Home / Artikel Islam / Urgensi Menjaga Serta Menyelamatkan Hati
https://www.pesantrenluluwalmarjan.org/panduan-penerimaan-santri-baru-psb-pesantren-al-lulu-wal-marjan-20182019

Urgensi Menjaga Serta Menyelamatkan Hati

Terdapat satu hal penting yang sepatutnya diingat oleh seorang muslim yaitu Urgensi Menjaga Serta Menyelamatkan Hati. Di dalam raga atau jasad manusia, terdapat sebuah organ yang berperan sangat vital untuk keselamatan jiwanya, organ itu yang disebut dengan Hati. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

dan hadits di atas relevan  dengan surat As-Shua’ra ayat 88-89 :

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Alloh dengan hati yang selamat (selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya)

Seorang muslim bukan hanya mengumpulkan dan mengahafal ribuan hadist, ayat demi ayat dan semua itu bukan hanya sekedar kumpulan dan wawasan saja. Akan tetapi yang terpenting dari hal tersebut adalah ilmu yang telah kita pelajari dapat merawat, membersihkan, menjaga dan menyelamatkan hati seorang hamba.

Karena sebab itulah segenap anggota tubuh manusia menjadi baik. Sebuah ungkapan menarik dari Imam Syafi’i rahimahullahu :

“Aku terheran-heran melihat sebagian orang menangisi seseorang yang telah meninggal dunia, namun mereka tidak dapat menangisi dengan matinya hati mereka”

Padahal sejatinya matinya sebuah hati lebih berbahaya daripada matinya seseorang.

Hati yang selamat ini didefinisikan dengan hati yang terbebas dari setiap syahwat, selamat dari setiap keinginan yang bertentangan dari perintah Allah, selamat dari setiap syubhat (kerancuan-kerancuan dalam pemikiran), selamat dari menyimpang pada kebenaran. Hati ini selamat dari beribadah kepada selain Allah dan berhukum kepada hukum selain hukum Rasul-Nya.

Hati ini mengikhlaskan peribadatannya hanya kepada Allah dalam keinginannya, dalam tawakalnya, dalam pengharapannya dalam kecintaannya. Jika ia mencintai ia mencintai karena Allah, jika ia membenci ia membenci karena Allah, jika ia memberi ia memberi karena Allah, jika ia menolak ia menolak karena Allah.

Hati ini terbebas dari berhukum kepada hukum selain Allah dan Rasul-Nya. Hati ini telah terikat kepada suatu ikatan yang kuat, yakni syariat agama yang Allah turunkan. Sehingga hati ini menjadikan syariat sebagai panutan dalam setiap perkataan dan perbuatannya.


Disadur dari kajian rutin kitab Riyadhus Shalihin pada tanggal 26 April 2017 yang diampu oleh Ustadz Rizal Yuliar Putrananda hafidzahullahu dengan sedikit tambahan.

https://www.pesantrenluluwalmarjan.org/panduan-penerimaan-santri-baru-psb-pesantren-al-lulu-wal-marjan-20182019

Check Also

Mari Datang Shalat Sebelum Iqamah Dikumandangkan

Tidak diragukan lagi bahwa shalat adalah tiang agama. Bahkan shalat juga menjadi penentu apakah seorang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *