Artikel IslamUstadz Ihsanuddin

Faedah Dari Sebuah Cerita – Ustadz Ichsanudin

Ringkasan Nasihat Thabur Shabahiy/Apel Pagi
Senin, 11 Januari 2021 M/27 Jumadal Ula 1442 H
Oleh: Ustadz Ichsanuddin

Di awal pembukaan apel pagi pada semester genap ini, Ustadz Ichsanuddin menjelaskan faedah dari sebuah cerita:

  1. Cerita atau kisah merupakan salah satu metode yang Allah gunakan untuk menjelaskan berbagai macam contoh kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

لقد كان في قصصهم عبرة لأولي الألباب
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)

  1. Cerita atau kisah bukan sekedar hiburan semata. Seorang muslim harus mengambil faedah kebaikan yang berasal dari generasi terdahulu yang shalih.
  2. Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah pernah mengatakan:

الحكايات جند من جنود الله يثبت الله بها قلوب أولياءه
“Cerita bisa jadi pasukan dari pasukannya Allah Ta’ala yang akan menguatkan jiwa dan semangat wali-wali Allah”

  1. Orang yang cerdas akan mengambil pelajaran dari kisah-kisah orang terdahulu yang pernah ada.

Selepas itu, beliau memotivasi para santri dengan menceritakan beberapa kisah generasi emas ulama atau tokoh salaf dalam menuntut ilmu, diantaranya:

  1. Imam An Nawawirahimahullah
    Imam Yahya bin Syaraf An Nawawi rahimahullah sangatlah luar biasa. Beliau hanya berumur 45 tahun, akan tetapi beliau telah menulis lebih dari 20 jilid kitab. Beliau juga menghadiri 12 majelis setiap hari.
  1. Imam Abdullah bin Nafi’ rahimahullah duduk bermajelis bersama Imam Malik t selama 35 tahun.
  2. Na’im Al Mujmir rahimahullah bermulazamah bersama Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu selama kurang lebih 20 tahun.
  3. Imam Al Muzani rahimahullah membaca Kitab Ar Risalah milik Imam Asy Syafi’i rahimahullah sebanyak 50 kali.
  4. Abdullah bin Muhammad rahimahullah membaca Kitab Al Mughni 23 kali.
  5. Ibnu Qudamah rahimahullah mencatat ulang Tafsir Al Baghawi, Kitab Al Mughni, Kitab Al Hilyah.

هؤلاء الرجال همتهم كالجبال
“Mereka adalah lelaki sejati. Semangat mereka seperti Gunung Merapi”

Mengapa mereka semangat seperti itu? Apa yang mereka kejar?
Tiga Keutamaan yang dikejar oleh para ulama:

  1. Mendapatkan kedudukan tinggi di hadapan allah
    Bukan hanya di hadapan manusia. Kedudukan itu mereka dapatkan di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat. Di dunia rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

يؤم القوم أقرأهم لكتاب الله
“Hendaknya yang menjadi imam pada suatu kaum yang paling banyak hafalan qur’annya.” (HR. An Nasa’i dan Ibnu Majah)

Di dunia mereka dimuliakan dengan menjadi imam bagi manusia. Di alam barzakh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan orang yang yang lebih banyak hafalannya untuk di masukkan ke dalam kubur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh sahabat:

“Wahai rasulullah, mana yang lebih didahulukan untuk dimasukkan ke dalam kubur? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
أكثرهم أخذا لكتاب الله
“Dahulukan, yang paling pintar, yang paling banyak hafalannya, yang paling banyak amalannya dengan al qur’an.”

Di akhirat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

يقال لصاحب القرآن : اقرأ وارتق ورتل كما كنت ترتل في الدنيا، فإن منزلتك عند آخر آية تقرأ بها
“Kelak akan dikatakan kepada ahli al qur’an : Bacalah dan naiklah, kemudian bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membacanya di dunia. Karena sungguh tempatmu ada pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

  1. Mudah Masuk Surga
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة
“Barangsiapa meniti jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Ahmad)

Bagaimana tidak mudah untuk masuk surga, mereka menuntut ilmu kemudian hasil dari ilmu yang mereka pelajari mereka ajarkan kepada orang lain. Hingga meninggal dunia pun, pahala mereka akan terus mengalir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam   bersabda:

إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلا من ثلاثة : إلا من صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له
“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali 3 perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim)

Mereka sudah dikubur, akan tetapi mereka tetap mendapat aliran pahala, karena kebaikan yang telah mereka ajarkan. Bagaimana tidak mudah masuk surga, sedangkan ketika mereka keluar dari rumah untuk menuntut ilmu, mereka dalam keadaan berjihad. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من خرج في طلب العلم كان في سبيل الله حتى يرجع
“Barangsiapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR. Tirmidzi)

Dan bagaimana mungkin mereka tidak dimudahkan ke surga, yang memintakan ampun akan dosa-dosa bukan hanya mereka, melainkan seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi memintakan ampun untuk mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن طالب العلم يستغفر له من في السماء والأرض حتى الحيتان في الماء
“Seorang penuntut ilmu, akan dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi bahkan ikan yang ada di air.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Satu-satunya Perintah untuk Meminta Tambahan
    Allah Ta’ala berfirman :

وقل رب زدني علما
“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”

Tiga keutamaan ini hanya didapat oleh orang yang ikhlas. Kata ulama rahimahumullah:

طلب العلم لا يعدله شيء لمن صحت نيته
“Ilmu itu tidak ada tandingannya (hanya bagi orang yang niat-Nya ikhlas).”

Allah telah menyiapkan ancaman yang sangat dahsyat bagi yang tidak ikhlas dalam menuntut ilmu. Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:

“Engkau dusta, engkau menuntut ilmu agar dikatakan ‘alim, dan itu sudah engkau dapatkan di dunia. Lalu ia diseret kemudian dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)


Sebelum beliau tutup, beliau mengingatkan santri-santri untuk senantiasa bersyukur atas nikmat menuntut ilmu.

“Nak, ustadz yakin setiap antum ketika berangkat ke pesantren sudah dibekali oleh orang tua. Kaum salaf dahulu, orang tuanya juga berjuang agar anaknya bisa belajar. Bahkan, Ayahanda dari Hisyam bin ‘Amir menjual rumahnya seharga 20 dinar sebagai bekal agar beliau dapat menuntut ilmu dan berhaji.”

“Nak, uang yang orang tua antum keluarkan di pesantren ini dalam rangka agar antum bisa belajar dengan baik di pesantren ini. Mereka telah bekerja keras, banting tulang, tenaga dihabiskan agar antum bisa belajar sebagaimana para salaf terdahulu. Jadilah hamba Allah yang bersyukur. Awali dengan pembuktian antum dengan belajar dengan bersungguh-sungguh.”

Demikian ringkasan ini kami tulis, semoga bermanfaat.
Jazaakumullahu khairan wa baarakallahu fiikum.

Magelang, 14 Januari 2021

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
Close
Close