Ingat Kematian, Negeri Akhirat Menanti
Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Ingat Kematian, Negeri Akhirat Menanti

Ingat Kematian, Negeri Akhirat Menanti
17 Januari 2025
Ustadz Luthfi Ihsanuddin

Di antara hal yang hendaknya kita yakini, kita persiapkan, kita pastikan dan ketahui bersama bahwasanya Allah ta’ala telah menetapkan adanya kematian. Allah ta’ala telah menetapkan bagi kita semua, bagi seluruh makhluknya, baik itu mereka yang kaya maupun yang miskin, seorang pemimpin maupun dia sebagai rakyat, entah ia seorang raja ataupun hanya rakyat jelata. Maka sesungguhnya mereka semua akan merasakan yang namanya kematian. Allah ta’ala berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ * وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan
(QS. Ar-Rahman: 26-27)

Allah Ta’ala juga berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ.

Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka juga akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu semua pada hari kiamat di sisi Tuhanmu akan saling bertikai.
(QS. Az-Zumar: 30-31)

Kematian adalah nasihat terbesar. Cukuplah ia menjadi pengingat:

الكَيْسُ من دان نفسه، وعمِل لِما بعد الموت، والعاجز من أتبع نفسه هواها، وتمنَّى على الله

“Orang yang cerdas adalah yang selalu introspeksi diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang menuruti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah ta’ala.” (HR. Tirmidzi)

أكْثِروا ذكر هاذِمِ اللذات؛ الموتِ؛ فإنه لم يذكره أحد في ضيق من العيش إلا وسَّعه عليه، ولا ذكره في سعة إلا ضيَّقها عليه

Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan, yaitu kematian. Karena tidaklah seseorang mengingatnya dalam kesempitan hidup, kecuali ia membuatnya lapang. Dan tidak pula ia mengingatnya dalam kelapangan hidup, kecuali ia membuatnya sempit.”
(HR. Ahmad)

Orang yang banyak mengingat kematian termasuk golongan yang cerdas, yang meraih kemuliaan di dunia dan kehormatan di akhirat. Dalam sebuah hadits dari Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كنَّا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في جنازة، فجلس على شفير القبر، فبكى حتى بلَّ الثرى، ثم قال: يا إخواني، لِمِثْلِ هذا فأعدُّوا

Kami pernah bersama Rasulullah ShallAllah ta’alau ‘alaihi wa sallam dalam suatu jenazah. Beliau duduk di tepi kubur sambil menangis hingga tanah menjadi basah oleh air matanya. Lalu beliau bersabda: Wahai saudaraku, untuk hal seperti ini bersiap-siaplah.”
(HR. Ibnu Majah)

Mengingat kematian mendorong seseorang untuk bertaubat dengan tulus, kembali kepada Allah, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan iman dan amal saleh. Mengingat kematian membuat kita selalu  intropeksi diri atas apa yang telah kita persembahkan untuk Allah ta’ala, dan meninjau kembali hubungan kita dengan Allah. Mengingat kematian membuat kita khusyuk dalam shalat kita dan menjadikan shalat itu seolah-olah menjadi shalat terakhir. Mengingat kematian mencegah dari perbuatan maksiat, melembutkan hati yang keras, menghilangkan kegembiraan, berlebihan terhadap dunia, meredakan penderitaan, dan membuat seseorang menerima dengan apa yang ada.

Kematian tidak dapat dihindari. Tangisan atau kesedihan tidak akan berguna ketika kematian tiba. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemuimu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah ta’ala) Yang Maha Mengetahui perkara gaib dan nyata. Lalu Dia akan memberitahukan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS. Al-Jumu’ah: 8)

Dengan kematian kita menyadari hakikat dunia ini. Dunia tidaklah kekal, melainkan diciptakan Allah ta’ala untuk fana. Tolok ukur di dunia ini adalah amal kebaikan:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“(Dialah) yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2).

Tanda-tanda kebaikan dan husnul khatimah di antaranya adalah seseorang diberi kecintaan untuk bertemu dengan Allah ta’ala sebelum kematiannya. Siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah ta’ala pun mencintai pertemuan dengannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا أحب الله عبدًا عسَّله، قال: يا رسول الله، وما عسَّله؟ قال: يوفِّق له عملًا صالحًا بين يدي أجله، حتى يرضى عنه جيرانه، أو قال: من حوله

“Jika Allah ta’ala mencintai seorang hamba, maka Dia akan menjadikannya ‘manis’. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apa itu ‘manis’? Beliau menjawab: Allah ta’ala memberikan taufik kepadanya untuk beramal saleh sebelum kematiannya, sehingga orang-orang di sekitarnya ridha kepadanya.” (HR. Ahmad)

Kita memohon kepada Allah ta’ala agar menetapkan kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat, mengampuni orang-orang yang telah meninggal di antara kita, dan merahmati kita ketika kita telah berpulang seperti mereka.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakAllah ta’alau fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close