
Sahabat Sejati dan Perannya Dalam Kehidupan
Sahabat Sejati dan Perannya Dalam Kehidupan
15 Agustus 2025
Ustadz Abu Zulfa
Allah ta’ala menciptakan manusia yang begitu banyaknya, tentu di antara mereka mempunyai karib kerabat atau teman dekat atau sahabat dalam kesehariannya. Begitulah Allah ta’ala mengkodratkan manusia, terlebih bagi orang-orang beriman. Allah ta’ala berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) makruf dan mencegah (berbuat) mungkar, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”
(QS. At Taubah 71)
Bahkan Allah ta’ala menyebutkan nikmat persaudaraan, teman satu sama lain di antara orang-orang beriman adalah nikmat yang Allah anugrahkan kepada mereka. Allah ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk”
(QS. Ali Imran 103)
Sehingga tatkala seseorang mengingat nikmat tersebut, ia akan membangun nikmat tersebut sebagai rasa cinta di antara mereka karena Allah. Allah ta’ala berfirman:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa”
(QS. Az Zukhruf 67)
Kecuali orang-orang yang membangun pertemanan mereka di atas ketakwaan kepada Allah, cintanya karena Allah, berteman dan bersahabatnya karena Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لا تُصاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا ، ولا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ
“Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa”
(HR. Abu Daud)
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menganalogikan dengan analogi yang sangat-sangat indah, persaudaraan, pertemanan orang-orang yang beriman layaknya sebuah bangunan yang saling memperkuat satu sama lain.
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Satu orang mukmin dan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, mereka saling memperkuat satu sama lain”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat yang lain Nabi shallallahu’alaihi wasallam mempermisalkan orang-orang yang beriman seperti satu tubuh.
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).”
(HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)
Lantas bagaimana aplikasi yang hendaknya nampak pada kehidupan pertemanan seorang mukmin yang sejati? Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memberikan petunjuk-petunjuknya dalam hadist-hadistnya, di antaranya hendaknya saling mencintai di antara teman/sahabat.
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dia suka saat mempunya rizki, ketika saudaranya mempunyai rizki dia senang juga. Sebaliknya dia tidak suka mendapatkan musibah, dia tidak suka dibenci maka jangan benci saudaranya. Dia tidak suka dibully, maka jangan bully saudaranya begitulah wujud keimanan dalam konteks pertemanan. Lihat, Jarir ibn Abdillah radhiyallahu ’anhu sahabat yang mulia, beliau membaiat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dengan baiat yang agung.
بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ- صلى الله عليه وسلم – عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
“Aku telah berbaiat kepada Rasulullah untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan bersikap tulus kepada setiap muslim”
(HR. Muslim)
Dalam sebuah hadits yang lain memberikan petunjuk bagaimana seorang mukmin bersikap kepada yang lain, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ
“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, jangan dia mendzoliminya, jangan dia meninggalkannya sengsara dan jangan meremehkannya” (HR. Muslim)
Semoga Allah ta’ala memberikan kita taufik untuk berlaku lemah lembut kepada teman-teman kita yang dengannya Allah merahmati kita dan memasukkan ke dalam surganya.
Tentu faedah pertemanan sangat banyak, faedah paling agung yang akan diraih dari hasil pertemanan tersebut adalah nanti di hari kiamat temannya akan memberikan syafa’at kepada teman yang lain. Al Imam Al Qurthubi rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya perkataan sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, beliau mengatakan:
“Hendaknya kalian mempunyai teman-teman yang baik, punya teman-teman yang beriman di dunia ini. Sesungguhnya teman tersebut akan memberikan kebaikan di dunia dan akhirat, tidakkah kalian mendengar perkataan ahli neraka yang Allah ta’ala hikayatkan dalam Al-Qur’an ”kami tidak punya orang-orang yang memberikan syafa’at dan tidak pula mempunyai teman dekat yang sama-sama melakukan ketaan di dunia” “
Imam Al Baghawi juga menyebutkan perkataan yang indah dari seorang imam, Imam Al Hasan Al Basri rahimahullah beliau mengatakan:
”Perbanyaklah kalian mempunyai teman-teman yang beriman yang saling mengingatkan satu sama yang lain, yang saling mencintai satu sama yang lain, menginginkan kebaikan untuk saudaranya karena teman-teman yang beriman itu punya syafaat nanti di akhirat atas izin Allah ta’ala”
Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakAllah ta’alau fiikum.