Muhasabah dan Selalu Menjadi Lebih Baik
Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Muhasabah dan Selalu Menjadi Baik

Muhasabah dan Selalu Menjadi Lebih Baik
29 November 2024
Ustadz Syahid Nurtando

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengisahkan kepada para sahabatnya dalam sebuah haditsnya, bahwa ada suatu hari dimana hari tersebut penuh dengan ketakutan yaitu hari di mana semua orang dikumpulkan di padang mahsyar. Satu hari pada hari tersebut sama dengan seribu hari di dunia, semua akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki, tidak memakai sehelai kainpun, tidak memakai penutup kepala dan tidak berkhitan. Orang-orang akan lari dari saudaranya, lari dari bapak dan ibunya, lari dari istri dan anaknya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ

pada hari itu manusia lari dari saudaranya,

وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ

dan dari ibu dan bapaknya,”

وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ

dan dari istri dan anak-anaknya
(QS. ‘Abasa 34-36)

Ayat tersebut menunjukkan kedahsyatan hari tersebut, hari di mana amalan-amalan kita itu akan menunjukkan bagaimana kita dahulu berjuang di dunia ini. Di hari tersebut pula terdapat orang yang tenggelam dengan keringatnya setinggi mata kaki, betis, perut, dada bahkan menutup seluruh tubuhnya, semuanya tergantung amalan-amalannya ketika di dunia.

Oleh karenanya, sebelum kita menghadap kepada Allah ta’ala, perlu bagi kita untuk mengevaluasi dan mengintrospeksi diri kita. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan
(QS.  Al Hasyr: 18)

Berdasarkan ayat yang mulia ini, maka kewajiban kita bagi seorang mukmin untuk senantiasa mengintrospeksi dan mengevaluasi diri kita. Sudahkah kita siap menuju Allah? Karena kita hanya menunggu waktu dan ajal, maka kita perlu mempersiapkan dengan sebaik mungkin  bekal yang akan kita bawa kelak.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya Mu’adz ibn Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah berbincang-bincang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu momen, kemudian dengan kedekatan emosional beliau shallallahu ‘alaihi wasallam beliau mengatakan kepada sahabat Mu’adz ibn Jabal radhiyallahu ‘anhu:

“Wahai sahabat Mu’adz, demi Allah aku mencintaimu karena Allah ta’ala, kemudian beliau melanjutkan Aku wasiatkan (perintahkan) kepadamu wahai Muadz agar engkau jangan sekali-kali meninggalkan pada setiap dubur (akhir) shalat doa:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu
(HR Abu Dawud, an-Nasa’i, Ahmad, dan al-Hakim)

Maka ini adalah sebuah do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz agar bisa menjalankan kebaikan-kebaikan semasa hidup di dunia. Ketika kita berdzikir kepada Allah ta’ala, semoga kita diberikan keistiqomahan oleh Allah ta’ala agar kita bisa membaca do’a tersebut dan dimudahkan menjalankan semua kebaikan.

Di antara faedah muhasabah sebagaimana yang pernah disampaikan oleh sahabat Umar Ibn Khattab radhiyallahu ‘anhu “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab di yaumul qiyamah, dan timbang-timbanglah amalan kalian sebelum amalan kalian ditimbang di sisi Allah ta’ala”. Karena sesungguhnya di antara manfaat introspeksi diri di dunia adalah meringankan hisab kita kelak saat berjumpa dengan Allah ta’ala.

Al Fudhail ibn Iyadh radhiyallahu anhu pernah mengatakan “di antara sifat seorang mukmin adalah yang gemar untuk muhasabah diri, mengintrospeksi dirinya, yang mana hari-harinya tidak sibuk dengan kesalahan orang lain, akan tetapi sibuk dengan mengintrospeksi dirinya, berbeda dengan sifat orang munafik yang mereka enggan introspeksi diri, akan tetapi justru banyak mencari-cari kesalahan orang lain”.

Kemudian faedah yang kedua ketika orang gemar untuk muhasabah dirinya adalah orang tersebut bisa terus berada dalam petunjuk Allah ta’ala. Sebagaimana di dalam sebuah tafsir dijelaskan oleh Imam Al-Baidhawi “bila seseorang terus menerus mengintrospeksi dirinya, yaitu mengintospeksi amalan-amalannya (dzohir atau batin), maka orang tersebut senantiasa akan mendapatkan jalan petunjuk hingga akhir kiamat”.

Kemudian faedah yang ketiga yaitu mengobati hati yang sakit. Seseorang yang terjangkit penyakit di dalam hatinya maka introspeksi diri adalah salah satu obat yang dapat mengobati penyakit hatinya.

Berikutnya adalah selalu menganggap diri penuh kekurangan, sehingga tidak tertipu dengan amalan yang telah ia lakukan. Maka amalan ibadah yang telah kita kerjakan di dunia ini semoga tidak menjadikan kita lalai ataupun tertipu dengan amalan-amalan yang sudah kita kerjakan.

Kemudian faedah berikutnya adalah membuat diri tidak takabur. Ketika seseorang rajin untuk mengintrospeksi dirinya, maka dia akan mengetahui kadar amalan yang telah di perbuatnya dibandingkan orang lain. Dia akan menjadi seorang yang mawas diri sejauh mana amalan yang telah dia kerjakan di dunia ini. Ketika orang sudah mengetahui kualitas ibadahnya di dunia ini, maka orang tersebut akan jauh dari sifat sombong.

Dijelaskan dalam kitab “Muhasabatun Nafsi”, Muhammad bin Wasi’ rahimahullah ta’ala mengatakan “seandainya dosa-dosa itu memiliki aroma bau maka sungguh tidak ada orang satupun yang mau duduk di sebelahku”. Artinya adalah ketika seseorang memiliki dosa dan  dosa tersebut memiliki bau, maka tidak ada seorangpun yang mau mendekatinya.

Faedah selanjutnya adalah seorang akan memanfaatkan waktu dengan baik, Ibnu Asakir rahimahullah telah menjelaskan di dalam kitabnya tabyin kadhib al muftari “ada seorang al fakih yang bernama Salim Bin Ayyub Ar Rozi, yang hari-harinya (waktu-waktunya) hanya digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Ketika kita menjumpai beliau, beliau mengisi hari-harinya dengan menyalin, belajar dan juga membaca”.

Kita sebagai seorang penuntut ilmu, hendaknya kita mengintospeksi diri kita, kita melihat kepada contoh-contoh ulama salaf dalam hal memanfaatkan waktu, tidak menyia-nyiakan waktu. Kemudian setelah orang tersebut mengetahui bahwa dirinya adalah seorang penuntut ilmu, dia tidak akan menyia-nyiakan waktu, kagum dengan amalan ataupun ilmu-ilmu yang sudah dimilikinya.

Allah ta’ala berfirman:

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ۙ

(karena) bekerja keras lagi kepayahan

تَصْلٰى نَارًا حَامِيَةً ۙ

mereka memasuki api yang sangat panas (neraka),” (QS. Al Ghasiyyah 3&4)

Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan dua ayat tersebut bahwasnya seseorang yang menyangka telah beramal dengan amalan yang banyak sekali, penuh dengan kepayahan, justru kelak di yaumul qiyamah dimasukkan di dalam neraka-Nya. Na’udzubillah.

Sedikit kita menoleh kepada sejarah atau kisah-kisah salafus shalih, salah satunya yaitu dikisahkan sahabat Umar radhiyallahu anhu pernah melakukan kesalahan yaitu luput dari sholat Ashar secara berjama’ah, maka beliau mensedekahkan tanah senilai 200.000 dinar. Hal ini merupakan nilai yang sangat besar bagi kita. Tentu ini adalah bentuk bagaimana para sahabat radhiyallahu ‘anhum mengintrospeksi dirinya ketika melakukan kesalahan.

Kisah lainnya adalah putra beliau Ibnu Umar radhiyallahu anhuma pernah melakukan kesalahan luput dari sholat berjama’ah, maka beliau menggantinya dengan menghidupkan sholat malam.

Kemudian di antara kisah lainnya yaitu kisah Ibnu Abi robi’ah rahimahullahu, beliau pernah meninggalkan sholat dua rakat sebelum sholat subuh, maka beliau bertobat kepada Allah ta’ala dengan cara membebaskan satu orang budak. Begitulah potret semangat para salafush shalih dalam melakukan muhasabah. Hendaknya kita semua meniti jalan para ulama salafus shalih.

Sebuah kisah juga dari Ibnu Aun Rahimahullahu, beliau pernah melakukan kesalahan tatkala ibu beliau memanggil, kemudian beliau menjawab dengan suara yang lantang, apa yang dilakukan beliau yaitu beliau memerdekakan dua budak sekaligus.

Sudahkah kita bertaubat kepada Allah ta’ala dari apa yang sudah kita perbuat ketika di dunia ini? Mari memperbanyak berdo’a kepada Allah ta’ala, semoga Allah ta’ala memberikan kita taufik agar kita dimudahkan di dalam beribadah kepada-Nya.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakallahu fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close