Ibadah Bentuk Syukur dan Cinta Hamba Kepada Rabbnya
Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Ibadah Bentuk Syukur dan Cinta Hamba Kepada Rabbnya

Ibadah Bentuk Syukur dan Cinta Hamba Kepada Rabbnya
5 September 2025
Ustadz Adi Nur Fauzi

Sungguh nikmat Allah ta’ala kepada kita sangatlah luas dan banyak. Sampai-sampai apabila seorang hamba hendak menghitungnya, niscaya dirinya tidak akan mampu. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. An-Nahl: 18)

Sesungguhnya Allah ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Namun itu sangat sedikit dari hamba-hambaNya. Allah ta’ala berfirman:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.
(QS. Saba: 13)

Kita diperintahkan oleh Allah untuk bersyukur sebagaimana disebutkan firman-Nya

وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
(QS. Luqman: 12)

Mensyukuri nikmat Allah membutuhkan kekuatan Iman. Karena sesungguhnya nikmat-nikmat tersebut seringkali melalaikan. Banyak orang yang diberikan oleh Allah ta’ala nikmat, bukan semakin dekat kepada Allah, akan tetapi ia semakin jauh dari Allah.

Lantas bagaimana kita bersyukur kepada Allah atas nikmat yang sudah diberikan kepada kita?

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Bersyukur kepada Allah adalah memuji-Nya sebagai balasan atas nikmat yang diberikan dengan cara melakukan ketaatan kepada-Nya”. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan:

الشُّكْرُ يَكُوْنُ بِالقَلْبِ وَاللِّسَانُ وَالجَوَارِحُ وَالحَمْدُ لاَ يَكُوْنُ إِلاَّ بِاللِّسَانِ

“Syukur haruslah dijalani dengan hati, lisan, dan anggota badan. Adapun al-hamdu hanyalah di lisan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 11:135).

Hakikat syukur menurut Ibnul Qayyim dalam Thariq Al-Hijratain (hlm. 508) Adalah:

الثَّنَاءُ عَلَى النِّعَمِ وَمَحَبَّتُهُ وَالعَمَلُ بِطَاعَتِهِ

“Memuji atas nikmat dan mencintai nikmat tersebut, serta memanfaatkan nikmat untuk ketaatan.”.

Al-Munawi rahimahullah berkata, “Syukur itu ada dua tahapan. Pertama adalah bersyukur dengan lisan yaitu memuji pada yang memberikan nikmat. Sedangkan terakhir adalah bersyukur dengan semua anggota badan, yaitu membalas nikmat dengan yang pantas. Orang yang banyak bersyukur (asy-syakuur) adalah yang mencurahkan usahanya dalam menunaikan rasa syukur dengan hati, lisan, dan anggota badan dalam bentuk meyakini dan mengakui.” (Mawsu’ah Nadhrah An-Na’im, 6:2393).

Dahulu salafush shalih dengan diberikan banyak nikmat, mereka menjadi ketakutan. Mereka takut sekali dengan hisab pada hari kiamat. Mereka sangat takut sekali, semua kenikmatan yang diberikan kepada mereka akan dipertanyakan oleh Allah Ta’ala. Mereka takut dengan jawaban apa yang harus mereka lakukan. Subhanallah, demikianlah salafush shalih. Sementara kita, gembira dan senang ketika kita mendapatkan kenikmatan dunia belaka. Lalu setelah itu kita lupa untuk mensyukurinya. Sementara salafush shalih ketika diberikan kenikmatan dunia, mereka sungguh malah ketakutan. Takut itu menjadi adzab pada hari kiamat untuknya.

Maka dari itulah saudaraku sekalian, setiap kita wajib merenungi tentang harta, tentang karunia, tentang kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. Sudah untuk apa kita lakukan? Sebelum di hari kiamat Allah tanya kita, tanyakanlah di dunia ini kepada diri kita sendiri.

Di antara nikmat yang besar yang diberikan Allah kepada kita adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits dari sahabat Ubaidullah bin Mihshan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kalian masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya
(HR. Ibnu Majah)

Subhanallah, mari kita renungkan tiga nikmat ini begitu besarnya sampai diibaratkan kita memiliki dunia dan seisinya. Mari kita renungkan, ketika satu saja dari ketiga nikmat tersebut Allah cabut dari kita, bagaimanakah kondisi, perasaan kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini?

Sungguh bukanlah wujud dari rasa syukur terbaik kita kepada Allah ta’ala ketika kita diberikan kesehatan oleh Allah, namun kita justru yang membahayakan kesehatan kita sendiri, mengkonsumsi sesuatu yang bisa membawa mudharat bagi kesehatan tubuh kita. Sungguh bukanlah wujud dari rasa syukur terbaik kita kepada Allah ta’ala ketika kita diberikan keamanan oleh Allah, namun kita justru melakukan hal-hal yang bisa mengganggu kondusifitas keamanan masyarakat kita, seperti melakukan teror, memicu kerusuhan dan semisalnya. Sungguh bukanlah wujud dari rasa syukur terbaik kita kepada Allah ta’ala ketika kita diberikan nikmat makanan oleh Allah, namun kita menyia-nyiakannya, boros, kita makan kenyang, namun saudara, tetangga dan orang di sekitar kita ada yang kelaparan entah kapan terakhir kali dia makan sampai kenyang.

Dengan taat dan beribadah kepada Allah lah kita mewujudkan bentuk rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan kepada kita.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala ta’ala Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakAllah ta’ala ta’alau fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close