Haram Meminta Kepemimpinan
Download KajianKajian RutinUstadz Rizal Yuliar

Haram Meminta Kepemimpinan

Haram Meminta Kepemimpinan
Ust Rizal Yuliar Putrananda
26 September 2022

Sebelum memulai pertemuan pada malam hari ini, pemateri membawakan sebuah ayat, Allah ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ

Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji, Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu)” (QS. Al-Fatir 15-16)

Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa betapa butuhnya kita kepada Allah dan hendaknya kita senantiasa bersyukur kepada-Nya.

Alhamdulillah kita sambung kembali kebersamaan kita dalam mengkaji kitab Riyadush Shaalihiin, Karya Al-Imam Yahya Ibnu Saraf An-Nawawi rahimahullah.

Dan tidak terasa kita telah masuk kepada Bab yang ke-81 setelah 3 pertemuan sebelumnya kita telah mengkaji Bab ke-80 tentang mendengar dan mematuhi pemimpin pada selain kemaksiatan kepada Allah ta’ala.

Bisa disimak kembali pada playlist yang ada di Channel Youtube Pesantren Al-Lu’Lu’ Wal Marjan.

Selanjutnya Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengajak kita untuk mengetahui sisi lain dari sebuah kepemimpinan. Dalam bab yang panjang judulnya penulis menyatakan “Ada larangan (Haram Hukumnya) meminta kepemimpinan dan hendaklah seseorang lebih memilih meninggalkan kursi kepemimpinan bila belum wajib atasnya, atau kondisi lainnya belum sampai ada desakan kebutuhan untuk menjadi pemimpin”. Maka hukum asalnya meminta kepemimpinan itu haram dan hendaklah dia meninggalkan kursi pemimpinan kecuali dalam dua keadaan yaitu:

  1. Dalam keadaan kepemimpinan telah bulat, berada di atas pundaknya. Karena sudah terdaulat, sempurna dan ketuk palu keputusan kepemimpinan berada di atas pundaknya.
  2. Bila belum sangat mendesak kebutuhan dia penuhi permintaan pihak lain bagi dirinya untuk menjadi pemimpin, hendaklah dia tinggalkan.

Penulis membawakan sebuah ayat, Allah ta’ala berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۗوَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa
(QS. Al-Qasas 83)

Mari, kita simak lebih cermat dan lanjut lagi melalui rekaman di bawah ini, baarakallahu fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close