Artikel IslamArtikel Pilihan

Pembatal Keislaman II

Pembatal tauhid atau keislaman yang kedua adalah bertawasul kepada selain Allah atau dapat juga diartikan dengan menjadikan perantara-perantara antara dirinya dan Allah ta’ala dalam berdoa, meminta syafaat dan bertawakal. Sebelumnya, mari kita pahami terlebih dahulu tentang tawasul.

PENGERTIAN TAWASUL

Tawasul adalah menjadikan sarana atau perantara (wasilah) agar doa dan amal ibadah kita dapat diterima dan dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebagaimana tercantum dalama firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al Maidah : 35).

Dalam menjadikan sesuatu sebagai wasilah seorang muslim harus sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah ta’ala dan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Barangsiapa yang menjadikan wasilah di luar apa yang diperintahkan dan diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka dia bisa melakukan hal yang termasuk dalam kebid’ahan (tidak terdapat tuntunannya dalam islam) atau bahkan juga hal yang termasuk dalam kesyirikan. Sehingga hal ini dapat merusak tauhid yang ada di dalam diri kita.

Tawasul terbagi menjadi tiga, dimana setiap pembagiannya memiliki bagian masing masing :

TAWASUL SUNNAH

Tawasul sunnah adalah tawasul yang sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah ta’ala dan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Pada tawasul sunnah ini juga memiliki beberapa poin :

Bertawasul Dengan Asmaul Husna

Ketika seorang hamba berdoa dia dapat menjadikan Asmaul husna sebagai wasilah agar do’anya dapat diterima dan dikabulkan oleh Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman :

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’raf : 180)

Dalam hal ini, ketika seorang muslim menjadikan asmaul husna sebagai wasilah dalam doanya harus sesuai dengan hajat yang ia doakan.

Bertawasul Dengan Sifat-Sifat Allah Ta’ala.

Sama halnya dengan asmaul husna, seorang muslim juga dapat menjadikan sifat-sifat Allah sebagai wasilah. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau memanjatkan doa.

“ Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, Hanya dengan Rahmat-Mu lah aku beristighatsah, luruskanlah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walaupun sekejap mata.” (HR. An-Nasa’i, Al-Bazzar dan Al- Hakim)

Bertawasul Dengan Amal Shalih

Seorang muslim juga dapat berwasilah dengan amal sholeh yang pernah mereka lakukan, hal ini sebagaimana yang telah tercantum dalam kitab shahih Muslim, pada sebuah riwayat yang mengkisahkan tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Lalu masing-masing bertawasul dengan amal shalih mereka. Orang pertama bertawassul dengan amal shalihnya berupa memelihara hak buruh. Orang kedua bertawasul dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Sedangkan orang ketiga bertawasul dengan takutnya kepada Allah ta’ala, sehingga meninggalkan perbuatan keji yang hendak dia lakukan. Akhirnya Allah Ta’ala membukakan pintu gua itu dari batu besar yang menghalanginya, hingga mereka bertiga pun akhirnya selamat (HR. Muslim 7125).

Bertawasul Dengan Meminta Doa Kepada Orang Shalih Yang Masih Hidup.

Seseorang juga boleh berwasilah dengan cara meminta agar didoakan kepada orang shalih bukan bertawasul dengan nama atau dzatnya. Orang sholih juga yang dimaksud adalah orang shalih yang masih hidup, bukan orang shalih yang sudah meninggal. Sebagaimana kisah yang tercantum dalam kitab shahih Bukhari.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah pada hari jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki mendatangi beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, hujan sudah lama tidak turun, berdoalah kepada Allah agar menurunkan hujan buat kita.” Maka beliau pun berdoa hingga hujan pun turun, dan hampir-hampir kami tidak bisa pulang ke rumah kami. Dan hujan terus turun hingga hari Jum’at berikutnya.” Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Laki-laki itu atau lelaki lain berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar hujan segera dialihkan dari kami.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa : “Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahyakan kami.” Anas bin Malik berkata, “Sungguh aku melihat awan berpencar ke kanan dan kiri, lalu hujan turun namun tidak menghujani penduduk Madinah.” (HR. Bukhari dan muslim)

Pada kisah diatas dijelaskan bahwa orang yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta untuk dido’akan agar turun hujan, bukan berdo’a dengan mengatasnamakan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Barangsiapa bertawasul dengan dzat atau nama seseorang maka dia telah bertawasul dengan tawasul yang bid’ah.

TAWASUL BID’AH

Bertawasul Atas Kedudukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Atau Dengan Selain Beliau.

Bertawasul atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diperbolehkan adalah dengan meminta untuk didoakan, bukan dengan menyandarkan atau mengatasnamakan kedudukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bertawasul Dengan Menyebutkan Nama Atau Kemuliaan Orang Shalih Ketika Berdoa

Bertawasul dengan menyebutkan nama atau kemuliaan orang yang shalih termasuk dalam bertawasul yang bid’ah, bahkan hal ini dapat menuju kepada kesyirikan yang akan merusak tauhid seorang muslim. Sebagai contoh seorang yang bertawasul dengan menyebutkan nama atau kemuliaan orang yang shalih adalah dengan menyebutkan nama salah seorang wali yang ada di indonesia untuk meminta ampunan kepada Allah ta’ala, maka hal yang seperti ini termasuk bertawasul yang bid’ah.

TAWASUL SYIRIK

Jenis tawasul yang ketiga merupakan jenis tawasul yang akan merusak tauhid seorang muslim, karena jenis tawasul ini sudah merupakan perbuatan kesyirikan dengan menyekutukan Allah terhadap makhlukNya, yaitu dengan melakukan peribadahan atau ritual tertentu di kuburan orang sholeh sebagai bentuk wasilah mereka dalam berdoa atau meminta untuk hajat mereka, maka hal ini sudah termasuk kesyirikan dan akan merusak atau membatalkan tauhid seorang muslim.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Close