Mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala – Kajian Aqidah (Ustadz Fathurrohman)

Mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala merupakan kajian Islam Rutin yang disampaikan oleh: Ustadz Fathurrohman dalam pembahasan Aqidah. Kajian ini disampaikan pada 11 Dzulqa’dah 1439 H / 24 Juli 2018 M di Pesantren Al lulu wal Marjan Magelang.

Pada kajian Aqidah kali ini, pemateri melanjutkan kajian pekan lalu dari muqoddimah kitab syarhu usulil iman dan pada kesempatan kali ini pemateri membahas hadits pertama:

Allah [Islamic phrases=”Subhanahu wa Ta’ala”]E[/Islamic] berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكََاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أََشْرَكَ فِيْهِ غَيْرَهُ تَرَكْتُهُ وَ شِرْك

Saya adalah dzat yang paling tidak butuh kepada sekutu (teman). Barangsiapa melakukan satu perbuatan, dia sekutukan aku dengan yang lain pada amal itu, maka aku tinggalkan (biarkan) ia dengan sekutunya (Shahih Muslim, kitab az-Zuhud (2985)

Allah [Islamic phrases=”Subhanahu wa Ta’ala”]E[/Islamic] tidak akan menerima satu amalanpun, kecuali dengan ikhlas dan sesuai petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah maksud dari firman Allah:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya. [Al Kahfi/18:110]

Oleh karena itu para ulama’ berkata: Syarat diterimanya sebuah amal shallih ada dua yaitu amal perbuatan tersebut diikhlaskan untuk mencari wajah Allah dan syarat kedua adalah amal tersebut harus sesuai petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحْدَثََ فِيْ أَمْرِنَا هَذََ مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوََ رَدٌّ

Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru (yang tidak ada petunjuk dari Rasul) dalam agama kita ini maka ia tertolak. (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Dan

مَنْ عَمِلََ عَمَلاً لَيْسََ عََلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintah kami maka amalan itu tertolak. (HR. Muslim no. 1718)

Definisi Iman

Iman menurut Ahlus Sunnah adalah perkataaan dalam lisan, keyakinan dalam hati dan amalan dengan anggota badan.

Imam Ahmad berkata,

الإيمان قول وعمل يزيد وينقص

“Iman adalah perkataan dan amalan, bisa bertambah dan berkurang.” (Diriwayatkan oleh anaknya ‘Abdullah dalam kitab As Sunnah, 1: 207)

Imam Bukhari berkata dalam awal kitab shahihnya,

وهو قول وفعل يزيد وينقص

“Iman itu perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.” Sampai beliau berkata,

والحب في الله والبغض في الله من الإيمان

“Cinta karena Allah dan benci karena Allah adalah bagian dari iman.” (Shahih Al Bukhari dalam Kitab Al Iman)

Definisi iman bukan hanya terbatas pada perkataan dua ulama di atas. Bahkan para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah telah bersepakat mengenai pengertian iman seperti itu.

Cabang Iman

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).

Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah perkataan di lisan, keyakinan dalam hati, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.

Disebutkan dalam hadits di atas bahwa cabang iman yang tertinggi ialah kalimat ‘laa ilaha illalah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Kalimat tersebut adalah pokok Islam dan Iman. Kalimat tersebut merupakan rukun pertama dari Islam dan yang bisa membuat seseorang masuk Islam.

Sedangkan cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, yang dimaksud di sini adalah menyingkirkan setiap gangguan apa pun. Sedangkan meletakkan gangguan di jalanan termasuk sesuatu yang terlarang.

Malu pun termasuk cabang iman. Seseorang yang memiliki sifat malu, maka dirinya akan semakin mempesona dengan akhlaknya yang mulia tersebut. Malu ada dua macam sebagaimana dijelaskan oleh guru kami, Syaikh Sholih Al Fauzan:

  1. Malu yang terpuji: Malu yang bisa mengantarkan pada kebaikan dan mencegah dari kejelekan.
  2. Malu yang tercela: Malu yang menghalangi seseorang dair berbuat baik, dari menuntut ilmu dan malu bertanya dalam perkara yang dibingungkan.

Cabang iman sebenarnya amatlah banyak, sebagaimana disebutkan ada 60 atau 70 sekian cabang. Bahkan Imam Al Baihaqi memiliki karya tulis dalam masalah cabang-cabang iman ini, yaitu dalam kitab Syu’abul Iman dan kitab ringkasannya pun sudah ada yang tercetak (dalam versi Arabic).

Mari Simak Penjelasan Lengkapnya dengan mendownload audio atau play audionya dibawah ini:

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan hasil rekaman ataupun link kajian yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi terbaru dari Pesantren Al lulu wal Marjan, melalui:
Facebook Page: Pesantrenluluwalmarjan
Twitter: @ponpesallulu
Instagram: @pesantrenluluwalmarjan
Website: pesantrenluluwalmarjan.org

Dapatkan rekaman audio kajian di Pesantren Al lulu wal Marjan lainnya, melalui:
Soundcloud: pesantrenluluwalmarjan
Download Kajian: klik disini

Diposting pada 11 Dzulqa’dah 1439 H / 24 Juli 2018 M di Pesantren Al lulu wal Marjan Magelang.

Diterbitkan oleh

Pesantren Al-Lu'lu' Wal Marjan

Menjadi Pesantren Yang Membentuk Generasi Muda Islam Cerdas, Fasih dan Hafizh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.