Dzulhijjah Istimewa

Sesungguhnya jumlah bilangan bulan dalam islam sudah Allah ta’ala tentukan sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At Taubah: 36).

Yang dimaksud bulan dalam ayat ini adalah bulan hijriyah. Di dalam satu tahun dalam islam ada dua belas bulan, dan di antara dua belas bulan tersebut terdapat bulan-bulan khusus yang Allah ta’ala muliakan yaitu: dzulqa’dah, dzulhijjah, muharram,dan rajab.

Saat ini, kita berada di bulan dzulhijjah dan di dalam bulan dzulhijjah terdapat hari-hari yang Allah sendiri bersumpah dengannya yaitu sepuluh hari pertama. Allah ta’ala berfrman;

وَالۡفَجۡرِۙ وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ

Demi waktu fajar. Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr 1-2)

Banyak ahli tafsir menjelaskan bahwa makna “malam yang sepuluh” dalam ayat di atas adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Allah ta’ala bersumpah dengannya menunjukkan bahwa ia memiliki keutamaan. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya:

“Sepuluh malam yang dimaksud dalam ayat ini adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnuz Zubair, Mujahid dan banyak lagi ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf yang berpendapat demikian.”[1]

Amalan Bulan Dzulhijjah

Karena bulan tersebut merupakan salah satu bulan yang mulia, maka sepatutnya kita memuliakannya. Namun dengan apa kita memuliakan? Tentunya dengan mengerjakan kebaikan dan menjauhi larangan-Nya. Bahkan orang jahiliyah dahulupun memuliakan bulan dzulhijjah tersebut, salah satunya dengan adanya genjatan perang antar suku. Berikut beberapa amalan yang dianjurkan dan diajarkan dalam islam saat bulan dzulhijjah.

Banyak Berdzikir Mengingat Allah

Allah ta’ala berfirman:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Dan hendaklah mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah DIMAKLUMI tersebut.” (QS. Al-Hajj: 28)

Dan juga firman Allah ta’ala:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah dengan menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah DITENTUKAN” [QS. Al-Baqoroh: 203]

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumaa berkata menjelaskan dua ayat di atas: “Berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah DIMAKLUMI, maksudnya adalah pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Sedangkan hari-hari yang sudah DITENTUKAN, adalah hari-hari Tasyrik (penyembelihan).” [Riwayat Al-Bukhari]

Terdapat hadist juga yang menyebutkan lebih jelas untuk kita banyak berdzikir di bulan dzulhijjah. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

“Tidaklah ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh yang lebih dicintai Allah ta’ala daripada SEPULUH HARI PERTAMA DZULHIJJAH. Maka perbanyaklah ucapan Tahlil, Takbir dan Tahmid.” [HR. Ahmad no. 6154 dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Al-Anauth]

Maka, sudah selayaknya bagi kita semua untuk membasahi lidah kita dengan banyak berdzikir mengingat Allah.

Berpuasa

Di antara amalan pada saat 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah berpuasa. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya” (HR. Abu Daud)

Puasa Arafah

Hukum asal amalan yang dikerjakan di bulan dzulhijah memiliki pahala yang besar di sisi Allah ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahuanhu bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda yang artinya:

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud).

Maka tidaklah heran kalau puasa arofah memiliki keutamaan yang sangat besar, seperti yang disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ dari sahabat Abu Qatadah radhiyallahuanhu yang artinya;

Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

Menunaikan Haji

Amalan ini khusus dikerjakan saat bulan dzulhijjah, yaitu ibadah haji. Terlebih seseorang yang mampu melaksanakan haji dan pelaksanaan haji tersebut mabrur maka tidak ada pahala baginya selain surga. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan sahabat Abu Hurairah radhiyallahuanhu yang artinya;

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari)

Berqurban

Amalan ini juga khusus dikerjakan saat bulan dzulhijjah, yaitu ibadah qurban. Allah ta’ala berfirman yang artinya:

“Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (Qs. Al Kautsar: 2)

Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukil dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah.[2]

Demikian tulisan ringkas tentang keutamaan bulan dzulhijjah dan amalan-amalan yang bisa dilaksanakan saat di bulan tersebut. Semoga Allah ta’ala memudahkan setiap langkah kebaikan kita di atas jalan kebaikan dan ketakwaan.


[1] Tafsir Ibnu Katsir

[2] Taisirul ‘Allaam, 534, Taudhihul Ahkaam IV/450, & Shahih Fiqih Sunnah II/366

Di Manakah Allah ta’ala?

Metode ahlussunnah wal jamaah dalam menetapkan sifat Allah adalah mengikuti alquran, hadits dan ijma’ ulama. Di antara keyakinan yang dipegang oleh para ulama bahwasanya alquran dan hadits-hadits shahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan Allah berada di atas ‘Arsy dan mereka meyakini bahwa Allah beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy-Nya.

‘Abdurrahman bin Abi Hatim berkata, ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata aku diceritakan dari Sa’id bin ‘Amir Adh Dhuba’i bahwa ia berbicara mengenai Jahmiyah. Beliau berkata,

الجهمية فقال هم شر قولا من اليهود والنصارى قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس على شيء

“Jahmiyah lebih jelek dari Yahudi dan Nashrani. Telah diketahui bahwa Yahudi dan Nashrani serta agama lainnya bersama kaum muslimin bersepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy. Sedangkan Jahmiyah, mereka katakan bahwa Allah tidak di atas sesuatu pun.” (Lihat Al-‘Uluw li Al-‘Aliyyi Al- Ghaffar, hlm. 157 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hlm. 168).

Mereka menetapkan hal ini tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk), tanpa tahrif (mengubah, baik mengubah lafaz maupun makna) dan tanpa ta’thil (mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya, baik mengingkari keseluruhan maupun sebagian, baik dengan men-tahrif maknanya maupun menolaknya). Allah sendiri terpisah dari makhluk dan makhluk pun terpisah dari Allah. Allah tidak mungkin menyatu dan bercampur dengan makhluk-Nya. Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya di langit sana dan bukan menetap di bumi ini bersama makhluk-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy. (QS. Thaha: 5)

Dan juga ayat-ayat lainnya yang menjelaskan bahwa Allah menetap tinggi di atas ‘arsy begitu juga di dalam hadist-hadist Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua ayat dan hadits menggunakan huruf ‘ala على yang artinya di atas. Tapi masih dapat kita jumpai beberapa orang mengingkari hal tersebut, mereka yang mendahulukan nalar dan nafsu.

Begitu juga disebutkan dalam hadits,  dari hadits Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulamiy dengan lafazh dari Muslim.

“Saya memiliki seorang budak yang biasa mengembalakan kambingku sebelum di daerah antara Uhud dan Al Jawaniyyah (daerah di dekat Uhud, utara Madinah, pen). Lalu pada suatu hari dia berbuat suatu kesalahan, dia pergi membawa seekor kambing. Saya adalah manusia, yang tentu juga bisa timbul marah. Lantas aku menamparnya, lalu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkara ini masih mengkhawatirkanku. Aku lantas berbicara pada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus membebaskan budakku ini?” “Bawa dia padaku,” beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berujar. Kemudian aku segera membawanya menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya pada budakku ini,

أَيْنَ اللَّهُ

“Di mana Allah?”

Dia menjawab,

فِى السَّمَاءِ

Di atas langit

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa saya?” Budakku menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

“Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.”[1]

Begitulah hadits yang menunjukkan Allah ada di atas, dan masih banyak lagi hadist yang menunjukkan bahwa Allah di atas langit, seperti halnya hadits keutamaan sepertiga malam terakhir.

Tidak dipungkiri juga, bahwasanya imam mazhab, semuanya sepakat dan sepaham dalam hal keberadaan Allah ta’ala. Imam Abu Hanifah pernah ditanya tentang keberadaan Allah, maka beliau berkata:

من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر

“Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir.”[2]

Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (yang terkenal dengan Imam Syafi’i), yang mayoritas penduduk indonesia bermadzhab dengannya, beliau berkata:

القول في السنة التي أنا عليها ورأيت اصحابنا عليها اصحاب الحديث الذين رأيتهم فأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة ان لااله الا الله وان محمدا رسول الله وذكر شيئا ثم قال وان الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وان الله تعالى ينزل الى السماء الدنيا كيف شاء وذكر سائر الاعتقاد

“Perkataan dalam As Sunnah yang aku dan pengikutku serta pakar hadits meyakininya, juga hal ini diyakini oleh Sufyan, Malik dan selainnya : “Kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Lalu Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya”[3]

Dari dalil-dalil yang sudah terpapar, baik dari alquran maupun hadits serta sebagian perkataan ulama salaf, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Allah ta’ala berada di atas ’arsy-Nya. Semoga Allah ta’ala senantiasa meneguhkan diri kita semua di atas pemahaman yang benar dan dijauhkan dari pemahaman yang salah serta menyimpang.


[1] HR. Ahmad [5/447], Malik dalam Al Muwatho’ [666], Muslim [537], Abu Daud [3282], An Nasa’i dalam Al Mujtaba’ [3/15], Ibnu Khuzaimah [178-180], Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah [1/215], Al Lalika’iy dalam Ushul Ahlis Sunnah [3/392], Adz Dzahabi dalam Al ‘Uluw [81]

[2] Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 116-117, Darus Salafiyah, Kuwait, cetakan pertama, 1406 H. Lihat pula Mukhtashor Al ‘Uluw, Adz Dzahabiy, Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 137, Al Maktab Al Islamiy.

[3] Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, hal. 123-124. Disebutkan pula dalam Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal.165

Pembatal Keislaman Ke-10

Pembatal tauhid atau keislaman yang kesepuluh adalah berpaling dari agama Allah ta’ala, dengan tidak mempelajarinya dan tidak beramal dengannya.

Ketika seorang muslim akan melakukan sebuah amalan harus mengetahui terlebih dahulu hukum secara syariat islam dari amalan yang akan ia lakukan. Apakah amalan yang akan ia lakukan dibolehkan atau justru dilarang dan diharamkan oleh syariat islam.

Bagaimana seorang muslim bisa mengetahui hukum dari suatu amalan tanpa mempelajari syariat islam? Oleh karenanya, mempelajari agama allah, syariat-syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah hal yang sangat penting. Agar ketika seorang muslim melakukan suatu amalan, tidak melakukan amalan yang salah dan diharamkan oleh agama, terlebih lagi melakukan amalan yang dapat mengeluarkannya dari agama islam dikarenakan tidak mengetahui hukum dari amalan yang telah ia lakukan. Allah ta’ala telah memberikan peringatan yang sangat jelas, sebagaimana yang telah tercantum pada firman-Nya :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta(QS. Taha: 124)

Adapun orang yang sudah mempelajari agama Allah namun ia tidak mau beramal dengannya, maka ia termasuk kedalam golongan orang-orang yang dimurkai, sebagaimana firman Allah ta’ala :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ (7)

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (nasrani). (QS. Al-Fatihah :6-7)

Dari sedikit penjelasan diatas sudah jelas, bahwasanya mempelajari agama Allah merupakan salah satu pedoman kita dalam melakukan amalan-amalan sholeh. Barang siapa meninggalkan agama allah, maka sungguh tauhid atau keislamannya telah rusak. Sama halnya dengan orang yang telah mempelajari agama Allah namun ia tidak mau beramal dengannya maka dia termasuk orang-orang yang dimurkai oleh Allah ta’ala.

Khutbah Jum’at: Tafsir Surat Al-Ghasyiyah – Ustadz Fathurrahman

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca di dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at dengan: Sabbihisma Rabbikal a’la dan Hal ataaka haditsul ghasyiyah”. [HR Muslim, no. 878]

Sangat sering atau bahkan selalu mendengar bacaan yang dibaca oleh seorang imam ketika shalat jum’at yaitu surat Al Ghasyiyyah. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan, sudahkah kita mempelajari tafsir surat tersebut?

Yuk simak lebih lanjut dalam rekaman audio berikut. DOWNLOAD

Khutbah disampaikan oleh beliau Ustadz Fathurrahman.


Dapatkan rekaman audio kajian Pesantren Al lulu wal Marjan lainnya, melalui:
Kajian Aqidah | Kajian Tafsir | Kajian Hadits | Kajian Sirah | Kajian Tematik | Khutbah Jum’at

Dapatkan informasi terbaru Pesantren Al lulu wal Marjan melalui Social Media Resmi:
Halaman Facebook | Akun Twitter | Akun Instagram | Channel Youtube

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan hasil rekaman ataupun link kajian yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah ta’ala membalas kebaikan Anda.

Pembatal Keislaman IX

Islam memiliki dua pedoman yang harus dipegang teguh dalam menjalankan ibadah, agar ibadah tersebut diterima oleh Allah ta’ala dan dapat dinilai sebagai pahala. Dua hal tersebut adalah alquran dan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ : 59)

Pada ayat diatas telah dijelaskan untuk senantiasa mentaati Allah ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Barangsiapa yang berselisih pendapat dalam suatu perkara, maka kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Definisi dari “taat” yaitu senantiasa tunduk, patuh serta mengikuti apa yang telah diajarkan. Sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk senantiasa patuh dan tunduk serta mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عليكم بسنتي وسنة الخلفاءِ الراشدين المَهديين منْ بعدي ، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ ،وإياكم ومحدثات الأمورِ؛ فإن كل بدعة ضلالة

Wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin sepeninggalku. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At-Tirmidzi No. 2676. Ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).

Barangsiapa yang mengikuti rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia telah berada di jalan yang lurus yang kelak akan membawanya ke surga. Namun barangsiapa tidak mentaati rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ancaman siksa kubur serta adzab pedih yang akan dia dapatkan. Allah ta’ala berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur : 63)

Mengikuti rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah suatu kewajiban. Kewajiban itu adalah hal yang harus dilakukan, maka seorang muslim tidak boleh meyakini adanya sebagian orang yang tidak berkewajiban mengikuti rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfriman :

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)