Penawar Rasa Khawatir, Galau dan Sedih
Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Penawar Rasa Khawatir, Galau dan Sedih

Penawar Rasa Khawatir, Galau dan Sedih
14 November 2025
Ustadz Mohammad Darus Salam

Sesungguhnya setiap hamba dalam kehidupan ini terkadang merasakan duka lara yang mengganggu hatinya, menyakiti jiwanya yang mendatangkan rasa khawatir, sedih, dan galau. Semua ini adalah perkara yang sudah ditakdirkan, dan dituliskan oleh Allah ta’ala.

Hanya saja, Allah ta’ala menyediakan sebab-sebab agung dan wasilah-wasilah penting yang apabila seseorang mau memperhatikan dan bersungguh-sungguh mempraktekkannya, niscaya kegalauannya akan sirna, kekhawatirannya akan hilang, kesedihannya akan pergi, hatinya lapang dan kebahagiaannya di dunia ini akan menjadi nyata.

Ada banyak hal yang mungkin merasuki dan menyakiti hati seorang hamba. Sebagiannya berkaitan dengan masa lampau dan kenangan yang telah terjadi. Ada juga perkara yang merasuki hati seorang hamba yang berkaitan dengan masa depan, sehingga membuatnya merasa khawatir dan gelisah akan nasibnya nanti. Begitu juga, kegalauan yang menimpa seseorang karena masalah yang berkaitan dengan kenyataan, dan kondisinya sekarang.

Ketiga hal ini, yakni kesedihan yang berkaitan dengan masa lalu, kekhawatiran yang berkaitan dengan masa depan, dan kegalauan yang berkaitan dengan apa yang sedang dialami sekarang, semua itu akan sirna dan hilang dari hati seorang hamba tatkala ia sejujur-jujurnya kembali kepada Allah Ta’ala menangis di hadapan-Nya, merendahkan diri dan khusyuk karena-Nya, masuk dalam ketaatan kepada-Nya, berserah diri dengan hukum-Nya, beriman dengan ketetapan dan takdir-Nya, mengenali-Nya dan mengetahui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta mengimani Kitab-Nya dengan mentadaburinya dan bersungguh-sungguh membaca dan mengamalkannya.

Dengan semua sebab itulah perasaan gelisah, khawatir dan galau akan sirna, hati akan lapang, dan kebahagiaan akan terwujud, bukan dengan yang lainnya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallāhu ʿalaihi wa sallam dalam hadits Riwayat imam Ahmad:

مَا أَصَابَ أَحَدًا قَطُّ هَمٌّ وَلَا حَزَنٌ فَقَالَ:

“Tidak ada seorang pun yang tertimpa kekhawatiran atau kesedihan kemudian dia berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ ؛ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba lelaki-Mu dan hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, hukum-Mu pasti berlaku terhadapku, dan ketetapan-Mu tentu adil bagiku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama-nama yang Engkau Miliki, yang dengannya Engkau Menamai diri-Mu sendiri, yang Engkau Turunkan di dalam kitab-Mu, yang Engkau Ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, atau yang Engkau Rahasiakan dalam ilmu gaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau Menjadikan al-Quran sebagai penyejuk hatiku, cahaya dalam dadaku, pelipur kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku,

؛ إِلَّا أَذْهَبَ اللَّهُ هَمَّهُ وَحُزْنَهُ وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا

kecuali Allah akan Melenyapkan kegelisahan dan kesedihannya serta Mengganti kesedihannya dengan kegembiraan.” (HR. Ahmad)

Ketika kita merenungkan doa agung ini, di dalamnya terkandung empat asas agung yang mana seorang hamba tidak akan bisa mencapai kebahagiaan dan tidak akan mampu menghilangkan kekhawatiran, kegalauan, atau kesedihan dari dirinya kecuali dengan merealisasikannya dan mengamalkannya.

  • Asas pertama adalah seorang hamba harus merealisasikan peribadatan hanya kepada Allah Ta’ala menghadirkan kehinaan dan kekhusyukan di hadapan Allah secara sempurna, dan mengakui bahwasanya kita dimiliki, dikuasai, dan diciptakan oleh Allah Yang Maha Mengatur dan Maha Mengurus semuanya.
  • Asas kedua adalah seorang hamba wajib beriman dengan ketetapan dan takdir-Nya, bahwa segala yang Allah kehendaki akan terjadi dan segala yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi, dan bahwasanya tidak ada sesuatupun yang mampu melawan hukum-Nya, maupun menolak ketetapan-Nya.
  • Asas ketiga adalah seorang hamba wajib beriman dengan nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang agung yang tersebut dalam kitab-Nya dan sunah Nabi-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam serta bertawasul dengannya. Semakin besar pengetahuan seorang hamba tentang Allah nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, niscaya akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah, semakin meningkat rasa Murāqabah-nya (merasa diawasi oleh Allah), dan semakin jauh dirinya dari kemaksiatan dan perbuatan yang mengundang murka-Nya.
  • Asas keempat adalah kita selayaknya memberi perhatian khusus terhadap al-Quran yang mulia. Semakin seseorang memberi perhatian khusus terhadap al-Quran dengan membaca, menghafal, mempelajari, menadaburi, dan mengamalkannya, niscaya terkumpul pula baginya banyak sebab-sebab kelapangan dada, lenyapnya kekhawatiran, dan hilangnya kegalauan dan kesedihan dari dirinya.

Inilah empat asas yang disarikan dari hadis agung ini yang seyogiaya kita renungkan dan berusaha menerapkannya serta merutinkan doa yang penuh berkah ini, yang diajarkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan shalat sebagai penolong beliau dalam segala keadaan, dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam abu daud

كان إذا حزبه أمر فزع إلى الصلاة

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengalami sesuatu masalah serius, beliau segera melakukan salat”
HR. Abu Daud

Jadikanlah Allah ta’ala sebagai solusi pertama kita saat terjadi suatu masalah, ataupun saat rasa sedih, khawatir dan galau datang menghampiri kita semuanya. Jernihkan tauhid kita kepada-Nya dan mari tingkatkan keikhlaskan agama hanya kepada-Nya. Disebutkan dalam Sunan Abu Daud dengan sanad sahih dari Asma binti Umais —Semoga Allah Meridainya— bahwa Nabi Ṣhallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengajarkan kepadanya kalimat untuk diucapkan ketika tertimpa musibah atau dalam keadaan kesusahan,

اللَّهُ اللَّهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Ya Allah, ya Allah, wahai Tuhanku, aku tidak mempersekutukan-Mu dengan apapun).”

Ini adalah kalimat agung yang bisa diucapkan oleh seorang muslim ketika dia tertimpa kesusahan.

Mari penuhi hati kita dengan tauhid dan keikhlasan beragama kepada-Nya, niscaya kesusahan akan lenyap dan kekhawatiran serta kesengsaraan akan sirna dari diri kita, sehingga kita bisa mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala ta’ala Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakAllah ta’ala ta’alau fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close