
Adab-adab Sholat Jum’at
Adab-adab Sholat Jum’at
2 Januari 2026
Ustadz Fathurrahman
Allah ta’alah telah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
”Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan salat pada hari Jum’at telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”
(QS. Al Jumu’ah: 9)
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dalam sebuah hadist bersabda:
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيْهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيْهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِيْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ
“Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari Jum’at Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari Jum’at itu juga dia dikeluarkan dari Surga. Hari Kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jum’at”
(HR. Muslim)
Sungguh Allah ta’ala telah menciptakan sesuai dengan kehendaknya serta memilih keutamaan-keutamaan apa yang Allah kehendaki pula. Allah ta’ala telah memberikan keutamaan pada bulan terhadap bulan-bulan yang lain, memberikan keutamaan terhadap sebagian hari dengan hari-hari yang lain. Maka Allah ta’ala memberikan keutamaan bulan Ramadan adalah bulan yang paling mulia diantara bulan-bulan yang ada, memberikan keutamaan dan kemuliaan pada hari nahr (hari berkorban) lebih utama daripada hari-hari yang lain selama satu tahun. Allah ta’ala juga telah menganugerahkan keutamaan di hari Jum’at lebih utama dari hari-hari yang lain selama satu pekan, dikarenakan di hari Jum’at tersebut memiliki beragam keutamaan dan kemuliaan dari Allah. Allah ta’ala telah juga memilih umat Nabi shallallahu alaihi wasallam ini adalah umat terbaik yang dikeluarkan oleh Allah, maka Allah menunjukkan umat tersebut kepada jalan yang benar.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
أَضَلَّ اللَّهُ عَنْ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا ، فَكَانَ لِلْيَهُودِ يَوْمُ السَّبْتِ، وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ الأَحَدِ ، فَجَاءَ اللَّهُ بِنَا فَهَدَانَا اللَّهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ
“Allah menyesatkan orang-orang yang sebelum kita tentang hari Jum’at. Bagi orang Yahudi jatuhnya pada hari Sabtu, dan bagi orang Nasrani jatuhnya pada hari Ahad. Lalu Allah menunjuki kita yaitu pada hari Jum’at”
(HR. Muslim)
Allah ta’ala datang memberikan hidayah kepada kita semua sebagai umat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memberikan anugerah hari Jum’at adalah hari raya kaum Muslimin umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Di hari yang mulia ini, Allah ta’ala telah mensyariatkan salat Jum’at, berkumpul padanya hamba-hamba Allah yang bersegera berzikir, beristighfar mengingat Allah. Maka jernihlah jiwa-jiwa mereka, lembutlah hati-hati mereka, sebagaimana yang Allah ta’ala telah tegaskan di dalam ayat yang pertama tadi ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْ كُنتُمْ تَعْلَمُ, yang demikian ini meninggalkan segala macam bentuk aktivitas dunia bersegera untuk menyambut panggilan Allah di hari Jum’at adalah lebih baik bagi kalian daripada dunia dan seisinya.
Di hari Jum’at yang penuh dengan kemuliaan dan keagungan ini, di dalam pelaksanaan salat Jum’at, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam telah memberikan warning, memberikan teguran yang keras, memberikan kehati-hatian bagi orang yang menyanyiakan bahkan yang meninggalkan pelaksanaan salat Jum’at tersebut. Dikhawatirkan nanti hamba tersebut jika dia betul-betul menyia-nyiakan bahkan sampai meninggalkan pelaksanaan Juma’t akan ditutup hatinya oleh Allah dan dijauhkan dari rahmat Allah ta’ala. Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat Jum’at menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.”
(HR. Muslim)
Di dalam pelaksanaan salat Jum’at atau sebelum melaksanakan salat Jum’at, ada adab-adab yang mesti dilalui oleh kaum muslimin. Yaitu mandi berbersih, memakai pakaian yang bersih dan cocok untuk menghadapi pelaksanaan hari raya tersebut. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَومَ الجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى
“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, bersuci semampunya, berminyak dari minyaknya, mengenakan wewangian dari rumahnya, kemudian ia keluar lalu tidak memisahkan antara dua orang yang sedang duduk, kemudian ia melakukan shalat sebagaimana yang telah ditetapkan untuknya, lalu diam ketika imam berbicara, melainkan diampuni baginya dosa-dosa yang ada di antara Jum’at tersebut dan Jum’at yang lain.”
(HR. Bukhari)
Keutamaan Jum’at begitu besar sekali, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pun melanjutkan dalam sabda yang lain:
مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَر، وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا
“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at dengan mencuci kepala dan anggota badan lainnya, lalu ia pergi di awal waktu atau ia pergi dan mendapati khutbah pertama, lalu ia mendekat pada imam, mendengar khutbah serta diam, maka setiap langkah kakinya terhitung seperti puasa dan shalat setahun.”
HR. Tirmidzi
Di antara larangan-larangan yang ada di hari Jum’at adalah apabila seseorang datang terlambat dalam pelaksanaan sholat Jum’at, maka janganlah dia mengganggu orang lain yang sudah duduk pada shaf-shaf yang dia pilih. Dikarenakan yang demikian termasuk mengganggu orang lain atau dia memberdirikan seseorang dari tempatnya kemudian dia duduk padanya dan hal ini perbuatan yang dilarang.
Yang berikutnya adalah apabila seseorang masuk dalam kondisi adzan Jum’at dikumandangkan atau setelah dikumandangkan, maka hendaklah dia langsung sholat dua rokaat yang ringan, dua rokaat sebelum dia duduk dan jangan dia menunggu sampai adzan itu selesai. Dikarenakan mendengarkan khutbah Jum’at lebih utama daripada mendengarkan adzan. Barang siapa yang imam tatkala imam khutib sudah masuk dan sudah mulai khutbahnya, hendaklah kaum muslimin diam kepadanya mendengarkan khutbahnya dan tidak sibuk dengan urusan yang lain.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ. وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
“Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jum’at, ‘Diamlah, khotib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian selanjutnya tatkala sudah selesai dari pelaksanaan sholat Jum’at, hendaklah dia melaksanakan sholat sunnah dua rokaat berdasarkan hadiahnya hadis nabi, hadis ibni Umar radhiyallahu ’anhuma.
Kemudian yang berikutnya apabila seseorang masuk melaksanakan sholat Jum’at sementara kaum muslimin sudah melakukan sholat bersama imam, jika dia mendapatkan imam satu rokaat maka berarti dia telah mendapatkan sholat Jum’at. Namun apabila dia masuk ke masjid dan imam sudah selesai dari rokaat pertama dan sudah selesai dari rokaat yang kedua, dia tetap masuk ikut bersama imam namun dengan niat melaksanakan sholat duhur setelah imam salam dari sholatnya. Kemudian dia berdiri dia menyempurnakan 4 rokaat yang tertinggal dari sholat tersebut.
Bersemangatlah kita semua untuk berdoa di hari Jum’at, untuk memanjatkan lantunan-lantunan permohonan harapan kepada Allah ta’ala di hari Jum’at. Dikarenakan pada hari tersebut ada satu waktu yang Allah ta’ala akan mengabulkan doa bagi hamba-hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Sesungguhnya pada hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedang dia berdiri berdo’a memohon sesuatu kebaikan kepada Allah, melainkan Dia akan memberikan hal itu kepadanya”
(HR. Muslim)
Kemudian waktu yang lebih utama adalah sebelum terbenamnya matahari di hari tersebut di sore hari sebelum terbenam matahari, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:
يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
“Di hari Jum’at ada 12 jam, tidaklah seorang Muslim memohon kepada Allah ta’ala mendapatkan salah satu dari saat-saat jam tersebut dia meminta kepada Allah ta’ala melainkan Allah akan kabulkan maka carilah waktu tersebut di akhir pada saat setelah sholat asar menjelang terbenamnya matahari”
(HR. Abu Dawud)
Di hari ini juga Nabi menganjurkan kepada kita untuk selalu mengucapkan salawat dan salam kepada Nabi, karena Allah ta’ala dan para malaikat senantiasa bersalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam.
Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakallahu fiikum.