Karyawan Amanah Anti Curang - pesantrenluluwalmarjan.org
Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Karyawan Amanah Anti Curang

Karyawan Amanah Anti Curang
26 Desember 2025
Ustadz Abu ‘Umar

Khatib berwasiat kepada jemaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah. Takwa yang tidak berhenti kepada ibadah pribadi semata. Tetapi tampak nyata dalam amanah kehidupan, terutama amanah dalam mengelola pendidikan. Pendidikan dalam Islam bukanlah semata profesi, ia adalah risalah bukan hanya pekerjaan tetapi tugas yang akan ditanya pada hari kiamat oleh Allah ta’ala.

Karena di tangan lembaga pendidikan, Allah menitipkan waktu para santri. Allah menitipkan masa depan mereka dan Allah menitipkan arah umat ini mau dibawa kemana. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh
(QS. Al Ahzab: 72)

Ayat ini mengingatkan kepada kita bahwa amanah ini adalah sesuatu yang berat. Bahkan bisa dikatakan menakutkan. Karena siapa yang memikul amanah ini? Ia sedang memikul hutang kepada Allah ta’ala. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengingatkan kepada diri kita:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap orang adalah pemimpin dan setiap orang akan ditanya akan kepemimpinan tersebut
HR. Bukhari

Di lembaga pendidikan, guru adalah seorang pemimpin di kelasnya. Mengelola kelas tersebut dengan baik, bukan sekedar mengabsen dan berbicara tanpa diperhatikan.

Kepala sekolah adalah pemimpin di dalam lembaga. Bendahara adalah pemimpin atas dana yang ia kelola, staff administrasi adalah pemimpin atas dokumen dan layanan. Pengurus asrama adalah pemimpin atas kehidupan santri. Petugas kebersihan dan kelayakan peralatan yang ada di pesantren adalah pemimpin atas lingkungan yang layak dan nyaman untuk berjalannya pendidikan. Tidak ada peran yang kecil, tidak ada peran yang diremehkan, tidak ada peran yang dikesampingkan, semua itu adalah amanah, semua itu adalah pemimpin yang semuanya akan ditanya pada hari kiamat oleh Allah ta’ala

Kerusakan amanah dalam pendidikan jarang terjadi di mana dia dimulai dengan kejahatan. Namun umumnya adalah ia sering lahir dari kelalaian yang dibiasakan. Datang bekerja memang tepat waktu, tapi hati belum hadir di tempat kerja. Menjalankan tugas, tapi tanpa kepedulian, tanpa peduli kepada santri, melakukan kewajiban minimum akan tetapi menuntut hak secara maksimum. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah engkau mengkhianati orang yang mengkhianatimu.
HR. Abu Dawud

Maka, waktu kerja yang dibayar adalah amanah, fasilitas lembaga adalah amanah, jabatan sekecil apapun, baik jabatan secara umum ataupun jabatan kegiatan-kegiatan kecil, semua itu adalah amanah. Namun hal yang menarik untuk diperhatikan dari hadits ini adalah bahwa amanah bukanlah sekedar reaksi, amanah bukan sekedar reaksi balasan karena orang lain sudah amanah kepada kita, melainkan ini adalah gaya hidup di mana kita mestinya amanah kepada orang yang amanah kepada kita maupun orang yang tidak amanah kepada kita, baik amanah orang itu kepada diri kita atau tidak amanah kepada diri kita.

Dalam sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam berkenaan tentang ciri orang yang munafik, yaitu apabila dipercaya dia berkhianat, apabila diberikan kepercayaan dia berkhianat, maka perlu diperhatikan bahwa khianat tidak selalu berarti mencuri uang, menggelapkan dana, mengatasnamakan jabatan untuk memperoleh keuntungan tertentu, namun menunda pekerjaan tanpa alasan, mengabaikan tanggung jawab karena merasa tidak diawasi, mencampurkan urusan pribadi dengan amanah lembaga, sedang berada di lembaga tapi hati memikirkan urusan pribadi, maka semua itu adalah ranah amanah.

Bisa jadi lembaga pendidikan itu tampak terlihat rapi, bisa jadi laporannya memang lengkap, rapi, rinci, programnya banyak semuanya berjalan tetapi kosong dari keberkahan manakala amanah ditinggalkan dalam melaksanakan semua hal tersebut. Allah ta’ala tidak menilai seseorang yang bekerja di lembaga berdasarkan sesibuk apa dia, sibuk dan tidaknya dia, tapi jujur atau tidak melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.  Maka, sudah sewajarnya bagi diri kita yang Allah karuniakan kesempatan-kesempatan untuk lebih banyak belajar agama bertanya, di mana hari dan umur yang tersisa pada diri kita tidak sama sekali memiliki jaminan jika esok hari datang dan Allah menanyakan kepada diri kita tentang amanah pendidikan pada diri kita? Entah itu pendidikan di rumah kita sendiri atau pendidikan yang Allah amanahkan di pesantaran ini Sudahkah kita menyiapkan jawabannya?

Agar pembicaraan kita ini bisa lebih membantu diri kita untuk menengok diri kita masing-masing, mari kita kembali flashback merenungkan amanah pendidikan yang Allah berikan kepada kita dalam bentuk yang praktis sesuai dengan peran kita masing-masing, dapat menjadi bekal dan dikembangkan oleh diri kita masing-masing dalam mengevaluasi diri kita atau memuhasabah diri kita sendiri.

Seorang guru amanahnya bukan semata menyampaikan pelajaran, tapi lebih daripada itu seperti gunung es yang muncul di atas hanya sedikit, tapi di bagian dalamnya adalah besar yaitu menyiapkan pelajaran dengan sungguh-sungguh bukan masuk tanpa persiapan. Kemudian bagian dari amanah yang diberikan kepada pengajar bukan semata-mata mengoreksi ujian tanpa konfirmasi tanpa membenahi kesalahan santri. Bersabar terhadap kelemahan sebagian santri dalam mengikuti pelajaran. Berlaku adil terhadap semua santri, tidak cuma perhatian dengan yang pintar saja, tidak cuma perhatian kepada yang kurang saja, bahkan menjadi amanah bagi diri kita untuk mengecek buku-buku mereka, menengok kuku-kuku mereka memperhatikan kebersihan mereka, semua itu adalah amanah yang Allah berikan kepada diri kita.

Mengajar sesuai dengan perencanaan tidak lebih cepat dari perencanaan atau kurang dari perencanaan waktunya sudah habis tapi pelajaran belum disampaikan semua atau waktu belum habis tapi pelajaran sudah dihabiskan semuanya ini juga bagian dari amanah, ilmu yang diajarkan tanpa amanah tentu saja akan kehilangan berkah.

Di samping itu amanah para karyawan dan staf bukan semata hadir di kegiatan di pesantren, namun seharusnya sudah melayani dengan jujur mengelola dokumen tanpa manipulasi. Menjaga serta memaintenance fasilitas milik pesantren dengan menatapnya ini adalah milik umat. Menggunakan waktu kerja sesuai dengan peruntukannya karena pengkhianatan dalam hal ini pelayanan yang lalai dalam hal ini sebenarnya adalah pengkhianatan yang sunyi.

Di samping itu mereka yang bertugas dalam bendahara dan pengelolaan keuangan setiap rupiah adalah titipan. Setiap tanda tangan akan ditanyakan oleh Allah, setiap hadiah dari pihak dari luar pesantren bukanlah sebuah kehormatan, tetapi beban di hadapan Allah ta’ala. Setiap kebijakan keuangan harus memperhatikan berbagai sisi yang berada di pesantren, sementara pemimpin itu sendiri ia akan ditanya oleh Allah tentang amanah pada dirinya sendiri dan tentang apa yang menjadi tanggung jawabnya di bawahnya. Diam terhadap pelanggaran adalah bentuk khianat yang dibungkus dengan kebijaksanaan palsu.

Jika kita melihat contoh-contoh dan kisah-kisah yang dialami oleh salafush shalih mereka sangat takut menerima sesuatu yang belum mereka tunaikan haknya. Mereka takut menerima lebih dari yang mereka kerjakan. Kita hari ini terkadang takut untuk menerima di mana hak itu kurang jumlahnya, namun terkadang kita lupa untuk menunaikan amanah lebih baik atau sesuai dengan yang seharusnya. Pendidikan akan selamat bukan karena gedungnya yang besar, bukan karena kemewahannya, bukan dengan lengkapnya fasilitas, akan tetapi, karena amanah di dalamnya dihidupkan dan amanah yang hidup dimulai dari takut kepada Allah dalam setiap kesendirian kita.

Marilah kita sedikit demi sedikit melatih diri kita memperbaiki amanah dari tempat kita masing-masing, dari meja kerja kita, dari jam kerja kita, dari keputusan-keputusan kecil yang mungkin terkadang itu adalah sesuatu yang kita pandang sebagai sesuatu yang sepele.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala ta’ala Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakAllah ta’ala ta’alau fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close