Nilai Akademik Bukan Segalanya - pesantrenluluwalmarjan.org
Artikel IslamKhutbah Jumat

Nilai Akademik Bukan Segalanya

Nilai Akademik Bukan Segalanya
03 Januari 2025
Ustadz Harits

Suatu hal yang tidak kita pungkiri bahwa mungkin ada sebagian murid ataupun bahkan orangtua yang menilai keberhasilan pendidikan anak-anak mereka dari prespektif nilai akademik saja. Prestasi akademik, nilai-nilai yang tercantum di raport masih menjadi tolak ukur keberhasilan sebuah pendidikan.

Di dalam islam, keberhasilan pendidikan tidak selalu dilihat dari angka-angka di raport ataupun hasil ujian akhir. Akan tetapi berhasil atau tidaknya pendidikan sesungguhnya bisa kita lihat dari berhasil atau tidaknya seorang anak yang tumbuh menjadi generasi yang shalih dan shalihah, berakhlak baik, menunaikan hak Allah sebagai rabbnya dan juga peduli kepada makhluk Allah, bermanfaat bagi sesama. Oleh karena itu. hendaknya kita perhatikan apakah pendidikan yang kita dapatkan sudah mengantarkan kita untuk berpegang teguh kepada akidah yang benar? Yang selamat dari berbagai macam syirik, khurafat dan penyimpangan-penyimpangannya, sudahkah kita menyadari posisi kita sebagai seorang hamba Allah yang telah menciptakan kita. Sudahkah tertanam pada diri kita bahwasanya kita hanyalah seorang hamba yang diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz Dzariyat: 56)

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berusaha menanamkan prinsip-prinsip akidah kepada para sahabat beliau, hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي العَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ: خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً فَقَالَ لِي: (( يَا غُلاَمُ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ ))

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’
(HR. Tirmidzi)

Lihatlah, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan tauhid kepada sahabatnya yang masih sangat muda, yang bahkan ketika Rasulullah meninggal dunia Ibnu Abbas masih berusia 13 tahun, dalam riwayat lain mengatakan berusia 10 tahun. Oleh karena itu, hendaknya kita perhatikan apakah pendidikan yang kita dapatkan sudah menjadikan kita sebagai sosok yang tunduk dan taat menjalankan perintah Allah atau justru sebaliknya.

Selain akidah yang benar, maka faktor lain yang hendaknya diperhatian, sudahkah kita terbiasa dengan ibadah yang shahihah yaitu ibadah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Sudahkah kita berwudhu dan sholat sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah kita telah menghafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:

عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»، رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kalian (dengan cara) sebagaimana kalian melihatku shalat.
(HR. Bukhari)

Yang sangat disayangkan adalah sebagian orang tua tidak perhatian kepada ibadah anak-anak mereka. Mereka membiarkan anak-anaknya sholat semaunya atau bahkan sebagian dari mereka tidak peduli apakah anaknya sudah sholat atau tidak. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memberikan arahan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مُرُوا أولادَكم بالصلاةِ وهم أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، واضْرِبُوهُمْ عليها، وهم أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ

Perintahkanlah anak-anakmu agar menunaikan salat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka jika sembarangan menunaikannya ketika mereka berumur sepuluh tahun dan pisahkan mereka dalam tempat tidurnya.”
(HR Abu Dawud)

Ini sebuah petunjuk yang menunjukkan agar seseorang memberikan perhatian terhadap ibadah, baik ibadah sendiri maupun ibadah anak-anaknya.

Selain faktor akidah dan ibadah, faktor lain yang hendaknya tidak luput dari perhatian kita adalah akhlak yang mulia. Sudahkah pendidikan yang kita dapatkan menjadikan kita seorang yang berakhlak mulia? Karena lahirnya akhlak yang mulia adalah bentuk keberhasilan dari sebuah proses pendidikan. Apakah kita sudah terbiasa menjaga sopan santu kita? Apakah kita sudah terbiasa menjaga lisan kita dari ucapan-ucapan yang kotor? dan lain sebagainya.

Akhlak yang mulia adalah parameter kebaikan pada diri seseorang. Semakin bagus akhlaknya, maka semakin baik pula dia di sisi Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Tirmidzi)

Inilah beberapa faktor yang hendaknya dijadikan sebagai parameter keberhasilan sebuah Pendidikan. Jangan kita batasi keberhasilan hanya berdasarkan nilai dan prestasi akademik saja, jadikan pula keshalihan sebagai faktor utama untuk menilai keberhasilan sebuah pendidikan. Seorang anak apabila dia dididik dengan baik kemudian dia menjadi anak yang shalih dan shalihah, dia akan berbakti kepada kedua orangtuanya, baik ketika mereka hidup maupun setelah mereka meninggal dunia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh
(HR. Muslim)

Dengan do’a dan istighfar, permohonan ampun dari anak kepada orang tuanya, maka derajat orang tuanya akan diangkat oleh Allah ta’ala. Dalam sebuah hadits dari sahabat mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِى الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : أَنَّى لِيْ هٰذَا ؟ فَيُقَالُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Sesungguhnya seseorang (Bapak/Ibu) bakal diangkat derajatnya di surga. Lalu ia bertanya ‘Dari mana saya mendaptkan hal ini?’ lalu dijawab ‘berkat istighfar anakmu kepadamu’
(HR. Ibnu Majah)

Oleh karena itu, marilah kita bersemangat untuk menjadi anak yang shalih dan juga mendidik anak-anak kita menjadi anak yang shalih dan shalihah. Karena inilah yang akan membawa keberuntungan bagi kita, baik di dunia maupun di akhirat. Syaikh Muhammad Bin Muhammad Al Mukhtar Asy Syinqithi hafidzahullah pernah mengingatkan kepada kita:

“Ujian di dunia mengingatkan kita akan ujian di akhirat kelak”

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakallahu fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close