Hakikat Kesombongan - pesantrenluluwalmarjan.org
Artikel IslamKhutbah Jumat

Hakikat Kesombongan

Hakikat Kesombongan
01 November 2024
Ustadz Panji Hartoko Abu Zulfa

Al Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ مَن كانَ في قَلْبِهِ مِثْقالُ ذَرَّةٍ مِن كِبْرٍ

tidak akan masuk surga seorang yang di dalam qalbunya terdapat sekecil anak semut dari kesombongan

Dalam hadits di atas, dengan tegas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan adanya ancaman berupa tidak masuk surga bagi orang yang sombong. Hal ini bisa kita tarik kesimpulan bahwa kesombongan adalah dosa besar, karena memenuhi kriteria dari dosa besar tersebut. Sebagaimana yang disebutkan oleh Al Imam Al Mawardi,

 الكبائِرُ: ما وجبت فيها الحدودُ، وتوَجَّه إليها الوعيدُ

beliau mengatakan bahwa dosa besar adalah setiap dosa yang disediakan hukuman had di dunia dan disiapkan ancaman keras di akhirat. (Al Hawi – 17/149)

Lantas apa cakupan definisi dari kesombongan tersebut? Dalam riwayat hadits di atas, ada seorang sahabat yang menanggapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

قالَ رَجُلٌ: إنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أنْ يَكونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا ونَعْلُهُ حَسَنَةً، قالَ: إنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمالَ، الكِبْرُ بَطَرُ الحَقِّ، وغَمْطُ النَّاسِ.

Yaa Rasulullah, sesungguhnya seorang laki-laki suka bajunya bagus, sandalnya bagus, maka nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab “sesungguhnya Allah maha Indah dan suka keindahan sedangkan kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بِحسْبِ امْرِئٍ من الشَّرِّ أنْ يَحقِرَ أخاهُ المسلِمَ

“cukup seorang mendapatkan keburukan ketika ia merendahkan saudaranya muslim yang lain” (HR. Bukhari & Muslim)

Kesombongan adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan iblis diusir oleh Allah ta’ala dari surga-Nya. Allah ta’ala berfirman;

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir” (QS. Al Baqarah: 34)

Sebagaimana Allah ta’ala tidak menginginkan kesombongan ada di dalam surga pada zaman dahulu, Allah juga tidak menghendaki ada kesombongan di negeri akhirat kelak, Allah ta’ala berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۗوَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Qasas 83)

Allah ta’ala mewanti-wanti kita di dunia dengan firman-Nya

وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا

Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung
(QS. Al Isra’ 37)

Tidakkah kita mengambil pelajaran dari wasiat Lukman Al Hakim yang Allah abadikan di dalam Al-Qur’an,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri” (QS. Luqman 18)

Balasan yang pedih bagi pelaku kesombongan adalah sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:

قَالَ: سَمِعْتُ رسُولَ اللَّه ﷺ يقولُ: أَلا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ؟ كُلُّ عُتُلٍّ، جَوَّاظٍ، مُسْتَكْبِرٍ. (متفقٌ عَلَيْهِ).

Wahai para sahabat maukah aku tunjukkan (kabarkan) pada kalian siapa itu ahli neraka? Beliau bersabda “setiap orang yang keras (kaku), setiap yang sombong lagi angkuh” (Muttafaqun ‘alaihi)

Neraka menanti orang-orang tersebut dan terkadang Allah ta’ala membalas kontan sebagai balasan untuk orang-orang yang sombong.

Al Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Salamah Ibn Al Aqwa’ ia berkata “ada seorang laki-laki yang makan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menggunakan tangan kirinya, maka Rasulullah mengatakan kepadanya “makanlah dengan tangan kananmu” pria itu mengatakan “aku tidak bisa makan dengan tangan kananku”, Rasulullah membalas dia “kalau begitu kamu tidak akan pernah bisa menggunakan tangan kananmu untuk makan, tidaklah yang menghalangi dirinya untuk makan dengan tangan kanan karena kesombongannya”, maka laki-laki tersebut tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya untuk makan. Demikianlah balasan kontan yang didapatkan bagi orang-orang sombong.

Ada kisah yang menarik yang dialami oleh Al Imam Al Mawardi, beliau Abul Hasan Ali ibn Muhammad ibn Hubaib Al Bashry Al Baghdadi Asy Syafi’I, salah seorang ulama madzhab Asy Syafi’I di zamannya, beliau wafat pada tahun 450 H.

Beliau punya kajian di masjid, tiba-tiba ada seorang wanita yang bertanya kepada beliau “wahai imam apa pendapat engkau terhadap seorang wanita yang mengalami demikian dan demikian (menyebutkan tentang masalah haidh), dan waktu itu Al Imam merasa dirinya paling alim terhadap fikih syafi’i. Maka dibalas kontan oleh Allah ta’ala bahwa Imam Al MAwardi tidak bisa menjawab. Beliau mengatakan “maka aku terdiam seakan-akan aku tidak pernah mendengar masalah ini”. Hingga waktu berlalu sampai lama diamku, ada seorang dari murid beliau berbicara, “semoga Allah merahmati engkau wahai imam, bukankah dahulu engkau pernah menyampaikan seperti ini dan seperti ini?”, maka Wanita tadi menimpali “sesungguhnya laki-laki tersebut lebih pantas duduk di atas kursi daripada engkau”.

Teguran bagi seorang Imam bukan bermaksud merendahkan beliau, akan tetapi hal tersebut sebagai pelajaran bagi kita agar menjauhi sifat kesombongan. Allah ta’ala berfirman:

سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ

Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar” (QS. Al A’raf 146)

Semoga Allah ta’ala melindungi kita semua dari sifat takabur tersebut. Aamiin.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakallahu fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close