
Tinggi Hati dan Kesombongan
Tinggi Hati dan Kesombongan
Ust Rizal Yuliar Putrananda
14 Maret 2022
Kita lanjutkan kembali kebersamaan kita dalam mengkaji kitab Riyadhush Shaalihiin, Karya Al-Imam Yahya Ibnu Saraf An-Nawawi rahimahullah. Pada dua pertemuan sebelumnya kita telah mengkaji bersama-sama salah satu diantara akhlak yang mulia yaitu Tawadhu’ (Rendah hati) karena Allah ta’ala kepada sesama kaum mukminin. Kemudian Al-Imam An-Nawawi menggandengkan bab tersebut dengan bab yang merupakan lawannya. Kalau sebelumnya terkait rendah hati, maka pada pertemuan kali ini akan membahas tentang “Kesombongan dan Bangga Diri”
Ketika membahas terkait tawadhu’, maka memang kita juga akan bicara tentang kesombongan. Karena kesombongan seperti halnya api yang tidak akan pernah bersatu dengan tawadhu’ (kerendahan hati) sebagai airnya.
Pada penjelasan para ulama disampaikan bahwa “Gerbang utama ketergelinciran hamba dalam kesombongan adalah tatkala dia ujub (bangga terhadap dirinya)”. Lupa bahwa keberhasilan sekecil apapun adalah anugerah dari Allah ta’ala. Dan tidaklah Iblis terjatuh di dalam kesombongan kecuali karena dia telah terjatuh di dalam kecongkakan dan bangga diri.
Iblis berkata, dan perkataan ini diabadikan oleh Allah ta’ala di dalam Al-Qur’an:
خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
“Yaa Allah, kenapa aku harus sujud kepada Adam? Engkau ciptakan aku dari api, Engkau ciptakan dia (Adam ‘alaihissalam) dari tanah” (QS. Al-A’raf: 12)
Dia (Iblis) berfikir bahwa unsur penciptaannya yaitu api, lebih mulia daripada unsur tanah. Padahal realita berkata tidak, tapi karena sudah ada keangkuhan pada dirinya (iblis), ada bangga terhadap dirinya, maka iapun terjatuh kedalam kesombongan, Allah menyatakan:
أَبَى وَاسْتَكْبَرَ
“Ia enggan dan ia takabur”
Yuk, simak lebih cermat dan lanjut lagi melalui rekaman di bawah ini ya, baarakallahu fiikum.
Rekaman Pertama
Rekaman Kedua