Artikel IslamKhutbah Jumat

Tips Islami Agar Istiqomah Setelah Ramadhan

Tips Islami Agar Istiqomah Setelah Ramadhan
Jum’at, 26 April 2024
Ustadz Aufa Abdullah

Kita diperintahkan untuk istiqamah. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu
(QS. Fushilat 30)

Yang dimaksud dengan istiqamah di sini terdapat tiga pendapat di kalangan ahli tafsir:

  1. Istiqamah di atas tauhid.
  2. Iistiqamah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah ta’ala.
  3. Istiqamah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput.

Orang yang istiqamah ini mendapatkan keutamaan:

Malaikat menghampirinya ketika menghadapi kematian. Malaikat berkata: jangan khawatir dengan perkara akhirat, Malaikat berkata: jangan bersedih dengan perkara dunia yang ditinggalkan, yaitu anak, keluarga, dan harta, serta utang, Allah akan menggantinya. Malaikat mengabarkan: ia akan mendapatkan kebaikan, yaitu surga.

Maka setelah kita mengetahui makna istiqomah ini, dan segala keutamaan yang ada di baliknya, maka cobalah kita mengaplikasikan bentuk istiqomah ini di dalam segala amalan ibadah yang kita lakukan, khususnya ibadah-ibadah yang telah kita rutinkan selama di bulan ramadhan. Semoga kita bukan termasuk dalam kategori orang yang hanya beribadah selama di bulan Ramadan saja, kemudian selepas itu meninggalkannya.

Imam Bisyr bin al-Harits al-Hafi rahimahullah pernah ditanya tentang orang-orang rajin dan sungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadan saja, maka beliau menjawab,

بئس القوم لا يعرفون لله حقا إلا في شهر رمضان إن الصالح الذي يتعبد ويجتهد السنة كلها

“Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, (karena) mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan, (hamba Allah) yang shaleh adalah orang yang rajin dan sungguh-sungguh beribadah dalam setahun penuh” ((Latha-iful ma’aarif, hal. 313))

Demi Allah, inilah hamba Allah yang sejati, yang selalu menjadi hamba-Nya di setiap tempat dan waktu, bukan hanya di waktu dan tempat tertentu.

Imam Asy-Syibli rahimahullahu pernah ditanya: Mana yang lebih utama, bulan Rajab atau bulan Sya’ban? Maka beliau menjawab:

“Jadilah kamu seorang Rabbani (hamba Allah Ta’ala yang selalu beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan tempat), dan janganlah kamu menjadi seorang Sya’bani (orang yang hanya beribadah kepada-Nya di bulan Sya’ban atau bulan tertentu lainnya)” (Latha-iful ma’aarif, hal. 313)

Maka sebagaimana kita membutuhkan dan mengharapkan rahmat Allah ta’ala di bulan Ramadhan, bukankah kita juga tetap membutuhkan dan mengharapkan rahmat-Nya di bulan-bulan lainnya? Bukankah kita semua termasuk dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيد

Hai manusia, kalian semua butuh kepada (rahmat) Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji
(QS. Faathir: 15)

Inilah makna istiqamah yang sesungguhnya dan inilah pertanda diterimanya amal shaleh seorang hamba. Imam Ibnu Rajab rahimahullahu berkata:

“Sesungguhnya Allah, jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shaleh setelahnya,

Dan hal ini berlaku sebaliknya “barangsiapa yang mengerjakan amal kebakan, lalu dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut”

Oleh karena itulah, Allah ta’ala mensyariatkan puasa enam hari di bulan Syawwal, untuk mengetahui apakah hamba ini akan melakukan kabaikan setelah kebaikan dan rindu untuk selalu mendekat dirinya kepada Allah dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya atau malah sebaliknya.

Yang mana keutaman puasa syawal ini sangatlah besar yaitu Allah ta’ala menjadikan puasa Ramadhan dan puasa enam hari di bulan Syawwal pahalanya seperti puasa setahun penuh, sebagaimana sabda Rasululah shallallahu’alaihi wasallam yang diriwayatkan dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu:

من صامَ رمضانَ ثم أتْبَعه ستاً من شوالٍ كان كصيام الدهر

Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh
(HR Muslim no. 1164)

Saudaraku, Tahukah anda penjelasan banyak ulama (diantaranya ulama madzhab Syafi’i) tentang hal ini? Ternyata pahala puasa 1 tahun penuh tersebut adalah pahala puasa wajib. Maksudnya? Ya, puasa 6 hari di bulan Syawwal merupakan puasa sunnah, namun pahalanya senilai dengan puasa wajib, layaknya puasa Ramadhan. Puasa sunnah ini bisa dilaksanakan pada awal atau di pertengahan atau di akhir bulan Syawwal, bisa berturut-turut atau tidak. Pahala puasa 1 tahun penuh itu sudah sangat dimudahkan.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakallahu fiikum.

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close