
Aqidah Yang Kokoh Jati Diri Kita
Aqidah Yang Kokoh Jati Diri Kita
27 Desember 2024
Ustadz Ichsanuddin
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membawakan sebuah perumpamaan yang sangat indah untuk pribadi seorang muslim ataupun mukmin. Ternyata perumpamaan inipun Allah ta’ala sebutkan di dalam kitab-Nya untuk memotivasi kita semua agar berhias diri menjadi pribadi muslim sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di dalam sebuah hadis yang shahih Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau pernah bercerita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya ada diantara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang menerka-nerka pepohonan Wadhi. Berkata Abdullah,“Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon Kurma, namun aku malu mengungkapkannya.” Kemudian mereka berkata,“Wahai Rasulullah, beritahulah kami pohon apa itu?” Lalu beliau menjawab,“Ia adalah pohon Kurma.”
HR. Bukhari dan Muslim
Allah ta’ala berfirman menggambarkan kalimat thoyyibah, kalimat keimanan, kalimat kebaikan,
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ
“Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,”
تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ
“(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya” (QS. Ibrahim 24-25)
Seorang muslim sejati manakala mendapatkan dalam Al-Qur’an dan hadis permisalan, maka orang muslim yang jujur dia akan berusaha mempelajari apa gerangan pelajaran yang dapat diambil di balik permisalan tersebut. Imam Qatadah rahimahullahu berpesan kepada kita “berusahalah pahami perumpamaan yang telah Allah ta’ala bawakan”.
Di saat di luar sana banyak di antara kaum muslimin yang kehilangan jati dirinya, terombang-ambing dengan keadaan dan kemajuan zaman, tidak bisa tetap, tidak mau peduli, tidak mau perhatian dengan keimanannya, maka seorang muslim memiliki karakter khusus. Seorang mulim memiliki akidah yang kokoh (kuat) dan mau perhatian terhadap akidah yang tertanam di dalam hatinya.
Disebutkan banyak pelajaran oleh beliau syaikh Abdul Rozaq bin Abdil Muhsin Al Abad Al Badr hafidzahullahu dalam kitab beliau “Pelajaran tentang permisalan seorang muslim layaknya seperti pohon kurma”. Banyak pelajaran yang beliau sebut, perkenankan kita mengambil 3 di antara pelajaran tersebut. Permisalan yang pertama layaknya seorang pohon, iman yang ada di hati setiap muslim tidak lepas dari 3 hal pokok penting layaknya pohon tidak lepas dari 3 hal ini.
Sesungguhnya pohon kurma tidak berdiri tanpa adanya tiga hal (akar yang kuat, batang yang kokoh, dedaunan rimbun beserta buah yang bermanfaat untuk orang lain). Maka begitu pula iman, iman kita tidak lepas dari keyakinan yang kuat di dalam hati, ikrar dengan lisan dan amal perbuatan yang kita praktekkan dalam keseharian wujud dari pengamalan keyakinan di dalam hati. Para ulama mengatakan “Iman itu keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan amalan dengan anggota badan”.
Permisalan yang ke-2, pohon kurma itu merupakan pohon yang kuat menancap, tidak mudah roboh dan tidak mudah rontok dedaunannya dengan adanya angin, tapi dia kuat layaknya seorang muslim. Allah ta’ala berfirman:
اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ
“akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,” (QS. Ibrahim 24)
Yakin dengan keyakinan islam, tidak toleh kanan, toleh kiri, tertarik dengan ajaran yang lainnya. Bahkan syi’ar mereka adalah perkataan yang dahulu diucapkan oleh Umar Ibn Khattab radhiyallahu ‘anhu “Kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan islam, baik dengan akidahnya, ibadahnya, akhlaknya. Setiap kita mulai mencari ajaran lain untuk mendapatkan kemuliaan selain islam, Allah akan menghinakan kita”.
Lihatlah bagaimana kuatnya para ulama di hadapan setiap syubhat, setiap pemikiran akidah yang rancu bahkan tatkala diajak berdebatpun. Suatu ketika Imam Malik rahimahullah ditantang untuk memperdebatkan keyakinan yang beliau yakini, maka jawaban beliau “pergilah menuju orang-orang yang ragu seperti engkau. Adapun aku, aku telah yakin dengan keterangan jelas yang Allah ta’ala bawakan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah”. Begitulah hendaknya kita menjadi seorang muslim, kuatkan akidah serta terus belajar dan belajar sampai kepada titik di mana Allah ta’ala mewafatkan kita.
Bentuk permisalan yang ke-3, seorang muslim yang akidahnya kokoh akan membuahkan manfaat untuk orang lain, terlihat indah dari ibadahnya, santun dari akhlaknya, seperti yang Allah ta’ala firmankan:
تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ
“(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya” (QS Ibrahim 25)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan “Permisalan seorang mukmin adalah bagaikan pohon kurma. Bagian manapun yang kau ambil, maka akan bermanfaat untukmu”.
Begitupula manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad)
Mengapa dia bisa bermanfaat? Karena akidah yang kokoh, menuntun dia untuk memberikan yang terbaik untuk orang lain dan menuntut dia untuk memburu kenikmatan surga.
Semoga Allah ta’ala menjadikan kita orang-orang yang bisa berusaha menyempurnakan keislaman dan keimanan sehingga terwujud pada diri kita sebuah permisalan sebuah pohon yang indah, sebagaimana Allah ta’ala dan Rasul-Nya permisalkan.
Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakallahu fiikum.