Hakikat Muraqabah dan Cara Menumbuhkannya
Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Hakikat Muraqabah dan Cara Menumbuhkannya

Hakikat Muraqobah
13 Desember 2024
Ustadz Dimas Arief

Makna muraqabah adalah jiwa yang selalu merasa diawasi oleh Allah ta’ala, seorang muslim hendaklah selalu merasa dalam pengawasan Allah ta’ala. Dialah yang Maha Mengetahui, Mengawasi atas amalan setiap hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang bisa luput sedikit pun dari pandangan Allah ta’ala, apa saja yang ada di langit dan bumi, meski sebesar zarrah (biji sawi) sekalipun. Allah ta’ala berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ ۖ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ ۖ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.’ Katakanlah: ‘Pasti datang, demi Rabbku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)’.
(QS. Saba’ 3)

Maka siapa pun yang meyakini dengan kuat bahwa semua amal perbuatan hamba tidak pernah lepas dari pandangan Allah dan pengawasan-Nya, ia tidak beramal kecuali dengan yang mendatangkan ridha dan cinta-Nya. Inilah yang dinamakan dengan kedudukan al-Ihsan. Inilah kedudukan tertinggi dalam agama islam. Jika manusia mampu meraihnya, maka ia berhak mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Rabbnya ta’ala.

Seorang muslim hendaknya selalu merasakan muraqabatullah setiap saat. Hendaklah dalam hidupnya penuh dengan keyakinan bahwa Allah ta’ala senantiasa melihatnya, mengetahui rahasianya, dan Dia Maha Tahu terhadap segala perbuatannya, bahkan sampai pada hal yang sekecil-kecilnya. Allah ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Hadid 4)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, makna ayat ini adalah bahwa Allah ta’ala Maha Mengawasi dan menyaksikan semua perbuatan, kapan saja dan di mana saja kamu melakukannya, di daratan maupun di lautan, pada waktu malam maupun siang hari, di rumah tempat tinggalmu maupun di tempat umum yang terbuka. Segala sesuatu ada dalam ilmu-Nya. Semuanya dalam penglihatan dan pendengaran-Nya. Dia mendengar apa yang kamu ucapkan dan melihat keberadaanmu. Dia Maha Mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan.

Terlalu sering kita mengeluh akan sulitnya meraih keikhlasan dan sulitnya menolak riya’, serta sulitnya meraih kehusyukan. Di antara perkara yang sangat membantu seseorang untuk meraih keikhlasan dan menolak riya’ adalah dengan mempraktekan al-Ihsan, yaitu merasa diawasi/dilihat oleh Allah tatkala sedang beribadah.

Ketika seseorang sedang shalat, puasa, membaca al-Quran, atau ibadah lainnya, dan dia sadar bahwa ia sedang dilihat dan suatu saat amalannya akan ditampakkan di hadapan seluruh manusia, maka ia akan berusaha untuk bisa melaksanakan ibadah tersebut dengan sebaik-baiknya. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

الشِّرْكٌ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلَ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظْرِ رَجُلٍ

Syirik yang samar yaitu seseorang berdiri dan mengerjakan shalat lalu ia menghias (membagus-baguskanshalatnya karena ia tahu ada orang lain yang melihatnya.”
(HR. Ibnu Majah no 4194 dan dihasankan oleh Al-Albani).

Dengan demikian, ia akan terjaga dari kemaksiatan dan terhindar dari godaan syahwat. Semua tingkah laku dan juga gerak-geriknya tidak pernah terlepas dari tujuan cinta dan ridha-Nya.

Di dalam al-Quran banyak sekali teladan tentang orang-orang yang telah diberi anugerah sifat muraqabatullah sehingga mampu menjaga mereka dari jeratan perbuatan haram.

Kisah nabi Yusuf ‘alaihi salam yang diajak berzina oleh tuan putrinya sendiri. Pintu ruangan telah tertutup rapat, tempat telah tersedia, tiada satu pun manusia yang melihat, namun jiwa yang hidup bersama Allah ta’ala selalu sadar kalau ada yang senantiasa mengawasinya, Dialah Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.
(QS. Yusuf 23)

Cara pertama untuk menumbuhkan sifat muraqabah adalah dengan membangun keyakinan yang sempurna bahwa sesungguhnya Allah ta’ala Maha Mengetahui segala yang dirahasiakan dan segala yang nyata. Allah ta’ala berfirman:

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ ۖ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ

Dia Allah yang disembah di langit dan di bumi, Dia Mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan, dan Dia Mengetahui apa yang kamu usahakan”
(Q. Al An’am: 3)

Sesungguhnya hakikat muraqabah seperti ini apabila benar-benar terhujam di dalam hati seseorang, maka dia akan benar-benar merasa malu dilihat oleh Allah ta’ala jika dia melanggar larangan-Nya atau dia meninggalkan perintah-Nya. Al-Munawy berkata, “Takut kepada Allah ta’ala dalam keadaan seorang diri jauh lebih tinggi daripada takut kepada-Nya dalam keadaan terang-terangan.”

Cara kedua untuk menumbuhkan sifat muraqabah adalah dengan menanamkan keyakinan bahwa Allah ta’ala akan menghitung dan menghisab segala sesuatu meskipun itu hal-hal yang terkecil.

Dia akan memberitahukan hal itu kelak pada hari Kiamat. Bahkan Dia akan memberikan balasannya sesuai dengan jenis amal perbuatan seseorang. Amalan yang jelek akan dibalas dengan hukuman dan azab-Nya. Sedangkan amal yang baik akan mendapatkan balasan rahmat dan ridha-Nya. Allah ta’ala berfirman,

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan diletakkanlah al-Kitab (buku catatan amal perbuatan), lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celakalah kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pulayang besar, melainkan dia catat semuanya’; dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis dihadapan mereka). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.”
(QS. Al Kahfi 49)

Semoga, setelah kita sama-sama mengetahui arti muraqabah, manfaat muraqabah, dan cara menumbuhkan sifat muraqabah, kita diberi kemampuan oleh Allah ta’ala untuk benar-benar mengupayakan agar diri kita masing-masing selalu merasa dalam pengawasan Allah ta’ala. Sehingga, Allah ta’ala jauhkan kita dari berbagai macam bentuk dosa dan kemaksiatan.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakallahu fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close