Artikel Islam

Nasihat Untuk Penuntut Ilmu

Nasihat Untuk Penuntut Ilmu
Khutbah Jum’at, 05 Mei 2022
Ustadz Abu Umar

Di antara nikmat-nikmat Allah ta’ala yang kita syukuri setelah nikmat iman dan islam adalah nikmat dijadikannya diri kita di dalam barisannya orang-orang yang menuntut ilmu. Di dalam barisan orang-orang yang peduli untuk belajar ilmu agama, maka kondisi para thalibul ilmi tentunya adalah kondisi yang semestinya lebih baik dari pada mereka yang bukan thalibul ilmi.

Tidak dipungkiri di zaman di mana fitnah ini tersebar dengan begitu cepat, keburukan itu tersebar di mana-mana, bahkan sampai memasuki celah-celah rumah kita, keburukan itu demikian mudahnya untuk terakses. Tetaplah kita senantiasa melihat nikmat Allah ta’ala dengan dijadikannya kita termasuk dari orang yang berada pada barisan thalibul ilmi. Karena hal tersebut membuat kita lebih mudah bagi diri kita untuk menjauh dari keburukan-keburukan yang ada, serta lebih mudah bagi diri kita untuk senantiasa mengupayakan diri kita jauh dari hal-hal yang menyebabkan Allah ta’ala murka pada diri kita.

Maka dari itu thalibul ilmi senantiasa mengupayakan bahwa dirinya senantiasa menjadi orang yang paling jauh dari kemaksiatan kepada Allah ta’ala, terlebih saat dirinya sendiri. Allah ta’ala berfirman:

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan” (QS. Az-Zumar : 67)

Memperhatikan ayat tersebut menunjukkan kepada kita betapa besar dan agungnya Allah dan betapa kecil serta lemahnya diri kita. Sebagai thalibul ilmi juga terbuka kesempatan bagi kita untuk lebih memahami hal ini. Mana kala mengingat firman Allah ta’ala:

ما لكم لا ترجون لله وقارا * وقد خلقكم أطوارا

Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah? Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian)” (QS. Nuh : 13-14)

Jika sebelumnya kita melihat betapa besar keagungan Allah akan ciptaan-ciptaannya yang ukurannya tentu lebih besar dari pada kita. Hal ini menunjukkan betapa diri kita adalah makhluk yang kecil. Ayat kali ini juga menunjukkan kepada kita bagian-bagian atau hal-hal kecil sekali yang jauh lebih kecil dari kita bahkan kita tidak bisa menciptakannya. Maka dengan mengetahui betapa kecilnya kita di hadapan Allah, betapa lemahnya kita di hadapan Allah, lebih mudah bagi kita thalibul ilmi untuk menjadi mereka yang terjauh dari kemaksiatan kepada Allah.

Kemudian, seorang penuntut ilmu juga adalah orang yang paling jauh dari melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Karena seseorang yang menuntut ilmu agama terbuka lebar bagi dirinya untuk mencintai Allah ta’ala. Lebih mudah baginya untuk mendidik dirinya agar lebih mencintai Allah, terlebih ketika dia mengingat firman Allah ta’ala:

والذين آمنوا أشد حبا لله

Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 165)

Begitu juga ketika dia mengingat firman Allah ta’ala:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran : 31)

Maka dengan dirinya menuntut ilmu kemungkinan lebih besar bagi dirinya untuk mentarbiyyah dirinya sendiri agar lebih mencintai Allah ta’ala dan menjauhkan dirinya dari kemaksiatan kepada Allah ta’ala.

Di antara juga yang merupakan nikmat Allah kepada kita sebagai thalibul ilmi adalah Allah ta’ala mengkaruniakan kepada kita untuk lebih mengetahui limpahan nikmat-nikmat-Nya kepada kita, di saat orang-orang hanya mengerti bahwa nikmat Allah itu mungkin cuma harta. Akan tetapi kita mengetahui bahwa nikmat-nikmat Allah itu begitu luas, tidak dapat diri kita menghitungnya, Allah berfirman:

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya” (Qs. An-Nahl : 18)

Menyadari hal ini, di mana kekuatan yang kita miliki bersumber dari nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita, maka bagaimana mungkin kekuatan itu kita gunakan untuk berbuat durhaka kepada Allah, berbuat maksiat kepada Allah, membuat diri-Nya tidak ridho? Maka seorang thalibul ilmi tentunya lebih mudah untuk mengatakan kepada dirinya. Ketika jiwanya menggoda-goda untuk berbuat kemaksiatan, maka seorang thalibul ilmi membentak dirinya dan mengatakan “wahai jiwaklu, kalau memang engkau memaksa untuk berbuat maksiat, maka bisakah engkau menghentikan aku dari untuk berhenti memakan dari apa yang Allah telah rizkikan kepadaku?

Kalau engkau masih terus menggoda diriku untuk berbuat maksiat maka bisakah engkau mencarikan solusi agar aku bisa makan dari rizki selain rizki Allah? Kalau memang engkau masih memaksa-maksa aku berbuat maksiat, bisakah kau carikan tempat untukku tinggal di tempat yang bukan miliknya Allah?”. Maka seorang thalibul imi menyadari bahwasanya ia tidak mungkin makan kecuali dari rizki Allah, tidak mungkin tinggal kecuali di tempatnya Allah, ia juga menyadari bahwa tidak mungkin dirinya untuk menemukan tempat yang Allah tidak bisa melihatnya ketika dia berbuat maksiat.

Demikian pula seorang thalibul ilmi dengan sepenuh kesadaran menyatakan bahwasanya tidak mungkin tatkala ia mengetahui kematian itu tidak akan bisa ia tebak kapan datangnya, lantas ketika kematian benar-benar datang dan malaikat maut mendatanginya kemudian dia akan mengatakan “Maaf, bisakah kematian saya ditunda?”

Seorang thalibil ilmi tentunya akan melihat hal ini malu sekali ketika dia menyadari nikmat-nikmat Allah ini terlimpah kepada dirinya akan tetapi dia masih terus bermaksiat kepada Allah ta’ala. Dengan bantuan dan pertolongan nikmat dari Allah ini pula, seorang thalibul ilmi mestinya adalah orang yang paling khawatir jika dia mendapatkan murkanya Allah. Sangat khawatir jika dirinya akan dimurkai Allah ta’ala terlebih ketika dia mengingat firman Allah ta’ala:

فَلَمَّآ اٰسَفُوْنَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَاَغْرَقْنٰهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ

 “Maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami hukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut)” (QS. Az-Zukhruf : 55)

Atau ketika dia mengingat firman Allah ta’ala:

وَمَنْ يَّحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِيْ فَقَدْ هَوٰى

Barangsiapa ditimpa kemurkaan-Ku, maka sungguh, binasalah dia” (QS. Taha : 81)

Dengan dijadikannya kita semua sebagai jajaran orang-orang yang menuntut ilmu maka kitalah menjadi orang yang paling terdepan merasa gelisah dari melakukan kemaksiatan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فعن ثوبان ﷺ عن النبي ﷺ أنه قال: «لأعلمن أقوامًا من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة بيضا، فيجعلها الله برجل هباء منثورا»، قال ثوبان: يا رسول الله صفهم لنا، جلهم لنا أن لا نكون منهم ونحن لا نعلم، قال: «أما إنهم إخوانكم، ومن جلدتكم، ويأخذون من الليل كما تأخذون، ولكنّهم أقوام إذا خلوا بمحارم الله انتهكوها»

Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.”

 Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.”

 Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.” (Shahih. HR. Ibnu Majah).

Mari kita melihat diri masing-masing, saat kita pribadi terkhusus pada hari-hari di mana kita tidak berkumpul dengan ikhwah sesama mereka yang senantiasa mengikatkan dirinya untuk taat kepada Allah ta’ala, kita senantiasa mengingat nikmat-nikmat yang telah Allah ta’ala berikan sebelumnya. Juga hal tersebut memungkinan bagi kita untuk lebih mengetahui tentang keagungan Allah, terbuka bagi diri kita kesempatan untuk lebih mentarbiyah kita agar lebih mencintai Allah, terbuka kesempatan bagi diri kita untuk lebih menyadari akan limpahan nikmatnya, sehingga kita malu jika kita termasuk yang melakukan yang diharamkan oleh Allah ta’ala dan lebih mudah bagi diri kita untuk menyadari kemurkaan Allah pada diri kita.

Kita hisab diri kita, apakah di liburan kita ini kita termasuk orang-orang yang berbahagia dengan sampah-sampah dari negeri-negeri kafir yang dimasukkan melalui internet? Mendengarkan musik, bermain tik-tok dan hal-hal yang diharamkan oleh Allah? Menghabiskan waktu-waktu kita hanya untuk menonton film yang tidak jelas? Bahkan sampai meninggalkan sholat berjamaah atau bahkan mungkin bergaul dengan teman-teman yang melakukan kemaksiatan akan tetapi kita tidak sanggup mengingkarinya? Atau mungkin di antara kita meninggalkan atau tidak istiqomah di atas jalan sunnah? Mari kita lihat diri kita masing-masing. Semoga Allah mudahkan diri kita termasuk pada jajaran orang yang menuntut ilmu yang memudahkan kita untuk mentarbiyah diri agar menjadi lebih baik di sisi Allah ta’ala.

Demikian ringkasan khutbah ini kami sampaikan, semoga dapat memberikan manfaat dan barakah bagi yang membacanya.

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close