"Muraqabah" Menjaga Ilmu dan Ketakwaan
Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

“Muraqabah” Menjaga Ilmu dan Ketakwaan

 “Muraqabah” Menjaga Ilmu dan Ketakwaan
28 Juni 2024
Ustadz Luthfi Ihsanuddin

Di antara sifat yang hendaknya kita miliki sebagai seorang muslim adalah sifat muraqabatullah, selalu merasa diawasi oleh Allah ta’ala. Tidak ada di antara kita yang terlepas dari penglihatan dan pendengaran Allah ta’ala, kita semua senantiasa diawasi oleh Allah ta’ala. Hakikat muraqabatullah adalah hamba-hamba yang memahami dan mengetahui setiap saat bahwa tidak ada hal yang tersembunyi bagi Allah ta’ala, serta menghadirkan rasa bahwasanya Allah ta’ala mengawasinya di setiap kondisi dan situasi.

Inilah hakikat sifat muraqobatullah, kita sebagai hamba sadar dan mengetahui betul bahwasanya tidak ada hal yang terluput dari pengawasan Allah ta’ala. Bahwasanya Allah senantiasa mengawasi kita dimanapun kita berada dan kapanpun waktunya. Allah ta’ala berfirman;

اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Sesungguhnya Allah Maha mengawasi atas diri kalian” (QS. An Nisaa-1)

Allah ta’ala juga berfirman di dalam ayat yang lainnya,

رَبَّنَآ اِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِيْ وَمَا نُعْلِنُۗ وَمَا يَخْفٰى عَلَى اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ

Nabi Ibrahim berkata, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit” (QS. Ibrahim 38)

Muraqabatullah adalah salah satu diantara ciri sifat bagi kaum muslimin dan di antara akhlak ahli tauhid. Sifat muraqabah adalah tanda benarnya iman seseorang dan juga tingginya derajat seseorang, yaitu ia telah mencapai derajat Al Ihsan. Sebagaimana Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Dan di antara buah manis dari sifat muraqabah adalah seseorang akan terjauhkan dari kemaksiatan kepada Allah ta’ala, sebagaimana Nabi Yusuf ‘alaihis salam beliau dijauhkan oleh Allah ta’ala dari godaan seorang istri raja yang sangat cantik. Allah ta’ala berfirman:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِيْ هُوَ فِيْ بَيْتِهَا عَنْ نَّفْسِهٖ وَغَلَّقَتِ الْاَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۗقَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ اِنَّهٗ رَبِّيْٓ اَحْسَنَ مَثْوَايَۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ

Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung” (QS. Yusuf 23)

Kemudian buah manis di antara sikap muraqabah adalah akan menjadi salah satu penyebab seseorang untuk bersegera beramal saleh dan juga untuk memperbagus setiap amalannya. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang ulama yang bernama Ibnu Mandzur, beliau mengatakan “barangsiapa senantiasa memiliki sifat muraqabah (Allah senantiasa mengawasinya), niscaya ia akan memperbagus memperindah setiap amal ibadahnya”

Kemudian diantara buah manis dari sifat muraqabah adalah salah satu diantara sebab terbesar tersebarnya sifat amanah pada kaum muslimin. Jika seorang muslim tidak memiliki sifat muraqabah, menyebabkan amanah tersia-siakan. Dan di antara buah manis sifat muraqabah juga adalah salah satu diantara sebab seseorang masuk ke dalam surga. Allah ta’ala berfirman;

 اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al Mulk 12)

Bahwasanya manakala seseorang tidak memiliki muraqabtullah, sungguh niscaya ia dalam kondisi yang akan sangat mengkhawatirkan. Karena sesungguhnya jauh dari sifat meroqobatullah akan membahayakan. Dan diantara bahaya-bahayanya adalah seseorang akan mudah terjatuh manakala ia dalam kesendirian. Dalam sebuah hadits Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Aku mengetahui ada golongan dari umatku nanti akan datang di hari kiamat membawa pahala sebanyak gunung tihamah akan tetapi Allah jadikan amalan tersebut bagaikan debu yang berterbangan, sahabat Sofyan bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam “wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat-sifat ciri-ciri mereka supaya kami tidak terjatuh sedang kami tidak menyadarinya”. Rasul pun menjawab “mereka adalah saudara kalian dari golongan kalian mereka pun salat malam sebagaimana kalian salat malam akan tetapi manakala ia dalam kondisi bersendiri, dalam kondisi sepi, mereka berani untuk menerjang larangan Allah Ta’ala”. (HR. Ibnu Majah)

Diantara bahaya manakala seseorang tidak memiliki sifat muraqabatullah adalah salah satu penyebab seseorang berakhir dengan su’ul khotimah. Sebagaimana Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata “sesungguhnya dosa yang dilakukan saat sendirian itu adalah dasar pondasi penyebab seseorang itu akan su’ul khotimah. Dan ibadah yang dilakukan dalam kondisi sepi itu adalah salah satu penyebab terbesar seseorang mendapatkan keistiqomahan”.

Dan di antara upaya supaya kita memiliki sifat muraqabatullah diantaranya adalah mengenal dan memahami bahwasanya Allah Ta’ala memiliki nama-nama serta sifat-sifat yang Maha Sempurna. Senantiasa kita hadirkan dalam kehidupan kita bahwa salah satu diantara nama Allah adalah Ar-Roqib (Maha Mengawasi), Asy-Syahid (Maha Menyaksikan), As-Sami’ (Maha Mendengar), Al-Qarib (Maha Dekat), Al-Bashir (Maha Melihat) atas segala aktivitas kita.

Dan juga di antara upaya untuk mewujudkan sifat muraqabatullahi adalah senantiasa menghadirkan di dalam kehidupan kita bahwasanya di sana ada malaikat yang senantiasa mengawasi kita, yang senantiasa mencatat apa yang kita lakukan apa yang kita ucapkan. Allah ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)” (QS. Qaf 18)

Dan yang terakhir diantara upaya kita untuk bisa memiliki sifat muraqabatullah adalah kita hadirkan dan kita pahami bahwasanya seluruh anggota tubuh kita nanti di hari kiamat akan bersaksi atas segala apa yang kita lakukan.

Semoga Allah ta’ala menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa memiliki sifat merasa diawasi oleh Allah, sehingga kita dapat meraih surga Allah ta’ala dan terhindar dari su’ul khotimah.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita, baarakallahu fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close