
Akhlak Yang Mulia
Akhlak Yang Mulia
Khutbah Jum’at, 26 Mei 2023
Ustadz Bukhori
Salah satu indikasi berkahnya ilmu seorang muslim dapat terlihat dari cerminan akhlaknya, dapat terlihat dari cerminan adab yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Aku diutus oleh Allah ta’ala untuk menyempurnakan akhlak Ummat-Nya”
(HR. Bukhari)
Allah ta’ala juga berfirman:
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”
(QS. Al-Qalam 4)
Imam Syafi’i rahimahullahu pernah ditanya “seberapa antusiasmu terhadap mempelajari adab?”, Beliau mengatakan “yaitu seperti seorang ibu mencari anak semata wayangnya yang hilang”, kemudian beliau berkata “ilmu itu bukan diukur dari seberapa banyak kita menghafal, akan tetapi ilmu itu diukur seberapa besarnya manfaat ilmu tersebut terhadap dirinya”.
Seorang berilmu yang mengamalkan ilmunya pasti orang tersebut bisa mengamalkan akhlak mulia. Sebaliknya indikasi ilmu yang tidak bermanfaat, tidak berkah itu terekspos dari akhlak buruknya, mukanya selalu masam, tidak bertegur sapa dengan mengucapkan salam, suka berdebat, atau suka mencela saudaranya dengan hawa nafsu. Ada beberapa akhlak mulia yang seharusnya kita amalkan dalam keseharian kita, di antaranya yaitu saling tersenyum, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Senyummu kepada saudaramu (sesama muslim) itu bernilai sedekah”
[HR at-Tirmidzi (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan 529)]
Beliau juga bersabda:
“Jangan sekali-kali engkau menyepelekan suatu perbuatan yang baik sedikitpun, meskipun engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri” (HR. Muslim no. 2656)
Kemudian di antara akhlak mulia lainnya yaitu menebar salam kepada sesama muslim. Mengucapkan salam itu akan menimbulkan rasa kasih sayang, juga menimbulkan kesatuan hati dan rasa cinta terhadap sesama. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai, maukah aku beritahu pada kalian yang mana jika kalian melakukannya kalian akan saling mengasihi, tebarkan salam di antara kalian” (HR. Muslim)
Ucapan salam ditujukan bukan kepada orang yang kita kenal saja, akan tetapi orang tidak kita kenal pun juga kita sampaikan salam dengan lisan kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya salah seorang sahabat yang datang kepadanya, amalan islam mana yang paling baik wahai Rasulullah? Beliau mengatakan:
“Yaitu engkau memberi makan, engkau mengucapkan salam kepada saudaramu yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal”
(HR. Al-Bukhâri, no. 12 dan 28 dan Muslim, no. 39)
Orang yang terhias dengan akhlak mulia pasti tidak akan keberatan untuk mengucapkan salam kepada sudaranya, sekalipun orang tersebut pernah berbuat salah, pernah menyakiti dirinya dia tetap mengucapkan salam kepadanya.
Kemudian di antara akhlak mulia yang bisa kita amalkan dalam keseharian kita yaitu agar senantiasa menjauhi prasangka-prasangka buruk. Karena prasangka akan menimbulkan efek yang menjerumuskan seseorang ke dalam jurang neraka. Allah ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”
(QS. Al-Hujurat 12)
Banyak berprasangka buruk akan menimbulkan beberapa dampak lain, di antaranya yaitu suka mencari-cari kesalahan saudaranya, saling benci dan saling membelakangi. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Jauhilah kalian berprasangka, karena sesungguhnya prasangka itu adalah ucapan paling dusta, janganlah kalian mencari-cari kesalahan, jangan selalu memata-matai teman, dan jangan saling membenci di antara kalian dan jangan saling membelakangi, jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara”
(HR. Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563)
Kemudian di antara akhlak mulia yang lain yaitu saling toleransi terhadap perbedaan pendapat, terutama dalam perbedaan masalah furu’ (cabang). Sungguh mengagumkan apa yang dilakukan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah kepada sahabatnya yang bernama Yunus Ash Shadafi atau lebih dikenal dengan Abu Musa. Kedua sahabat tersebut berdebat yang tidak ada ujungnya, Imam Asy-Syafi’i mengatakan kepada sahabatnya tersebut “Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersahabat meskipun kita tidak bersepakat dalam satu pendapat?” (Dikeluarkan oleh adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 3/3281)
Perbedaan Furu’ adalah sebuah keniscayaan yang antar sesama muslim harus berlapang dada. Maka perhatikan perkataan Qatada (ulama tabi’in) rahimahullah “barangsiapa yang belum mengetahui ikhtilaf (perbedaan pendapat), maka hidungnya belum mencium wanginya perkara-perkara fiqih”. [Jami’ Bayanil Ilmi 2/814-815]
Betapa pentingnya masalah akhlak mulia sampai para ulama terdahulu berwasiat kepada putranya, dengan mengatakan “wahai anakku aku lebih suka melihatmu belajar satu bab tentang masalah adab daripada engkau belajar ilmu 70 bab”. Al-Laits bin Sa’ad rahimahullah sering menasihati para pelajar hadits yaitu para murid-muridnya, dengan mengatakan “wahai murid-muridku pelajarilah kelembutan hati dan kelembutan jiwa, sebelum engkau mempelajari ilmu”.
Sangat miris pada hari-hari ini kita melihat anak-anak kita, pemuda-pemuda islam, tidak mengamalkan akhlak mulia, tidak tercermin dalam diri mereka akhlak mulia. Bahkan para penuntut ilmu sendiri tidak ada bedanya dengan mereka. Oleh karena itu kaum muslimin, mari senantiasa berakhlak mulia, beradab dengan sesama, karena dengan akhlak mulia seseorang imannya menjadi sempurna sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Seorang mukmin yang paling sempurna keimanannya yaitu yang paling bagus akhlaknya”
(HR. Tirmidzi no. 1162. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 284)
Mengapa kita harus berakhlak mulia? Karena dengan akhlak mulia seseorang timbangannya di hari kiamat kelak akan menjadi berat di sisi Allah ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya pada hari kiamat dari pada akhlak yang mulia” [HR. Tirmidzi (4/2002)]
Kenapa kita harus berakhlak mulia? Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjamin bagi orang yang berakhlak mulia mendapatkan surga yang tinggi di sisi Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan di antara potongan hadistnya:
“Aku menjamin bagi siapa yang akhlaknya mulia mendapatkan rumah di dalam surga yang tertinggi” (HR. Abu Dawud no. 4800 dan Tirmidzi no. 1993)
Demikian ringkasan khutbah ini kami sampaikan, semoga dapat memberikan manfaat dan barakah bagi yang membacanya.