
Bersegera Kembali Kepada Allah
Bersegera Kembali Kepada Allah
Khutbah Jum’at, 04 Agustus 2023
Ustadz Muhammad Wujud Arba’in
Ketahuilah bahwa yang harus kita yakini dari seluruh para hamba-hamba Allah ta’ala, adalah hanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diampunkan darinya dosa-dosa yang lalu dan yang akan datang. Adapun selainnya, para sahabat nabi radhiyallahu ‘anhum, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan seluruh para pengikut nabi, tidaklah ada di antara mereka yang memiliki sifat diampunkan darinya dosa-dosa yang lalu dan yang akan datang.
Dan di antara kasih sayang yang diberikan oleh Allah ta’ala kepada kita para hambanya adalah agar dosa kemaksiatan, kemungkaran yang kita lakukan diampunkan oleh Allah ta’ala maka diberikan kita jalan keluarnya. Jalan keluar itu sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sebuah hadist.
Dari Mu’adz Ibn Jabal radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan nasihat ini kepada Mu’adz sebagaimana menyampaikan nasihat ini kepada Abu Dzar Al-Ghifari. Satu di antara nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah “hendaklah engkau menempel erat (menyertakan) dari sekalian kemungkaran, kesalahan, dosa yang kau lakukan dengan amal-amal sholeh” (HR. Tirmizi).
Mari kita ingat agar setiap kita selalu bertaubat dan beristighfar kepada Allah. Panutan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang yang telah diampunkan dosanya oleh Allah yang lalu dan yang akan datang, dengan kebaikan yang beliau miliki, beliau tetap bertaubat dan beristighfar kepada Allah ta’ala setiap harinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Dan siapa di antara kita yang tidak berdosa? yang tidak bermaksiat? Dan siapa di antara kita yang bertaubat dan beristighfar melebihi apa yang dilakukan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?
Adalah beda, antara mereka para sahabat rasulullah radhiyallahu ‘anhum dengan kaum muslimin pada hari ini dan jaman ini. Ketika salah seorang kita jatuh ke dalam maksiat, tidak segera bertaubat dan beristighfar dari apa yang kita lakukan, bahkan terkadang kita merasa bangga dengan dosa yang kita lakukan, naudzubillahi mindzalik .
Sementara mereka para murid rasulullah radhiyallahu ‘anhum ketika terjatuh dalam dosa, dosa itu tidak terlihat oleh siapapun kecuali oleh dzat yang ada di atas langit. Rasa mereka gundah, takut mereka sedemikian dahsyat, maka mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan melaporkan apa yang terjadi padanya, melaporkan akan kemaksiatan yang dilakukannya, bahkan dalam perkara yang jika dia laporkan bisa jadi lepasnya nyawa mereka dari jasadnya.
Sebagaimana yang terjadi pada seorang sahabat yang bernama Mais bin Malik Al-Aslami, beliau terjatuh pada perbuatan zina dan tidak ada orang yang menyaksikan perzinaannya. Sebagaimana yang terjadi pada seorang sahabiyat yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun menyampaikan kepada Rasulullah akan perbuatan zina yang dilakukannya dan masing-masingnya tidak ada mata yang melihat. Akan tetapi karena rasa takutnya mereka kepada dosa, menjadi sebab tidak nyamannya para sahabat tersebut untuk menyimpan kemaksiatan yang dilakukannya. Masing-masingnya mendatangi rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya mengucapkan “Yaa Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina, sucikan aku yaa Rasulullah”. Padahal keduanya telah menikah dan sangat mengetahui bahwa akibat dari perbuatan zinanya adalah rajam. Beliau juga mengetahui bahwa akibat dari perbuatannya tersebut adalah lepasnya nyawa dari jasad mereka, akan tetapi mereka lebih mengutamakan hukuman itu daripada mereka harus membawa dosa dengan sekalian perasaan yang sangat berat di sisi Allah ta’ala kelak.
Bilal bin Sa’ad rahimahullahu menasihatkan kepada kita terhadap dosa-dosa yang telah kita lakukan, “jangan engkau melihat kecil besar dosa yang engkau lakukan, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitab az-Zuhd, hlm. 24 no. 71). Andai masing-masing pribadi kita memiliki sikap yang sama sebagaimana nasihat di atas, niscaya kita tidak perlu ada yang mengawasi karena yang mengawasi kita cukuplah Allah ta’ala
Demikian ringkasan khutbah ini kami sampaikan, semoga dapat memberikan manfaat dan barakah bagi yang membacanya.