Istiqamah: Puncak Kenikmatan - pesantrenluluwalmarjaan.org
Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Istiqamah: Puncak Kenikmatan

Istiqamah: Puncak Kenikmatan
5 September 2025
Ustadz Harits Zubaidi

Tatkala Allah ta’ala memerintahkan kepada kita untuk beribadah kepada-Nya, maka Allah ta’ala menjadikan jalan menuju ibadah tersebut, untuk melaksanakan ibadah tersebut dan Allah memerintahkan kita menempuh jalan tersebut dan tidak memperdulikan jalan-jalan yang lain. Allah ta’ala berfirman:

وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُۚ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) sehingga mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Demikian itu Dia perintahkan kepadamu agar kamu bertakwa
(QS. Al An’am 153)

Dan Allah ta’ala memerintahkan hambanya untuk istiqomah di atas agama-Nya, di atas jalan yang lurus tersebut. Allah ta’ala berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan
(QS. Hud 112)

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

”Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.
(HR. Muslim 38)

Asy Syaikh Muhammad ibn Sholeh Al Utsaimin rahimahullah beliau mengatakan:

”Orang yang lalai dalam melaksanakan kewajiban maka dia bukan orang yang beristiqomah, bahkan yang ada terjadi padanya penyimpangan dan penyimpangan tersebut besar kecilnya sesuai dengan kadar dia meninggalkan kewajiban atau dia melakukan perbuatan yang diharamkan. Hendaklah seseorang senantiasa memperhatikan apakah dia orang yang istiqomah ataukah dia tidak istiqomah. Kalau ternyata dia orang yang senantiasa istiqomah, maka dia bertahmid kepada Allah ta’ala memuji-Nya dan meminta agar diteguhkan di atas keistiqomahan. Kalau ternyata dia tidak istiqomah, maka hendaknya dia bertaubat kepada Allah ta’ala memperbaiki jalannya dan berdo’a kepada Allah agar diberikan keistiqomahan, karena sesungguhnya istiqomah adalah sifat yang umum mencakup segala amal perbuatan”

Di antara beberapa kiat agar kita bisa istiqomah di atas agama Allah ta’ala adalah dengan mencari teman bergaul yang sholeh, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.”
(HR. Bukhari 2101)

Dalam hadist lain Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian
(HR. Abu Daud 4833)

Di antara kiat juga agar seseorang bisa istiqomah di atas jalannya adalah dengan tholabul ilmi syar’i, menuntut ilmu agama. Sebaik-baik wasilah yang memudahkan seseorang menggapai keistiqomahan yaitu dengan menuntut ilmu syar’i.

Allah ta’ala berfirman:

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ

Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama
(QS. Fathir 28)

Ilmu syar’i akan mewariskan rasa takut, Allah ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَۗ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?
(QS. Az Zumar 9)

Ilmu syar’i akan mendorong seseorang untuk istiqomah di atas jalan Allah sampai kematiannya. Dia tidak akan terpengaruh dengan subhat maupun syahwat. Sebagaimana yang dikisahkan tentang Qarun, ketika orang-orang terperdaya dengan harta yang dimilikinya sementara orang-orang yang berilmu mereka tidak tertipu dengan apa yang dimiliki oleh Qorun. Bahkan mereka menasihati orang-orang tersebut ”celakalah kalian, sungguh pahala yang ada di sisi Allah lebih baik di sisi Allah bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan tidak akan mendapatkan hal tersebut kecuali orang-orang yang bersabar”.

Kemudian di antara kiat untuk menggapai keistiqomahan adalah dengan memperbanyak do’a kepada Allah ta’ala agar menganugerahi kepada kita keistiqomahan. Allah memeritahkan kepada kita untuk senantiasa berdo’a, Allah ta’ala berfirman:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)“.
(QS. Ali Imran 8)

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasalllam menegaskan:

إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

Sesungguhnya hati (para hamba) itu berada diantara dua jari dari jari-jemari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki!
(HR. At-Tirmidzi)

Sehingga Rasulullah shallallahu ’alaihi wasalllam menganjurkan untuk kita memperbanyak do’a:

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!

Allah ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.
(QS. Fussilat 30)

Orang yang istiqomah akan mendapatkan 3 hal yang luar biasa yaitu:

  1. Allah akan meniadakan rasa takut pada diri-diri mereka, rasa takut akan sesuatu yang belum terjadi, sesuatu yang akan datang di masa depan.
  2. Allah akan meniadakan rasa sedih atas apa yang sudah berlalu, atas apa yang sudah menimpa mereka, atas apa yang mereka alami dan ini bisa terwujud di dunia ataupun di akhirat.
  3. Allah menjanjikan kepada mereka untuk masuk kedalam surga-Nya.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala ta’ala Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakAllah ta’ala ta’alau fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close