
Urgensi Menutup Aib Orang Lain
Urgensi Menutup Aib Orang Lain
16 Januari 2026
Ustadz Ichsanuddin
Berhentilah dari mencari dan menceritakan kesalahan serta aib saudara, Allah ta’ala telah berpesan dan melarang akan hal ini. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
”Wahai orang-orang yang beriman, Jauhi oleh kalian berperasangka buruk. Karena sebagian dari perasangka buruk adalah sebuah dosa, Jangan kau mencari-cari kesalahan orang lain, Janganlah seseorang menggibai Membicarakan aib saudaranya satu sama lain. Manakala salah seorang diantara kalian. Sedangkan kalian membenci akan hal itu, Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al Hujurat 12)
Berhenti mencari dan mencerca, menceritakan aib dan kesalahan saudaramu, karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidhi. Beliau pernah menaiki sebuah mimbar, kemudian beliau berteriak dengan suara yang keras:
”Wahai orang-orang yang telah berislam, mengaku dirinya islam akan tetapi keimanan belum masuk ke dalam relum hati kalian, jangan sekali-kali kalian melukai, mengganggu kaum muslimin, jangan engkau sebut aib mereka, jangan sekali-kali engkau cari-cari kesalahan mereka, karena siapa yang berani mencari, menyebut-nyebut kesalahan saudaranya. Allah akan cari kesalahan-kesalahan dia, dan Allah akan buka segalanya, sampaipun aib yang ada di tengah rumah mereka” (HR. At Tirmizi)
Sebagaimana dalam hadits Tirmizi yang disebutkan di atas, untuknya dua kemuliaan, untuknya dua balasan terbaik bagi Anda. Bagi kita yang bisa merealisasikan pesan Allah dan Rasul-Nya, tahan dari membicarakan aib orang lain, tahan dari membicarakan kesalahan saudara kita, tahan dari mencari kesalahan saudara kita, bagi Anda dua janji.
Yang pertama. Sebagaimana termuat di dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjanjikan untuk kita, jika kita mau menahan diri dari mencari dan menyebut kesalahan orang.
”Siapa yang menutup kesalahan seorang mu’min. Maka Allah akan tutup aib dan kesalahannya di dunia dan di akhirat”.
Bayangkan, kita termasuk orang yang nanti didekatkan oleh Allah ta’ala di balik sebuah tabir, ditanya oleh Allah ta’ala. Taukah kamu dosa ini? dosa itu? dan kita mengakui dosa tersebut, kemudian Allah ta’ala mengatakan,:
”Semua dosamu tersebut sudah aku tutup dulu di dunia. Dan saat ini aku ampuni dosa tersebut”
Ini juga akan diraih untuk mereka yang mau berusaha untuk menjauh dari mendengar dan mengorek kesalahan sesama muslim.
Kebaikan yang kedua, sebagaimana di dalam riwayat Al-Bazzar. Dengan sanad yang Hasan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
”Akan mendapat surga. Atau akan mendapatkan pohon yang sangat besar di surga”
Atau dengan penafsiran lain disebutkan oleh Imam Al-Bukhari, yaitu akan mendapatkan balasan terbaik. Siapa mereka? Untuk mereka yang tersibukkan, melihat kepada aibnya sendiri dan kesalahannya sendiri dan berusaha melupakan kesalahan manusia, kesalahan saudaranya.
Untuk mereka yang tidak mau taat kepada Allah dalam masalah ini, tidak menjalankan pesan Nabi untuk menjadi pribadi yang menahan diri dari mengungkit, dari menyebut kesalahan orang lain, ketauhilah tatkala Anda, tatkala kita membeberkan kesalahan orang, itu sama halnya kita sedang mengotori masyarakat Muslim. Tatkala beralih sebuah kabar dosa dikonsumsi oleh masyarakat, maka secara tidak langsung keburukan dosa itu menyebar di tengah-tengah masyarakat, dan Allah pernah mengancam akan hal ini.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلْفَٰحِشَةُ فِى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلَْاخِرَةِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
”Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui”
(QS. An Nur 19)
Sesungguhnya orang-orang yang suka tersebar niat keburukan di tengah-tengah masyarakat Muslim sesungguhnya atas mereka adab yang pedih dari Allah ta’ala di dunia dan di akhirat untuk mereka. Untuk kita yang tidak mengindahkan pesan Allah ta’ala dan Rasul-Nya jelas ancaman yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, dengan lantang beliau menyebutkan dalam hadist Bukhari:
”Siapa yang mencari-cari kesalahan orang. Maka Allah akan cari kesalahan dia dan siapa yang Allah cari kesalahannya, Allah akan ungkap meskipun aib dan kesalahan itu ada di tengah-tengah rumah mereka”
Keadaan bolehnya kita menyebutkan kesalahan orang ataupun aib orang lain sebagaimana disebutkan oleh Imam Yahya bin Sharaf al-Nawawi rahimahullahu ta’ala dalam sahihnya, untuk kitab sahih Muslim.
Ada enam pengecualian. Bolehnya kita menyebutkan kesalahan orang, bolehnya kita menggibahi orang lain, di antaranya adalah:
Yang pertama ketika kita hendak melaporkan sebuah kedoliman, menuntut sebuah keadaan, melaporkan kepada seorang hakim, seorang pemimpin akan kedholiman orang lain kepada kita, maka ini diperbolehkan.
Yang kedua yaitu ketika kita hendak mengupayakan untuk merubah kemungkaran, tidak bisa merubahnya dengan sendiri, kita datang kepada orang yang kita yakini bisa merubahnya, kita sebutkan kesalahan tersebut ,maka ini hal yang dibolehkah bahkan ini termasuk dari bagian Amar Ma’ruf nahi Mungkar
Yang ketiga adalah ketika meminta istifta (meminta fatwa), sehingga seorang mengatakan kepada seorang mufti, seorang bertanya kepada seorang sheikh kepada seorang ulama untuk dijelaskan sebuah hukum ”Si fulan telah mendolimiku demikian. Bapakku telah melakukan demikian apakah itu dibolehkan?”
Yang keempat yaitu kecaman yang keras untuk menjauhkan kaum muslimin dari keburukan dan sebagai nasihat. Tatkala ada orang yang jahat, manusia tidak mengetahui kalau itu adalah orang yang jahat, maka diberitahukan jangan dekat-dekat kepada orang tersebut, maka ini juga bagian daripada nasihat.
Yang kelima, boleh kita sebutkan aib ataupun kesalahan orang, tatkala orang tersebut terang-terangan dalam melakukan bid’ah atau kefasikan dia terang-terangan, maka orang yang terang-terangan melakukan dosa tidak ada kehormatan yang wajib untuk kita jaga.
Dan yang terakhir adalah dita’rif (identifikasi). Tatkala memang untuk sebagai ta’rif tidak bisa kita menyebutkan sesuatu secara real kecuali harus menyebutkan sebuah aib sebagai alamat, maka ini juga diperbolehkan.
Semoga Allah ta’ala menjadikan kita seorang muslim yang benar-benar muslim secara kafah, masuk keimanan ke dalam hati kita, sehingga kita bisa menjaga lisan kita dari membicarakan aib orang lain. Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita, baarakallahu fiikum.