
Membatasi Durasi Safar
Membatasi Durasi Safar
Ust Rizal Yuliar Putrananda
23 Oktober 2024
Kita melanjutkan pembahasan kitab Riyadush Shalihin karya Al-Imam Yahya bin Syarof An-Nawawi rahimahullah .
Alhamdulillah seiring perjalanan waktu yang berlalu kita masih dimudahkan Allah ta’ala untuk menempuh salah satu jalan di antara jalan-jalan surga yang terbuka sehingga kita bisa menjumpai Allah ta’ala di kehidupan akhirat kelak.
Kita berada di penghujung pembahasan Adab Safar, etika yang dituntunkan di dalam islam sesaat, di saat dan setelah kita safar. Pada bab ke 175 ada tuntunan tentang hendaklah seseorang itu membatasi diri pada perjalanan safarnya, bergegas untuk kembali ke tempat mukimnya, bab “Dianjurkannya seorang musafir mempercepat waktu kembalinya menuju keluarganya bila telah usai dari hajatnya dalam safar”.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ
“Safar adalah bagian dari adzab (siksa). Ketika safar salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya”
(HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)
Mari, kita simak lebih cermat dan lanjut lagi melalui rekaman video di bawah ini, baarakallahu fiikum.