Artikel IslamArtikel Pilihan

Menuntut Ilmu Kepada Guru Yang Benar

بسم الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Ilmu adalah modal utama seorang muslim dalam kehidupannya. Karena dengan ilmu seseorang dapat membedakan kebenaran dan kesalahan. Dengannya juga seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Peran ilmu dalam kehidupan ini sangatlah penting bahkan melebihi perhatiannya seseorang terhadap kesehatan jasmaninya berupa makanan dan minuman. Karena ruh di dalam jiwa tidak bisa hidup melainkan harus diberikan pertumbuhan asupan berupa ilmu, seperti halnya seseorang memberikan asupan terhadap anggota tubuhnya berupa makanan dan minuman.

Oleh karenanya, Syaikhul Islam ibnu Taimiyah mengatakan:

“Oleh karena itu sebuah jiwa untuk mengetahui apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (ilmu) dan untuk dapat mengikutinya itu lebih besar kebutuhannya dari makanan dan minuman, karena sejatinya kosongnya seseorang dari ilmu maka dia akan berada dalam jurang kehancuran baik di dunia dan di akhirat, maka sepantasnya setiap seseorang untuk mengorbankan pikirannya dan bersungguh – sungguh dalam hal mengetahui apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk mengikutinya, karena hal tersebut salah satu  bentuk jalan keselamatan dari azab Allah ta’ala dan salah satu bentuk jalan menuju kebahagiaan di hari kiamat kelak. (Majmu’ fatawa, 1/5-6)

Maka benar apa yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah tersebut dan dikuatkan juga dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an dan hadits, sebagaiamana Allah ta’ala berfirman:

{ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ } { يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ }

“Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menjelaskan. Dengan kitab itulah Allah ta’ala memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaannya ke jalan keselamatan dan dengan kitab itu pula Allah ta’ala mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izinnya, dan menuju jalan yang lurus” (QS. Al-Maidah: 15-16)

Allah ta’ala juga menjelaskan betapa besarnya keutamaan ilmu pada diri seseorang dan dapat dibedakan dirinya dari kejahilan.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Katakanlah apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar: 9)

Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini pada makna “Ulul Albab”:

“Merekalah orang –orang yang berakal dalam hatinya yang bersih dan memiliki kecerdasan, dan mereka memiliki impian yang sangat tinggi dari pada yang rendah, dan mereka mengutamakan ilmu dari pada kejahilan, dan mereka mengutamakan ketaatan kepada Allah daripada menyelisihi perintahnya, dikarenakan akal mereka mengarahkannya kepada akhirat, berbeda dengan orang yang tidak memeiliki akal dan nalar yang sehat karena mereka diperbudak dengan hawa nafsunya” (Tasir Qur’anul Azhim: 1/ 720)

Di antara bentuk hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan keutamaan ilmu adalah:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah ta’ala maka akan dijadikan fakih (paham) terhadap ilmu agama ini” (HR. Bukhari: 71)

« مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam hal mencari ilmu maka Allah ta’ala akan mudahkan jalannya menuju surga” (HR. At-Tirmizi: 2858 dan dinyatakan hadits hasan)

Maka akan menjadi jelas dan gamblang dari beberapa ayat dan hadits bagaimana besarnya keutamaan ilmu disisi Allah ta’ala dan Rasulnya.

Bahkan salah seorang ulama’ salaf yaitu imam Ahmad rahimahullahu mengatakan:

العِلمُ لا يَعْدِلُهُ شيء لِمَنْ صَحَّت نيَّتُهُ

“Ilmu tidak ada sesuatu yang menandinginya terhadap orang yang baik niatnya” (Syarhu Mumti’: 4/6)

Dengan mulianya sebuah ilmu pada diri, seseorang harus memeperhatikan adab dan etika dalam mengambilnya, karena ini adalah berkiatan dengan agama, sebagaimana salah seorang ulama salaf mengatakan:

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dimana kamu mengambil agama kalian” (Adab As-Syar’iah Ibnu Muflih: 2/233)

Di antara adab dalam menuntut ilmu adalah sebagaimana para ulama telah menjelaskannya yaitu harus selektif dan penuh kewaspadaan dalam mengambi ilmu, bukan dengan seenak-enaknya dalam mengambilnya. Lihatlah para ulama salaf mereka sangat penuh waspada dan berhati-hati dalam mengambil ilmu, karena mereka tidak mau mengambil ilmu kecuali dari orang-orang yang sudah diketahui sifat dan akhlaknya yang baik. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibrahim An-Nakha’i menuturkan:

“Mereka para ulama salaf apabila mendatangi rumah seseorang untuk menimba ilmu, maka mereka melihat pertama kali adalah akhlak dan shalatnya dan keadannya, maka apabila ada itu semuanya, maka mereka mengambilnya” (Adab As-Syar’iah Ibnu Muflih: 2/335)

Bahkan Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan:

Seseorang diambil hadisnya kecuali tiga orang: orang yang mengikuti hawa nafsunya dan mengajak orang lain kepadanya, dan para pendusta, dan seseorang yang selalu memiliki banyak kesalahan dalam mengambil hadits kemudian ditolak haditsnya, maka tidak diterima orang yang seperti ini.” (Adab As-Syar’iah Ibnu Muflih : 2/335)

Abdullah bin Mas’ud rahimahullahu mengatakan:

“Senantiasa seseorang berada dalam kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang yang besar (baik dalam agamanya) dan dari ulama’ mereka dan orang-orang yang amanah, dan jika mereka mengambilnya dari orang-orang yang kecil (tidak jelas keilmuannya) dan orang –orang buruk akhlaknya maka mereka akan celaka” (Adab As-Syar’iah Ibnu Muflih: 2/335

Dan lihatlah apa yang diutarakan oleh Abu Qilabah rahimahullahu dalam hal nasihatnya kepada anak muridnya:

“Janganlah kalian duduk bersama ahlul bid’ah, karena sejatinya aku tidak merasakan aman dikhawatirkan mereka akan menenggelamkan kalian diatas kesesatannya  atau membuat kalian bimbang terhadap apa yang kalian ketahui dari agama ini” (Al-I’tiqad lil Baihaqi : 222, 1/248)

Maka lihatlah bagaimana nasihat orang yang alim rabbani yang menasehati muridnya untuk mengingatkan mereka agar tidak mengambil ilmunya dari orang –orang yang tidak jelas akhlak dan aqidahnya. Karena hati seseorang sangat lemah dan fitnah terus menyambar, coba renungilah beliau mengatakan ini di zaman yang sangat dibuktikan keimanannya dan bagaimana dengan zaman sekarang? Maka lebih antisipasi dan penuh kewaspadaan.

Sebagai penutup dalam artikel ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam sahihnya Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda:

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Akan datang di akhir zaman seseorang yang menyampaikan agama kepada kalian dengan apa yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya maupun dari bapak-bapak kalian maka waspadalah kalian dari mereka” (HR.Muslim: 15, 1/ 9)

Dalam sebuah riwayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

يَكُونُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ يَأْتُونَكُمْ مِنَ الأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ لاَ يُضِلُّونَكُمْ وَلاَ يَفْتِنُونَكُمْ

“Pada akhir zaman akan ada para pembohong yang membawa berita kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar, tidak juga pernah didengar oleh bapak-bapak kalian. Maka hati-hatilah kalian, dan hindarilah mereka, agar tidak menyesatkan kalian, juga tidak mendatangkan fitnah kepada kalian.” (HR. Muslim; 16)

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close