
Al-Qur’an dan Sunnah Adalah Sumber Agama
Al-Qur’an dan Sunnah Adalah Sumber Agama
23 Agustus 2024
Ustadz Dhiyaul Abrar
Agama islam adalah agama yang sempurna. Allah ta’ala menurunkan agama islam sebagai kemuliaan bagi para pemeluknya. Allah ta’ala mengutus rasul-Nya, mengajak para manusia menuju jalan kebahagiaan. Allah ta’ala menurunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam Al-Qur’an dan wahyu berupa hadis-hadis. Allah bekali para manusia dengan hati dan hati Nurani, Allah ciptakan di dalam tubuh manusia ada hati (akal) supaya manusia bisa mentadaburi Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman:
اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا
“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?”
(QS. Muhammad: 24)
Sungguh sejatinya semua manusia menginginkan kehidupan bahagia, maka kebahagiaan itu bisa diraih oleh seorang hamba dengan senantiasa mengikuti Al-Qur’an dan sunnah nabi shallallahu alaihi wasallam. Ketika seorang manusia berpedoman di dalam hidupnya berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunah Nabi, maka Allah ta’ala akan menjaga dirinya dan akan menganugerahkan kepadanya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda;
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”
(HR. Malik)
Maka barang siapa yang dia mempelajari Al-Qur’an dan sunnah nabi, Allah akan memuliakan dirinya di dunia dan akhirat. Sebaliknya barang siapa yang berpaling dari Al-Qur’an dan sunnah nabi, maka Allah tidak akan segan untuk menghinakan dirinya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang dia ingin keselamatan, maka wajib baginya untuk senantiasa meniti jalan Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan, maka dia tidak mungkin untuk berlepas diri dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi dengan pemahaman generasi terbaik umat islam ini, mereka para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Ketika kita ingin berpegang teguh meniti jalan Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka diperlukan upaya dan daya yang tidak kecil, diperlukan kekuatan iman, diperlukan ketakwaan, diperlukan untuk membersihkan jiwa serta hati dari penyakit-penyakit seperti angkuh, sombong, cinta kepada dunia dan penyakit-penyakit hati yang lainnya.
Allah ta’ala menceritakan bagaimana mereka orang-orang munafik yang di dalam hatinya terdapat penyakit. Allah ta’ala berkisah tentang mereka orang-orang munafik,
وَاِذَا مَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ اَيُّكُمْ زَادَتْهُ هٰذِهٖٓ اِيْمَانًاۚ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَزَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira”
وَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا اِلٰى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوْا وَهُمْ كٰفِرُوْنَ
“Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan surah itu) akan menambah kekafiran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir” (QS. At-Taubah 124-125)
Maka seorang yang ingin bahagia dengan mengikuti Al-Qur’an dan sunnah, mereka harus senantiasa membersihkan hatinya dari penyakit-penyakit hati. Karena penyakit hati bisa menghalangi seseorang untuk mendapatkan hidayah. Lihatlah bagaimana Fir’aun, dia enggan beriman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, padahal ia meyakini bahwasanya apa yang dibawa Nabi Musa ‘alaihissalam adalah sebuah kebenaran. Allah ta’ala berfirman:
وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَآ اَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّاۗ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ ࣖ
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. An-Naml 14)
Sebaliknya orang-orang beriman hati mereka lembut. Ketika mereka diingatkan dengan ayat-ayat Allah, hatinya bergetar takut kepada Allah. Allah ta’ala menjelaskan, mereka yang memiliki penyakit di hatinya mereka tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal mereka mengetahui betul bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus.
Allah ta’ala berfirman:
اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْ ۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui(nya)” (QS. Al-Baqarah: 146)
Mengapa mereka tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Karena penyakit hati hasad, iri, dengki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang mukmin, sehingga hal tersebut menjauhkan diri mereka dari hidayah yang Allah ta’ala berikan kepada mereka.
Ketika kita mengetahui bahwasanya seorang muslim harus berpedoman dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka jangan pernah lupa untuk meminta tolong kepada Allah agar Allah memudahkan kita untuk senantiasa meniti jalan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mengajarkan kepada kita sebuah doa “Ya Allah, perbaikilah agamaku yang mana agamaku merupakan pegangan di dalam hidupku”.
Maka mintalah kepada Allah ta’ala agar Allah memperbaiki agama kita, agar Allah memudahkan kita untuk senantiasa mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallalhu ‘alaihi wasallam. Sehingga islam kita menjadi islam yang berkualitas, bukan hanya sekedar islam KTP, tapi kita sebagai mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah dan rasul-Nya, sehingga kelak Allah akan memudahkan jalan kita di akhirat. Sedangkan seoang yang paling lemah adalah mereka orang-orang yang tidak mampu untuk meminta, mengangkat tangannya berdo’a kepada Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ
“Manusia yang paling lemah adalah mereka orang-orang yang tidak mampu untuk berdo’a memohon kepada Allah ta’ala” (HR. Abu Ya’lâ, ath-Thabrâni, Ibnu Hibbân dan ‘Abdul Ghani al-Maqdisi)
Semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk senantiasa meniti dan mengikuti, berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu anhum ajma’in. Aamiin.
Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakallahu fiikum.