Artikel IslamArtikel Pilihan

Akhlak Yang Mulia

Akhlak Yang Mulia
Khutbah Jum’at 18 Maret 2022
Ustadz Luthfi Ihsanuddin

Jama’ah rahimani wa rahimakumullahu ta’ala

Allah ta’ala telah mensyari’atkan kepada kita semua berbagai macam ketaatan dan ibadah. Begitu juga Allah ta’ala telah perintahkan kita begitu juga umat-umat sebelum kita untuk menjalankan ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, sehingga dengan ibadah tersebut mampu menjadikan timbangan seseorang menjadi berat kelak di hari kiamat.

Jama’ah rahimani wa rahimakumullahu ta’ala

Dan di antara ibadah ketaatan yang sangat agung yang Allah syari’at kan kepada kita adalah “Al-Akhlaqul Karimah” akhlak yang mulia, akhlak yang terpuji.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما مِن شيءٍ أثقلُ في ميزان المؤمن يومَ القيامةِ من خُلقٍ حسَن

Tiada amalan yang lebih berat timbangannya begi seorang hamba yang beriman kelak di hari kiamat melebihi akhlak yang mulia” (HR. Abu Daud: 4799, Tirmidzi: 2002)

Dengan akhlak yang mulia mampu menjadikan seorang hamba meraih derajat yang tinggi di sisi Allah ta’ala, dengan akhlak yang mulia mampu menambah pahala seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ المؤمنَ ليُدرك بحسنِ الخلُق دَرجةَ الصائمِ القائم

Sesungguhnya seorang yang beriman akan memperoleh (dengan akhlak yang mulia) derajat seorang yang berpuasa dan orang yang mengerjakan Qiyyamul Lail” (HR. Ahmad no. 25013 dan Abu Dawud no. 4165)

Dengan menerapkan akhlak yang mulia, seseorang mampu meraih derajatnya orang yang suka berpuasa. Dengan akhlak yang mulia seseorang mampu menggapai derajatnya orang yang rajin qiyamul lail, dan akhlak yang mulia memiliki pahala yang begitu besar di sisi Allah ta’ala. Bahkan dengan akhlak yang mulia yang terlihat sepele (remeh) akan tetapi memiliki pahala yang besar di sisi Allah ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لا تحقِرنَّ منَ المعروفِ شيئًا ولو أَن تَلقَى أخاك بِوجهٍ طَلق

Janganlah kalian meremehkan sekecil apapun bentuk kebaikan meskipun engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang ceria” (HR. Muslim no. 6637)

Memberikan wajah yang ceria termasuk akhlak yang mulia. Abdullah ibn Mubarok mejelaskan apa itu akhlak yang mulia, beliau mengatakan: “Akhlak yang terpuji adalah memberikan wajah yang ceria di hadapan orang lain, memberikan kebaikan kepada orang lain dan menahan diri dari menyakiti orang lain”.

Begitu juga Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan : “Akhlak yang mulia adalah selalu menjauhi hal-hal yang haram, berusaha mengerjakan hal-hal yang halal serta berbuat baik kepada keluarganya”.

Jama’ah rahimani wa rahimakumullahu ta’ala

Akhlak yang mulia mampu menghantarkan seorang hamba memperoleh derajat keimanan yang sangat tinggi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أكمَل المؤمنين إيمانًا أحسُنهم خُلقًا

“Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” ((HR. Tirmidzi no. 1162)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau senantiasa melantunkan do’a agar Allah memberikan akhlak yang mulia bagi dirinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اللهمّ اهدني لأحسنِ الأخلاق لا يهدي لأحسنِها إلا أنت، واصرِف عني سيِّئَها لا يصرِفُ عني سيِّئَها إلا أنتَ

Yaa Allah, tunjukkanlah aku kepada akhlak yang mulia tidak ada dzat yang mampu menunjukkan kepada akhlak yang mulia melainkan engkau Yaa Allah, dan palingkanlah aku dari akhlak yang tercela, tidak ada dzat yang mampu memalingkan dari akhlak yang jelek melainkan engkau Yaa Allah” (HR.Muslim)

Jama’ah rahimani wa rahimakumullahu ta’ala

Orang yang terdekat dengan nabi di hari akhir (kiamat) adalah mereka orang-orang yang memiliki akhlak yang mulia, serta orang yang memiliki akhlak mulia adalah orang yang paling dicintai oleh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ مِن أحبّكم إليَّ وأقرَبِكم مني مجلِسًا يومَ القيامةِ أحاسِنَكم أخلاقًا

“Sesungguhnya orang diantara kalian kaum mukminin yang paling aku cintai dan kelak yang akan menjadi orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah mereka yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi)

Akhlak yang mulia baik berupa ucapan maupun perbuatan akan menyebabkan seseorang terhindar dari panasnya api neraka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اتَّقوا النارَ ولو بشقّ تمرة، فإن لم تجد فبِكَلمةٍ طيِّبة

“Takutlah kalian kepada api neraka, takutlah kalian kepada panasnya api neraka meskipun hanya bersedekah dengan secuil kurma jika engkau tidak memperoleh maka hendaknya dengan ucapan yang baik” (HR. Bukhari & Muslim)

Bersedekah termasuk akhlak yang mulia, berbagi kebaikan termasuk akhlak yang mulia, berucap yang baik juga termasuk akhlak yang mulia.

Jama’ah rahimani wa rahimakumullahu ta’ala

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah ta’ala dalam rangka menyempurnakan akhlak yang mulia, beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إنما بعِثتُ لأتمِّم صالح الأخلاق

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak” (HR. Bukhari)

Jama’ah rahimani wa rahimakumullahu ta’ala

Begitu juga para rasul terdahulu mereka adalah orang-orang yang senantiasa berakhlak dengan akhlak yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling memiliki akhlak yang mulia, beliau memiliki kelemah lembutan yang sangat besar, bahkan Allah ta’ala memuji beliau di dalam Al-Qur’an:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang mulia
(QS. Al-Qalam : 4)

Bahkan salah satu bentuk akhlak mulia beliau adalah tatkala beliau diminta oleh salah seorang malaikat tatkala beliau mendapatkan ujian (gangguan) dari kaum Kafir Quraisy. Malaikat menawarkan agar menimpakan kepada kaum tersebut dua gunung akan tetapi beliau enggan dengan permintaan malaikat tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangatlah sayang kepada kaummnya, sangatlah sayang kepada ummatnya.

Jama’ah rahimani wa rahimakumullahu ta’ala

Beliau juga pernah berwasiat kepada istrinya yaitu Aisyah radiyallahu anha, wahai istriku;

عليكِ بالرِّفقِ، وإيَّاك والعنفَ والفحشَ

“Hendaknya engkau senantiasa menjaga sifat kelemahlembutan dan jauhilah sifat kasar” (HR. Bukhari)

Maka di atas akhlak yang mulia ini begitu juga kekokohan iman, para sahabatpun berjalan di atasnya di atas manhaj iman serta akhlak yang mulia, bahkan seorang sahabat mengatakan:

إذا أمَرهُمُ النبيُّ صلى الله عليه وسلم ابتدَروا أمرَه، وإذا تكلَّم خفَضوا أَصواتهم عندَه، وما يحدُّون إليه النظرَ تعظيمًا له

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada para sahabatnya, mereka senantiasa bersegera mengerjakan perintahnya dan apabila mereka berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mereka akan mengecilkan suaranya dan para sahabat tidak pernah mereka menatap tajam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena bentuk penghormatan mereka kepada beliau”. (HR. Bukhari)

Inilah sosok para sahabat, bagaimana mereka dihadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka merendahkan diri mereka, mereka merendahkan hati mereka, tidak bersifat sombong, bahkan hanya menatap dengan tatapan tajam mereka tidak berani.

Jama’ah rahimani wa rahimakumullahu ta’ala

Amr bin Ash Radhiyallahu anhu pernah mengatakan ;

ما كانَ أحدٌ أحَبَّ إليَّ من رسولِ الله ولاَ أجلَّ في عينيَّ مِنه، وما كنتُ أُطيقُ أن أملأَ عينيَّ منه إجلالاً له، ولو سُئِلت أن أصفَه ما أطقتُ؛ لأني لم أكُن أملأُ عينيّ منه

“Tidak ada seseorang yang paling aku cintai, hormati kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku tidak mampu melihat beliau dengan tatapan yang penuh”

Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhu tidak berani menatap langsung dengan tatapan yang penuh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena atas dasar penghormatan kepada beliau dan seandainya beliau dimita untuk menjelaskan sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara detail beliau tidak mampu karena memang beliau belum pernah menatap tajam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Itulah efek yang sanagt berharga dari akhlak yang mulia, begitu banyak keutamaan yang mampu kita raih dari berakhlak yang mulia maka hendaknya jangan sampai kita berakhlak dengan akhlak yang jelek kita tinggalkan akhlak yang mulia sehingga kebaikan-kebaikan kita tinggalkan.

 Jama’ah rahimani wa rahimakumullahu ta’ala

Ketahuilah akhlak yang mulia tidak akan berarti jika tidak didasari dengan tauhid karena pondasi akhlak yang mulia adalah tauhid, Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Yaa Rasulullah, sesungguhnya Ibnu Jud’an dia adalah salah seorang pemuka Quraisy pada zaman jahiliyah dia suka menyambung silaturahmi, suka berbuat baik kepada orang lain, menyantuni orang-orang miskin apakah hal yang demikian berguna baginya?”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :

إنَّ ذلك لا ينفَعه؛ إنه لم يقل يومًا: ربّ اغفر لي

Sesungguhnya kebaikan akhlak yang mulianya dia tidak bermanfaat (berguna) baginya karena dia belum sempat bertaubat kepada Allah ta’ala” (HR. Muslim)

Maka dasarilah akhlak yang mulia dengan tauhid kepada Allah ta’ala, kita meng-Esakan hanya kepada Allah ta’ala segala bentuk peribadahan. Marilah kita berdo’a kepada Allah ta’ala semoga kita semua senantiasa dikaruniai oleh Allah ta’ala dengan akhlak yang mulia dan dijaukan dari akhlak yang tercela.

Demikian ringkasan khutbah ini kami sampaikan, semoga dapat memberikan manfaat dan barakah bagi yang membacanya.

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close