yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Jalla wa ‘Ala. Apabila seseorang  menempuh metode ini, maka dia akan istirahat dengan tenang. Demikianlah keadaan para salaf.

Imam Malik bin Anas rahimahullah pernah ditanya, “Wahai Abu Abdullah (kuniah beliau), Allah bersemayam di atas ‘arsy, bagaimana Dia bersemayam?” Imam Malik bin Anas terantuk kepalanya seraya berkata, “Istiwa (bersemayam) itu dipahami maknanya (secara bahasa), bagaimana caranya bersemayam tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan mempertanyakannya adalah bid’ah dan saya tidak melihatmu kecuali pembuat bid’ah.”

Begitu juga orang yang mengatakan bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Pertanyaan ini mengharuskan Allah berada di langit dunia sepanjang malam karena malam itu berputar secara bergiliran di seluruh dunia, dan sepertiga malam terakhir datang bergantian dari satu tempat ke tempat yang lain.

Seandainya masalah ini tidak bisa diterima oleh hati orang mukmin yang berserah diri, tentu Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan. Kami katakan bahwa selama sepertiga malam terakhir itu masih ada, maka Allah akan turun ke langit dunia dan jika sepertiga malam terakhir itu habis, maka Allah pun naik. Kami tidak mengatahui bagaimana turunnya Allah dan tidak memahaminya. Kita ketahui bersama bahwa tidak ada sesuatu yang menyamai Allah, maka kita harus menerima dan mengatakan kami mendengar, kami beriman, kami mengikuti, dan kami menaati. Itulah kewajiban kita.

Kesimpulan: Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam akhir adalah berita yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan. Dan siapa yang yang memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no.1145 dan Muslim, no.758)

Sikap pertengahan dalam menyikapi hadis ini yaitu dengan menerima dan mengimaninya dan tidak mempertanyakan caranya. Dan dua sikap yang berlebihan dalam permasalah ini adalah menolak hadis shahih tersebut dan membuat-buat bagaimana cara Allah turun ke langit dunia.

Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007.  sumber: https://konsultasisyariah.com/10445-allah-turun-ke-langit-dunia.html

Simak Video Penjelasan Lengkapnya dibawah ini:

Lihat video kajian lainnya dengan KLIK DISINI


Dapatkan rekaman audio kajian Pesantren Al lulu wal Marjan lainnya, melalui:
Kajian Aqidah | Kajian Tafsir | Kajian Hadits | Kajian Sirah | Kajian Tematik | Khutbah Jum’at

Dapatkan informasi terbaru Pesantren Al lulu wal Marjan melalui Social Media Resmi:
Halaman Facebook | Akun Twitter | Akun Instagram | Channel Youtube

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan hasil rekaman ataupun link kajian yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Nikmat Allah Kepada Orang Yang Beriman Di Akherat – Ustadz Fathurrahman

Nikmat Allah Kepada Orang Yang Beriman Di Akherat merupakan kajian Islam Rutin yang disampaikan oleh: Ustadz Fathurrohman dalam pembahasan AqidahKajian ini disampaikan rutin setelah maghrib setiap hari selasa di Pesantren Al lulu wal Marjan Magelang

Rasulullahu Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian, sebagaimana kalian melihat bulan pada malam bulan purnama, kalian tidak terhalang (tidak berdesak-desakan) ketika melihat-Nya. Dan jika kalian sanggup untuk tidak dikalahkan (oleh syaithan) untuk melakukan shalat sebelum Matahari terbit (shalat Subuh) dan sebelum terbenamnya (shalat ‘Ashar), maka lakukanlah.”[1]

Kaum Mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di padang Mahsyar, kemudian akan melihat-Nya lagi setelah memasuki Surga, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.[2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat.” [Al-Qiyaamah: 22-23]

Melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan kenikmatan yang paling dicintai bagi penghuni Surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya.” [Yunus: 26]

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menafsirkan lafazh زِيَادَةٌ (tambahan), pada ayat di atas dengan kenikmatan dalam melihat wajah Allah, sebagaimana diriwayatkan:

عَنْ صُهَيْبٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُوْلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيْدُوْنَ شَيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوْا شَيْئاً أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ… وَزَادَ: ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ اْلآيَةَ: لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

Dari Shuhaib Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila ahli Surga telah masuk ke Surga, Allah berkata: ‘Apakah kalian ingin tambahan sesuatu dari-Ku?’ Kata mereka: ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam Surga dan menyelamatkan kami dari api Neraka?’ Lalu Allah membuka hijab-Nya, maka tidak ada pemberian yang paling mereka cintai melainkan melihat wajah Allah Azza wa Jalla. Kemudian Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini: ‘Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya.’” [Yunus: 26][3]

Adapun di dalam kehidupan dunia, maka tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah, sebagaimana firman-Nya:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” [Al-An’aam: 103]

Allah Subhanahu wa Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi Musa Alaihis sallam.

قَالَ لَنْ تَرَانِي

“Kamu sekali-kali tidak dapat melihat-Ku.” [Al-A’raaf: 143]

Demikian juga sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam:

تَعَلَّمُوْا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَ وَ جَلَّ حَتَّى يَمُوْتَ.

“Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang akan bisa melihat Rabb-nya hingga ia meninggal dunia.”[4]

Juga pernyataan ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata:

مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللهِ الْفِرْيَةَ.

“Barangsiapa menyangka bahwasanya Muhammadٍ Shallallahu’alaihi wa sallam melihat Rabb-nya, maka orang itu telah melakukan kebohongan yang besar atas Nama Allah.” [5]

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak akan bisa melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala selama-lamanya, begitu juga di akhirat nanti, sebagaimana firman-Nya:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” [Al-Mu-thaffifin: 15]

Ayat ini dijadikan dalil oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan lainnya bahwa ahli Surga akan melihat wajah Alla Azza wa jalla. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

فَلَمَّا أَنْ حُجِبُوْا هؤُلاَءِ فِي السَّخَطِ كَانَ فِي هَذَا دَلِيْلٌ عَلَى أَنَّهُمْ يَرَوْنَهُ فِي الرِّضَا.

“Tatkala Allah menghijab (menghalangi) orang kafir dari melihat Allah dalam keadaan murka, maka ayat ini sebagai dalil bahwa wali-wali Allah (kaum Mukminin) akan melihat Allah dalam keadaan ridha.”[6]

Imam Ahmad rahiamhullah pernah ditanya tentang ru’-yatullaah (melihat Allah pada hari Kiamat), maka beliau rahiamhullah menjawab:

أَحَادِيْثُ صِحَاحٌ نُؤْمِنُ بِهَا وَنُقِرُّ وَكُلَّمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَسَانِيْدَ جَيِّدَةٍ نُؤْمِنُ بِهِ وَنُقِرُّ.

“Hadits-haditsnya shahih, kita mengimani dan mengakuinya, dan setiap hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan sanad yang shahih, kita mengimani dan mengakuinya.” [7] [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M] _______
Footnote
[1]. HR. Al-Bukhari (no. 554) dan Muslim (no. 633 (211)), dari Sahabat Jarir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu. Lafazh تُضَامُوْنَ bermakna tidak terhalang oleh awan, bisa juga dengan lafazh تُضَامُّوْنَ yang bermakna tidak berdesak-desakan. Lihat Fat-hul Baari (II/33).
[2]. Lihat Syarah Lum’atul I’tiqaad (hal. 87), oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.
[3]. HR. Muslim (no. 181), at-Tirmidzi (no. 2552 dan 3105), Ibnu Majah (no. 187), Ahmad (IV/332-333), Ibnu Abi ‘Ashim (no. 472), dari Shuhaib Radhiyallahu anhu dan ini adalah lafazh Muslim.
[4]. HR. Muslim (no. 2930 (95)), Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 2044), dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma.
[5]. HR. Muslim (no. 177 (287)). Lihat juga masalah ini dalam Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal 188-198) takhrij Syaikh al-Albani, dan Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (VI/509-512).
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan hati-nya. Pendapat ini berdasarkan riwayat dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma.
[6]. Lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (III/560, no. 883), Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 191), takhrij Syaikh al-Albani, dan Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (VI/499).
[7]. Lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (III/562 no. 889).

Simak Video Penjelasan Lengkapnya dibawah ini:

Lihat video kajian lainnya dengan KLIK DISINI


Dapatkan rekaman audio kajian Pesantren Al lulu wal Marjan lainnya, melalui:
Kajian Aqidah | Kajian Tafsir | Kajian Hadits | Kajian Sirah | Kajian Tematik | Khutbah Jum’at

Dapatkan informasi terbaru Pesantren Al lulu wal Marjan melalui Social Media Resmi:
Halaman Facebook | Akun Twitter | Akun Instagram | Channel Youtube

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan hasil rekaman ataupun link kajian yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.