Kejujuran Akan Menyelamatkanmu - pesantrenluluwalmarjan.org
Artikel IslamKhutbah Jumat

Kejujuran Akan Menyelamatkanmu

Kejujuran Akan Menyelamatkanmu
20 Desember 2024
Ustadz Aufa Abdullah

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Takwa itu berarti menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
(QS. Ali Imran: 102).

Beliau berkata:

أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى، وَيُذْكَرُ فَلاَ يُنْسَى، وَأَنْ يُشْكَرَ فَلاَ يُكَفَّرُ

“Maksud ayat tersebut adalah Allah itu ditaati, tidak bermaksiat pada-Nya. Allah itu terus diingat, tidak melupakan-Nya. Nikmat Allah itu disyukuri, tidak diingkari” (HR. Al Hakim)

Kita diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah. Menjauhi setiap larangan Allah adalah bentuk takwa. Tujuan menjauhi larangan-Nya adalah agar kita selamat dari siksa Allah. Itulah yang dikatakan oleh Talq bin Habib rahimahullah saat mendefinisikan takwa dalam kalimat yang indah,

التَّقْوَى أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ، وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عِقَابَ اللهِ

“Takwa berarti engkau menjalankan ketaatan pada Allah atas petunjuk cahaya dari Allah dan engkau mengharap pahala dari-Nya. Termasuk dalam takwa pula adalah menjauhi maksiat atas petunjuk cahaya dari Allah dan engkau takut akan siksa-Nya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Al Hafidz Ibnu Rajab Al Hanbali 1:400)

Yang dimaksud cahaya Allah disini adalah ilmu, dan sejatinya ilmu lah yang menghadirkan rasa takut kita kepada Allah. Sebagaimana perkataan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu:

أصل العلم خشية الله تعالى

Pokok dari ilmu adalah rasa takut kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِیزٌ غَفُورٌ

Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun” (QS. Fathir: 28)

Kejujuran adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri.

Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri, Dalam beberapa ayat, Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk berlaku jujur. Di antaranya pada firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.”
(QS. At Taubah 119)

Di dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala juga berfirman:

فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

Seandainya mereka berlaku jujur pada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad 21)

Dan yang mendasari sifat jujur ini pula sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong)
(Muttafaq ‘alaih)

Jujur dapat berupa ucapan seperti keselarasan antara berita yang diucapkan dengan keadaan yang ada, jadi ketika seseorang mengatakan sesuatu yang sesuai dengan kenyataannya, maka apa yang dikatakannya adalah benar atau jujur. Dan sebaliknya, ketika dia mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan realita kenyataan yang ada, maka tidak bisa dikatakan dia seorang yang jujur.

Jujur juga dapat berupa perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya).

Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata:

قال ابن القيم رحمه الله : الإيمان أساسه الصدق والنفاق أساسه الكذب فلا يجتمع كذب وإيمان إلا وأحدهما محارب للآخر . (مدارج السالكين 258\2)

“Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain.”

Jika ingin mengulas lebih dalam lagi sifat yang mulia ini akan banyak kita temukan keutamaan-keutamaan yang akan diraih oleh pemiliknya diantaranya:

  1. Allah menyifatkan diri-Nya dengan sifat agung ini. Allah jujur dalam ucapan-Nya,

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ حَدِيثًا

Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) selain Allah” (QS. An-Nisa 89)

Allah jujur dalam perbuatan-Nya

ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِبَغْيِهِمْ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan atas kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar” (QS. Al An’am 146)

Allah jujur dalam janji-Nya

وَعْدَ اللهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِّنَ اللهِ قِيلاً

Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya selain Allah” (QS. An Nisa 122)

Allah jujur dalam ancaman dan jujur dalam pemberitaan tentang kehidupan para nabi dan para wali-wali-Nya, serta Allah jujur dalam pemberitaan tentang musuh-musuh-Nya yang kafir.

  1. Dan kedudukan yang tinggi ini pula, Allah ta’ala berikan kepada hamba sekaligus rasul-Nya; Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman tentang pujian kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kebenaran serta kejujuran yang beliau bawa.

بَلْ جَآءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ

Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan raul-rasul (sebelumnya)” (QS. Ash Shaffat 37)

  1. Allah ta’ala juga menjelaskan sifat hamba-hamba-Nya yang beriman, yang jujur ​​dalam keimanan, perbuatan, perjuangan dan perjanjian-perjanjian mereka. Allah ta’ala berfiman:

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah 177)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أُوْلاَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, merekalah orang-orang yang benar
 (QS. Al Hujurat 15)

  1. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya). Allah ta’ala berfiman:

قَالَ ٱللَّهُ هَـٰذَا یَوۡمُ یَنفَعُ ٱلصَّـٰدِقِینَ صِدۡقُهُمۡۚ لَهُمۡ جَنَّـٰتࣱ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۤ أَبَدࣰاۖ رَّضِیَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُۚ ذَ ٰ⁠لِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِیمُ

Inilah saat orang yang benar/jujur memperoleh manfaat dari kebenarannya/kejujurannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.”
(QS. Al-Ma’idah 119)

  1. Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا.

Penjual dan pembeli diberi kesempatan menentukan pilihan selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat kejelasan terhadap barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.
(Mutafaqun ‘alaihi)

Inilah di antara keutamaan-keutamaan seorang yang berlaku jujur di dalam kehidupannya, semoga Allah ta’ala menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang berlaku jujur baik di dalam keseharian kita maupun di dalam segala perbuatan dan perilaku kita semua.

Orang yang selalu berbuat kebenaran dan kejujuran, niscaya ucapan, perbuatan, dan keadaannya selalu menunjukkan hal tersebut. Allah telah memerintahkan Nabi untuk memohon kepada-Nya agar menjadikan setiap langkahnya berada di atas kebenaran dan kejujuran sebagaimana firman Allah,

وَقُل رَّبِّ أَدۡخِلۡنِی مُدۡخَلَ صِدۡقࣲ وَأَخۡرِجۡنِی مُخۡرَجَ صِدۡقࣲ وَٱجۡعَل لِّی مِن لَّدُنكَ سُلۡطَـٰنࣰا نَّصِیرࣰا

Dan katakanlah (Muhammad), “Ya Tuhanku, masukkan aku secara masuk yang benar, dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku)
(QS. Al-Isra’ : 80)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu meminta kejujuran di dalam segala perbuatannya, kejujuran dapat direalisasikan oleh seorang hamba di dalam kehidupan sehari-harinya dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang shalih. Lawan dari jujur adalah dusta. Dan dusta termasuk dosa besar, sebagaimana firman Allah ta’ala

فَنَجۡعَل لَّعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَـٰذِبِینَ

Kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”
(QS. Ali Imran 61)

Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَذَبَ عَلَى ٱللَّهِ وَكَذَّبَ بِٱلصِّدْقِ إِذْ جَآءَهۤۚ أَلَیۡسَ فِی جَهَنَّمَ مَثۡوࣰى لِّلۡكَـٰفِرِینَ

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?”
(QS. az-Zumar: 32)

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakallahu fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close