Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Mencium Tangan Guru Dalam Perspektif Islam

Mencium Tangan Guru Dalam Perspektif Islam
Jum’at, 10 Mei 2024
Ustadz Abu Umar

Muslim yang hakiki adalah pribadi yang sangat mengerti akan keharusan berbakti dan memuliakan kedua orang tuanya. Ia adalah pribadi yang berlindung kepada Allah dari berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Yang demikian itu karena dirinya senantiasa mengingat firman Allah ta’ala:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan hendaklah kalian berbuat ihsan kepada kedua orang tua” (QS. An-Nisa: 36)

Allah ta’ala juga berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ۝ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil” (QS. Al-Isra’: 23-24)

Allah ta’ala juga berfirman:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu” (QS. Luqman: 14)

Dan tidak terkecuali dalam hal ini kepedulian seorang pribadi muslim dalam memuliakan pengganti orang tuanya, pembimbing jiwanya raganya, sosok yang Allah jadikan bagi dirinya perantara untuk menyembuhkan kebodohannya dalam beragama. Ialah sosok guru, sosok ustadz, sosok yang haknya untuk dimuliakan lebih besar dibandingkan kedua orang tua biologis kita sekalipun. Yang demikian itu karena dirinya mengingat firman Allah ta’ala:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan” (QS. Mujadalah: 11)

Ayat ini jika kita perhatikan dengan seksama menunjukkan kepada kita keagungan ilmu dan keagungan ahli ilmu. Maka seorang santri secara manusiawi menolak lupa untuk memuliakan guru, yang Allah telah menjadikan diri kita beruntung menimba ilmu kepadanya. Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Musa ‘alaihissalam

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?” (QS. Al-Kahfi: 66)

Berkata Al-Imam Ibnu Jauzi rahimahullah, Maksud dari “mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar)” menunukkan bahwa seseorang penuntut ilmu meninggalkan rumahnya dan mengikuti gurunya, dan merupakan motivasi bagi diri kita untuk bersikap tawadhu kepada mereka yang membimbing agama kita ini.

Dan termasuk nasihat di dalam ayat tersebut adalah untuk bersikap merendahkan diri kepada mereka yang lebih berilmu dan untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum bertanya dan melebihkan kadar dalam memuliakannya dan mencintainya. Dan barangsiapa yang tidak melakukan hal yang demikian, maka tidak berada di atas sunnahnya para Nabi, dan tidak pula di atas hidayah mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang berkaitan dengan hal ini;

Bukan bagian dari kami yang tidak memuliakan yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak mengerti hak dari orang yang berilmu yang mengajarkan kepadanya” (HR. Ahmad)

Sudah semestinya untuk menghormati dan menyayangi guru, memberikan penghormatan kepadanya dan bersikap tawadhu. Perkataan para ulama dalam hal ini banyak tertera di dalam kitab-kitab mereka. Sebagian ulama syafi’iyyah mengatakan “hak guru yang membimbing agamamu lebih di atas hak sang ayah, karena ia menjadi sebab di mana kita mengerti nasib kita, mengerti bagaimana kita bertindak tanduk untuk hari yang abadi kelak. Sementara ayah menjadi sebab dihasilkannya kebutuhan-kebutuhan yang fana”.

Gurumu adalah ayahmu bahkan dia lebih besar haknya dibandingkan ayahmu, karena ia memberikan kepadamu kehidupan yang kekal dan tidak demikian dengan ayahmu.

Adapun bangsa kita bangsa Indonesia sebagaimana sudah menjadi hal yang makruf, adalah bangsa yang mengekspresikan bakti kepada kedua orang tua dan pemuliaan kepada guru dengan mencium tangan. sebuah praktik yang sudah lama berkembang di Indonesia semenjak kekuasaan mataram islam.

Terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa praktik mencium tangan sudah dilakukan oleh para pendahulu kita.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رَزِينٍ قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ نَعُودُهُ، فَأَخْرَجَ إِلَيْنَا يَدَهُ ضَخْمَةً كَأَنَّهَا خُفُّ بَعِيرٍ، فَقَالَ: ” إِنِّي بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي هَذِهِ. قَالَ: «فَأَخَذْنَاهَا فَقَبَّلْنَاهَا

Dari Abdurrahman ibni Razin berkata “kami mengunjungi Salamah ibnil Akwa’, ia mengeluarkan tangannya yang besar seperti telapak onta kemudian beliau berkata, aku telah membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tanganku ini, maka diapun berkata maka kami ambil tangannya dan kami cium tangan tersebut.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: كُنْتُ فِي سَرِيَّةٍ مِنْ سَرَايَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْنَاهُ حَتَّى قَبَّلْنَا يَدَهُ

Dari Abdullah ibni Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, aku berada di salah satu di antara brigade dari pasukan khususnya Rasulullah, maka maka kami mendatangi beliau dan mencium tangannya.

Sudah sewajarnya bagi diri kita penuntut ilmu jika sekali waktu kita mencium tangan guru-guru kita, untuk memuliakan mereka, sebagai bentuk cinta dan penghormatan akan keutamaan. Hal ini merupakan perantara yang memiliki dasar yang dapat di pertanggungjawabkan dalam mengekspresikan adab kepada guru-guru kita. sebagaimana ini telah dilakukan oleh sebagian sahabat Nabi kepada guru mereka, shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam memuliakan dan beradab kepada guru kita. Mencium tangan diperlukan sebagai sarana untuk mengekspresikan hal tersebut, sebagaimana hal ini telah dijabarkan di atas. Mencium tangan ini juga membangun kedekatan yang lebih kepada guru-guru kita, juga membuka ruang komunikasi yang lebih bagi guru untuk lebih mengenal pribadi siswanya. Dan belum saya dapati yang semisal dengan mencium tangan tersebut.

Sementara di sisi lain, ada yang sengaja menyalahgunakan praktik mencium tangan sebagai sarana memperbudak, menyesatkan atau bahkan mengeksploitasi manusia lain. Hal ini tentunya bukan yang kita inginkan, dan diwaktu yang sama kita membutuhkannya sebagai sarana untuk beradab. Oleh karena itu, mari kita perhatikan beberapa rambu rambu yang disebutkan oleh para ulama:

  1. Diperbolehkan untuk mencium tangan dan kepala guru dengan alasan agama, karena mengikuti Rasulullah, pemuliaan kepada guru dengan kondisi aman dari hawa nafsu.
  2. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu pernah menjelaskan bahwa mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada yang berhak seperi ayah, orang yang sudah sepuh dan guru maka hal ini tidak mengapa. Kecuali jika dikhawatirkan menimbulkan madharat seperti membuat takjub yang dicium atau merasa yang dicium berada dalam kedudukan yang lebih tinggi maka hal ini terlarang.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakallahu fiikum.

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close