Pembatal Keislaman IX

Islam memiliki dua pedoman yang harus dipegang teguh dalam menjalankan ibadah, agar ibadah tersebut diterima oleh Allah ta’ala dan dapat dinilai sebagai pahala. Dua hal tersebut adalah alquran dan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ : 59)

Pada ayat diatas telah dijelaskan untuk senantiasa mentaati Allah ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Barangsiapa yang berselisih pendapat dalam suatu perkara, maka kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Definisi dari “taat” yaitu senantiasa tunduk, patuh serta mengikuti apa yang telah diajarkan. Sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk senantiasa patuh dan tunduk serta mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عليكم بسنتي وسنة الخلفاءِ الراشدين المَهديين منْ بعدي ، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ ،وإياكم ومحدثات الأمورِ؛ فإن كل بدعة ضلالة

Wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin sepeninggalku. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At-Tirmidzi No. 2676. Ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).

Barangsiapa yang mengikuti rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia telah berada di jalan yang lurus yang kelak akan membawanya ke surga. Namun barangsiapa tidak mentaati rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ancaman siksa kubur serta adzab pedih yang akan dia dapatkan. Allah ta’ala berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur : 63)

Mengikuti rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah suatu kewajiban. Kewajiban itu adalah hal yang harus dilakukan, maka seorang muslim tidak boleh meyakini adanya sebagian orang yang tidak berkewajiban mengikuti rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfriman :

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

Diterbitkan oleh

Pesantren Al-Lu'lu' Wal Marjan

Menjadi Pesantren Yang Membentuk Generasi Muda Islam Cerdas, Fasih dan Hafizh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.