Artikel IslamArtikel Pilihan

Keberhasilan dan Penghalangnya – Ust Abu Umar

Setelah kita semua belajar tentang pentingnya menuntut ilmu, tentunya kita semua menjadi semakin bersungguh-sungguh untuk menuntut ilmu. Kehadiran kita untuk menuntut ilmu, tentunya menginginkan sebuah keberhasilan. Semua orang menginginkan keberhasilan, baik dia muslim maupun kafir.

Tak seorang pun yang menginginkan kegagalan dalam apa yang ia upayakan. Bahkan, banyak di antara mereka (khususnya non muslim) yang mengakhiri hidupnya karena tidak mendapatkan keberhasilan dan cita-citanya. Namun, bukan demikianlah akhlak seorang muslim. Maka, kita perlu untuk mengenal beberapa hal yang dapat menjadi penghalang keberhasilan seseorang.

Keberhasilan banyak macamnya. Ada keberhasilan dalam belajar, keberhasilan menghafal alquran, keberhasilan dalam upaya kita untuk menjadi anak yang shalih, dan masih banyak lagi. Untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan selama proses menggapai cita-cita, butuh ilmu dan juga waktu. Kita mengenal keburukan, bukan dalam rangka melakukannya. Sebaliknya justru kita mengenal keburukan agar kita lebih termotivasi untuk hati-hati dan mawas diri menjauh darinya.

عَلِمْتُ الشَّرَّ لَا لِلشَّرِّ، وَلَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ

“Aku tahu keburukan bukan untuk aku lakukan keburukan tersebut, tapi agar aku menjaga diri dari terjatuh dalam keburukan itu.”

مَنْ لَمْ يَعْلَمِ الشَّرَّ مِنَ الْخَيْرِ يَقَعْ فِيْهِ

“Karena barangsiapa yang tidak mengetahui keburukan dan tidak dapat membedakannya dari kebaikan, maka mungkin dia akan terjatuh dalam keburukan tersebut.”

Maka mari di kesempatan kali ini, kita belajar untuk mengenal faktor-faktor yang mungkin menjadi penghalang seseorang dari keberhasilan. Berikut beberapa hal yang menjadi penghalang keberhasilan:

Lemahnya Tawakkal Kita kepada Allah

Terkadang, beberapa dari kita terlalu yakin dengan dirinya. Sangat optimis dengan kecerdasan yang ia miliki. Sudah merasa cukup dengan berada di tempat belajar yang dikatakan “favorit”. Terlalu percaya dengan kehebatan dirinya. Padahal, keberhasilan murni pemberian dari Allah ta’ala. Maka dari itu, sudah merupakan keharusan bagi seorang muslim untuk berusaha sekuat tenaga disertai penyerahan segala urusan kepada Allah semata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian benar-benar bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian, sebagimana Allah memberikan rezeki kepada burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Maka bersandar pada kecerdasan semata tidak akan cukup. Kita semua sangat membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala.

Tidak Adanya Perencanaan Yang Baik 

Seorang yang ingin berhasil, harus memiliki perencanaan-perencanaan yang rinci. Baik rencana jangka pendek, maupun jangka panjang. Misalnya, dengan waktu sekian, saya punya target menghafal 30 juz. Apa yang harus saya lakukan untuk mencapai target tersebut?

Tentunya hal-hal di atas tidak akan bisa terwujud tanpa adanya rencana. Semua cita-cita dan target di atas, insyaallah bisa terealisasikan dengan perencanaan yang matang dan baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أنْ يُتْقِنَهُ

“Seungguhnya Allah ta’ala suka jika salah satu di antara kalian melakukan suatu amal perbuatan ia lakukan itu dengan profesional.” (HR. Baihaqi)

Upaya yang baik, menyiapkan perencanaan yang rinci dan baik adalah bagian dari tindakan profesional dalam mengupayakan tujuan kita.

Banyak Bergaul Dengan Pribadi Negatif

Termasuk yang menghalangi keberhasilan kita untuk menggapai cita-cita adalah terlalu menyibukkan diri kita dengan bergaul bersama pribadi-pribadi negatif. Pribadi-pribadi yang menghancurkan komitmen awal kita untuk menggapai keberhasilan. Tentunya, kita ketahui bersama bahwa tujuan diciptakannya kita adalah untuk mengabdikan diri, beribadah kepada Allah ta’ala. Sebagaimana disebutkan di dalam Surat Adz Dzariyat:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Akan tetapi, mungkin beberapa di antara kita terpengaruh dengan bisikan-bisikan setan, sehingga kita melenceng dari tujuan yang sebenarnya. Maka, seorang muslim hendaknya berusaha untuk mencari lingkungan yang shalih, bergaul dengan teman-teman yang baik. Teman-teman yang senantiasa mengajak kepada kebaikan. Teman-teman yang senantiasa berkomitmen pada tujuan awalnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

“Sesungguhnya seseorang itu merupakan cerminan agama temannya, maka selektiflah anda dalam mencari teman.” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Tirmidzi)

Takut Akan Kegagalan

Semua dari kita pasti pernah mengalami kegagalan. Seorang yang berhasil tidak akan takut akan kegagalan. Ia akan beranggapan bahwa kegagalan merupakan bagian dari keberhasilan. Dengan gagal, ia akan mendapatkan kesempatan untuk memahami lebih. Dengan sekali atau dua kali gagal, ia akan lebih mendekat dengan keberhasilan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Jika engkau ditimpa oleh sesuatu, maka jangan kau katakan ‘seandainya aku berbuat begini’, akan tetapi katakanlah: qadarullah wa ma syaa’a fa’al (Ini sudah ketentuan Allah, apa yang Ia kehendaki pasti akan dilakukan-Nya), karena kata ‘seandainya’ membuka pintu setan.”  (HR. Muslim)

Cemburu Kepada Keberhasilan Orang Lain

Perlu kita ketahui bersama bahwa semua yang kita lakukan sudah ditakdirkan oleh Allah ta’ala. Allah telah mencatat takdir makhluk-makhluknya lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Sebagaimana sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

كَتَبَ اللهُ تَعَالَى مَقَادِيْرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأرْضَ بِخَمْسِيْنَ ألْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menentukan dan mencatat takdir bagi semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim)

Maka, tidak sepatutnya kita cemburu pada keberhasilan orang lain, karena keberhasilan seseorang merupakan anugerah yang telah Allah ta’ala tetapkan jauh-jauh hari sebelum kita dilahirkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam haditsnya:

وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ

“Ketahuilah, sesungguhnya sesuatu yang bukan milikmu maka tidak akan pernah menjadi bagianmu sedangkan yang menjadi bagianmu tidak akan lepas darimu.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Kegagalan tidak akan terjadi selamanya. Ada kalanya kita berhasil dan terkadang kita jatuh dan gagal. Allah ta’ala telah mengatur alam semesta dengan sebaik-baiknya. Maka ingatlah, boleh jadi kegagalan yang menimpa kita merupakan satu pijakan menuju keberhasilan yang tiada bandingannya. Allah ta’ala berfirman mengisahkan kekalahan kaum muslimin di perang Uhud:

إِن یَمۡسَسۡكُمۡ قَرۡحࣱ فَقَدۡ مَسَّ ٱلۡقَوۡمَ قَرۡحࣱ مِّثۡلُهُۥۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَیَّامُ نُدَاوِلُهَا بَیۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِیَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟

 “Jika engkau terluka (pada Perang Uhud), maka mereka pun mendapat luka yang serupa (pada Perang Badar). Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir).” (QS. Ali ‘Imran: 140)

Tidak Mempedulikan Kesehatan Diri

Dalam mengupayakan kebaikan, dibutukan kesehatan jasmani, jernihnya pikiran, dan faktor-faktor pendukung lainnya. Maka dari itu, penting untuk menjaga tubuh agar selalu dalam keadaan prima. Jika badan sakit, maka semua jadi sulit untuk dilakukan. Allah dan rasul-Nya telah memberi kita arahan agar senantiasa proporsional dalam segala hal. Terutama dalam menunaikan hak tubuh kita. Sebagaimana sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada yang memiliki hak.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

فَأَعْطِ كُلَّ ذِيْ حَقٍّ حَقَّهُ

“Maka berilah hak kepada yang memilikinya.”

 Demikian nasihat ini kami ringkas, semoga bermanfaat.

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
Close
Close