
Wasiat Agung Baginda Rasulullah
Wasiat Agung Baginda Rasulullah
Khutbah Jum’at, 02 Juni 2023
Ustadz Imam Rosyadi
Allah Ta’ala telah mengumpulkan dalam diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa jawaami’ kalim, yaitu ucapan beliau yang singkat, namun penuh dengan makna dan faidah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki wasiat-wasiat yang agung, kalimat yang indah. Siapa pun yang berusaha mencari dan mengamalkannya, niscaya dia akan beruntung di dunia dan akhirat.
Salah satunya adalah hadits yang diceritakan dari sahabat Abu Ayyub al-Anshâri radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadits itu diberitakan bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan:
عِظْنِي وَأَوْجِزْ -وفي رواية -عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ -قَالَ: إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ- وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا – وَاجْمِعِ الْيَأْسَ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ
“Berilah aku nasehat dengan ringkas! (dalam riwayat lain) Ajarilah aku dengan ringkas! Lalu Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kamu berdiri hendak melaksanakan shalat, maka shalatlah sebagaimana shalat orang yang pergi selamanya;- Janganlah kamu mengucapkan satu perkataan yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok harinya;- bertekatlah untuk tidak mengharapkan apa yang dimiliki orang lain.”
[HR. Imam Ahmad, no. 23498 dan Ibnu Majah, no. 4171. Lihat as-Shahihah, no. 401]
Nasehat agung yang singkat ini berisi tiga wasiat yang menghimpun semua kebaikan, baik di dunia dan akhirat. Barangsiapa memahaminya lalu mengamalkannya, maka dia akan meraih semua kebaikan, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Wasiat pertama yaitu wasiat tentang shalat, agar kaum muslimin memberikan perhatian ekstra dan menunaikannya dengan benar. Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas mengajak setiap orang yang hendak melaksanakan shalat agar dia mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh. Sebagaimana orang yang mengerjakan shalat yang terakhir, dia tahu dirinya tidak bisa lagi mengerjakan shalat setelah itu. Jika seseorang yang mengerjakan shalat merasa bahwa itu adalah shalat terakhir yang bisa dilakukan, maka pasti dia akan bersungguh-sungguh dalam mengerjakannnya. Dia pasti akan mengerjakannya dengan baik dan benar, dia pasti akan berusaha menyempurnakan semua rukun-rukunnya, hal yang diwajibkan atau bahkan hal-hal yang sunnah tidak akan ia tinggalkan sedikitpun.
Oleh karena itu, semestinya setiap orang yang hendak melaksanakan shalat mengingat wasiat Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dalam setiap shalat yang sedang dia lakukan. Barangsiapa melaksanakan shalat dengan baik dan benar, maka shalat tersebut akan memandu dan membimbingnya kepada semua kebaikan dan keutamaan. Dan shalat seperti itu akan menjadi penyejuk mata (penenang baginya) dan mendatangkan kebahagiaan.
Shalat disebut amalan terbaik, karena shalat adalah tiang agama. Shalat tempat bermunajat (memohon do’a) seorang hamba. Shalat menjadi tolak ukur amalan yang lainnya. Artinya: jika shalatnya baik, maka yang lainnya baik dan jika shalatnya buruk, maka amalan lainnya juga buruk. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ.
“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Apabila salatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila salatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath 2: 512, no. 1880).
Shalat juga menjadi cahaya dalam diri seseorang, keluarga dan rumah tangganya, serta cahaya pada hari Kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالصَّلَاةُ نُـوْرٌ
“Shalat adalah cahaya” (HR. Muslim)
Wasiat Kedua, Wasiat Agar Menjaga Lisan. Janganlah kamu mengucapkan satu perkataan yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok harinya. Lisan manusia termasuk anggota badan yang paling berbahaya. Jika sebuah kalimat atau ucapan belum keluar dari mulut seseorang, maka itu artinya si pemilik lisan masih bisa mengendalikan kalimat yang belum terucap tersebut. Namun jika suatu kalimat atau perkataan sudah terucap dari lisan, maka kalimat yang terucap itu akan menjadi penguasa atas si pengucap dan dia akan memaksanya untuk menanggung resiko ucapannya tersebut. Sabda Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا
“Janganlah kamu mengucapkan suatu kalimat yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok harinya”
Artinya, bersungguh-sungguhlah dalam menahan lisanmu agar tidak mengucapkan perkataan yang kamu khawatir harus meminta maaf karenanya di kemudian hari. Selama anda belum mengucapkan kalimat atau perkataan itu, berarti anda masih memegang kendali, tapi jika sudah diucapkan oleh lisan, berarti ucapan itulah yan memegang kendali atas diri kita.
Dalam wasiat Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu:
أَلاَ أُخْبِرُكَ بِملاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قَالَ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ، فَأَخذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا، قَالَ: يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ قَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَامُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّار عَلَى وُجُوهِهِم، أَو قَالَ: “عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلسِنَتِهِمْ
“Maukah engkau aku beritahu kunci dari semua itu? (Mu’adz mengatakan), “Tentu wahai Rasûlullâh.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang lidahnya seraya bersabda, “Tahanlah ini!” (Mu’adz mengatakan), “Wahai Nabi Allâh! Apakah kita akan disiksa dengan sebab ucapan yang kita ucapkan?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Mua’dz, kasihan sekali kamu! bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur tidak lain disebabkan hasil yang mereka peroleh dari ucapan-ucapan lisan mereka?” (HR. Tirmidzi, shahih)
Hadis lain yang menjelaskan bahwa lisan itu sangat berbahaya. Dalam sebuah hadits dari shahabat Tsabit, Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
إذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ، فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ وَتَقُولُ: اتَّقِ اللَّهَ فِينَا، فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا، وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
“Jika bani Adam memasuki waktu pagi, maka seluruh anggota badan manusia tunduk kepada lisan lalu mereka mengatakan, ‘Bertakwalah kalian dalam urusan kami, karena kami selelau bersamu. Jika kamu lurus, maka kami juga lurus dan jika kamu bengkok, maka kami juga bengkok. Ketahuilah yang dimaksud adalah lisan” (HR. Tirmidzi, shahih)
Sabda Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا
“Janganlah kamu mengucapkan suatu kalimat yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok harinya”
Dalam potongan hadis ini, terdapat seruan, ajakan dan himbauan untuk selalu introspeksi diri dalam masalah ucapan-ucapan yang terucap dari lisan. Hendaklah kita merenung sebelum berucap, jika kita memandang ucapan itu mendatangkan kebaikan, maka ucapkanlah! Namun jika ucapan yang akan kita katakan itu buruk, maka hendaklah dia menahan diri. Jika tidak tahu, apakah ucapan itu baik atau buruk? Maka sebaiknya menahan diri dan tidak mengucapkannya sampai kita benar-benar mengerti tentang ucapan yang akan kita ucapkan tersebut. Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوِ لْيَصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam” (HR. Bukhari, Muslim)
Namun banyak orang yang membiarkan atau membebani dirinya dengan banyak bicara dan tidak mau ambil pusing dengan pembicaraannya, akhirnya dia harus menanggung resiko buruk dari ucapannya di dunia dan akhirat. Sebagai seorang yang berakal sehat, semestinya seseorang harus menimbang-nimbang ucapan yang akan dilontarkan dan memelihara lisannya dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat atau tidak layak sehingga perlu meminta maaf di waktu yang akan datang.
Kata غَدًا “besok” dalam hadits tersebut bisa jadi maksudnya hari kiamat, yaitu disaat kita harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan anggota badan kita di hadapan Allâh ta’ala. Atau bisa jadi maksudnya adalah besok hari yakni di dunia saat banyak orang yang menuntut konsekuensi dari ucapan kita.
Wasiat ketiga, wasiat agar qanâ’ah. Menggantungkan hati hanya kepada allâh ta’ala semata dan sama sekali tidak mengharapkan apa-apa yang dimiliki orang lain. Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَاجْمِعِ الْيَأْسَ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ
“Bertekatlah untuk tidak mengharapkan apa yang dimiliki orang lain”
Maksudnya fokuskan hatimu, bertekatlah untuk tidak mengharapkan apa-apa yang dimiliki orang lain. Janganlah kita mengharapkan apapun dari mereka. Hendaklah kita berharap hanya kepada Allâh semata.
Sebagaimana lisan kita yang hanya meminta dan memohon kepada Allâh semata, maka begitu juga bahasa tubuh kita yang lain, hendaknya hanya meminta dan memohon serta berharap kepada Allâh semata. Kita memutus semua harapan dan ketergantungan hati kita dari semua orang, lalu kita arahkan ketergantungan hati kita hanya kepada Allâh.
Orang yang tidak menaruh harapan kepada orang lain, maka dia akan hidup mulia dan berwibawa, sebaliknya orang yang selalu mengharapkan apa yang dimiliki orang lain, maka hidupnya akan terhina.
Orang yang hatinya senantiasa bergantung kepada Allâh dalam segala keadaan, dia tidak berharap kecuali kepada Allâh. Dia tidak meminta kecuali kepada Allâh, juga tidak bertawakkal kecuali kepada Allah, maka pasti Allâh akan memenuhi kebutuhannya di dunia dan di akhirat. Allah ta’ala berfirman:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allâh cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya” (QS. Az-Zumar 36)
Allah ta’ala juga berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allâh niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath-Thalaq : 3)
Inilah tiga wasiat Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang singkat namun sarat dengan makna. Semoga Allâh memberikan hidayah taufik-Nya kepada kita semua agar bisa melakukan dan melaksanakan wasiat Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (Hadits Shahih Lighairihi, HR. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13)
Mari kita tingkatkan takwa dengan mengamalkan perintah Allah dan Rasulnya agar kita selamat di dunia dan di akhirat. Demikian ringkasan khutbah ini kami sampaikan, semoga dapat memberikan manfaat dan barakah bagi yang membacanya.