
Sifat Dermawan Nabi Muhammad
Sifat Dermawan Nabi Muhammad
9 Januari 2026
Ustadz Rahmat Hartanto
Jika kita berbicara tentang keindahan islam, maka salah satu pintu terbesarnya adalah akhlak Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Dan diantara akhlak beliau yang paling menggetarkan hati adalah sifat dermawan. Allah ta’ala menegaskan keagungan pribadi nabi-Nya dengan firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
”Wahai Muhammad sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang sangat agung dan mulia”
(QS. Al-Qalam: 4)
Imam al-Qurthubi rahimahullah di dalam al-Jami al-Hikam al-Quran berkata:
”Ayat ini merupakan persaksian Allah ta’ala untuk nabi-Nya tentang kesempurnaan akhlak beliau”
Akhlak yang agung ini bukan teori yang tertulis di dalam Al-Quran saja, akhlak ini hidup berjalan dan terlihat jelas dalam pribadi dan keseharian Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ’anha ketika ditanya tentang akhlak beliau, maka dijawab bahwasannya akhlak Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam adalah apa yang ada di dalam Al-Quran. Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma bersaksi tentang kedermawanan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan sebuah habits:
“كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان ، حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان ، فيدارسه القرآن ، فرسول الله صلى الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة”
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi saat Ramadhan ketika ditemui oleh Jibril. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk bertadarus Al-Qur’an. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.”
(HR. Bukhari)
Bahkan di akhir hadits disebutkan bahwa digambarkan kedermawanan beliau bagaikan angin yang berhembus. Angin tidak memilih kepada siapa ia memberi, tidak perhitungan, tidak takut kehabisan, begitulah dermawannya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Namun yang membuat kedermawan beliau semakin agung adalah kenyataan bahwa beliau memberi dalam keadaan kekurangan. Aisyah radhiyallahu ’anha mengisahkan, bahwasannya keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah kenyang selama 3 hari secara berturut-turut, namun meski demikian jika ada yang meminta beliau memberinya. Jika ada yang mengharap, maka beliau tidak mengecewakannya, sebagaimana disampaikan dalam sebuah hadis Riwayat Jabir bin Abdillah:
“Tidaklah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta sesuatu lalu beliau menjawab, “Tidak.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada Jabir, “Seandainya datang padaku harta, melainkan aku akan memberimu seukuran dua telapak tangan penuh seperti ini (beliau menyebutkan tiga kali). Beliau berkata, “Yaitu dengan dua telapak tangan semuanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kedermawanan ini lahir dari keyakinan yang kokoh kepada Allah ta’ala, sehingga Allah ta’ala berfirman:
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Baqarah 261)
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam juga menegaskan hakikat ini dengan sabda beliau:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
(HR. Muslim)
Berkurang di mata manusia, namun bertambah dan berlipat di sisi Allah ta’ala, para alim memahami hakikat dermawan ini dengan sangat dalam. Hasan Al Basri rahimahullah berkata:
”Akhlak yang baik adalah memberi kebaikan, menahan gangguan dan wajah yang berseri”. (Mawā’iẓ al-Imām al-Ḥasan al-Baṣrī, hlm. 187)
Ibnul Qayyim rahimallahu di dalam Madarijus Salikin berkata:
”Kedermawanan adalah di antara sifat rab jalla jalaluh dan termasuk ahlak nabi-nabi-Nya dan merupakan salah satu landasan popok agama dan tidaklah layak masuk surga kecuali orang-orang yang dermawan”
Al Imam An Nawawi rahimallahu berkata dalam kitab syarh shahih muslim:
”Kedermawanan termasuk sifat terbesar orang-orang mukmin”
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah wafat namun ahlak beliau tetap hidup dan kedermawanannya adalah warisan terbesar bagi umat ini siapa yang ingin dekat dengan rasulullah kelak, maka hidupkan sifat-sifat dermawan, ikhlas dengan keyakinan dan dengan mengikuti jejak beliau, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:
”orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah mereka yang terbaik ahlaknya”
(HR. Tirmidzi)
Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala ta’ala Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakAllah ta’ala ta’alau fiikum.