
Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
Khutbah Jum’at, 16 September 2022
Ustadz Faiz Abdurrahman
Dalam kesempatan kali ini khatib akan menyampaikan dan menjelaskan satu ayat di dalam Al-quran agar semoga dapat terpahami, mengambil pelajaran darinya kemudian mengamalkannya.
Allah ta’ala berfirman di dalam surat Ali-Imron:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۖ وَّيَقْتُلُوْنَ الَّذِيْنَ يَأْمُرُوْنَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ ۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu azab yang pedih”. (QS. Ali ‘Imran: 21)
Ada 7 pelajaran yang dapat diambil dari ayat ini:
- Kekufuran kepada Allah adalah dosa yang sangat besar dan merupakan kemungkaran yang paling besar. Allah ta’ala berfirman:
إن الشرك لظلم عظيم
“Sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang besar” (QS. Luqman: 13)
Dan masih banyak dalil-dalil lainnya yang menyatakan bahwa syirik atau kufur adalah dosa yang besar.
- Ayat ini merupakan dalil disyari’atkannya amar ma’ruf dan nahi mung Allah ta’ala berfirman:
و لتكن منكم أمة يدعون إلى الخير و يأمرون بالمعروف و ينهون عن المكر و أولئك المفلحون
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali ‘Imran 104)
- Amr ma’ruf dan nahi mungkar merupakan syari’at setiap ummat.
قال ابن باز : والأمر بالمعروف و النهي عن المنكر موجود في الأمم السابقة, بعث الله به الرسل و أنزل به الكتب
Imam Ibnu Baz berkata: “dan menyuruh kepada hal makruf dan mencegah dari kemungkaran sudah ada di Ummat-Ummat terdahulu, Allah Utus Rasul-rasul dan Allah turunkan Kitab-kitab karenanya”
- Tingginya kedudukan orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar, hal itu disebutkan setelah menyebutkan kedudukan nabi-nabi Allah yang dibunuh.
الحسن البصري : إن في هذه الآية دليلا على أن الآمر بالمعروف, والناهي عن المنكر تلي منزلته عند الله منزلة الأنبياء, فلهذا ذكر عقيبهم
Hasan Al Bashri mengatakan: “Sesungguhnya di dalam ayat ini ada sebuah dalil bahwa orang yang menyuruh kepada hal ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran kedudukannya di sisi Allah berada setelah kedudukan nabi-nabi”
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يبتلى الأنبياء ثم الصالحون ثم الأمثل فالأمثل ببتلى الرجل على حسب دينه.
“Nabi-nabi akan diuji, kemudian orang-orang shalih, kemudian orang yang lebih mirip dan seterusnya, seseorang akan diuji tergantung agamanya” (HR. Bukhari)
- ‘Amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan jalan yang dipenuhi oleh hal-hal yang dibenci oleh jiwa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
حجبت النار بالشهوات وجبت الجنة بالمكاره
“Neraka dipenuhi oleh syahwat-syahwat sedangkan surga dipenuhi oleh hal-hal yang dibenci jiwa” (HR. Bukhori)
Oleh karena itu beramar ma’ruf dan nahi mungkar butuh kesabaran sebagaimana Luqman Al Hakim mewasiatkan kepada anaknya.
يا بني أقم الصلاة و أمر بالمعروف و انه عن المنكر و اصبر على ما أصابك
“Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu” (QS. Luqman 17)
- Menyakiti orang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar lebih besar dosanya daripada menyakiti orang biasa, karena dengan menyakitinya akan menutup pintu-pintu kebaikan dan membuka pintu-pintu kemungkaran.
- Beramar makruf dan nahi mungkar haruslah dengan ilmu dan tata cara. Kita bisa melihat nabi-nabi bani israil yang dibimbing langsung oleh wahyu saja tetap dimusuhi bahkan dibunuh, bagaimana dengan yang beramal makruf tanpa memiliki landasan?
Di kesempatan kali ini khatib kembali mewasiatkan agar senantiasa bertakwa kemudian khatib akan membawakan sebuah hadits dalam masalah terang-terangan dalam bermaksiat.
Diriwayatkan olem Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عن أبي هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah ta’ala”
Apa saja yang termasuk dalam berterang-terangan dalam berbuat dosa:
- Orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan di hadapan manusia.
- Orang yang telah menyingkap apa yang telah Allah tutupi dari perbuatan maksiatnya. Seakan-akan, mereka itu menceritakan perbuatan maksiatnya karena bangga dan meremehkan dosa yang telah dia lakukan itu.
Ingatlah ancaman dari Allah untuk mereka yang suka menyebarkan kekejian di kalangan orang-orang beriman di dalam Surat An-Nur. Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui”
Seorang pepatah arab juga mengatakan:
ودت الزانية أن تزني النساء جميعها
“Wanita Pezina mengingikan agar semua wanita ikut berzina”
Maka ingatlah firman Allah ta’ala dalam Surat Az-Zukhruf Ayat 39
وَلَن يَنفَعَكُمُ ٱلْيَوْمَ إِذ ظَّلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِى ٱلْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ
“Tidak akan bermanfaat pada hari kiamat tatkala kalian berbuat dzolim kebersamaan kalian tatkala kalian menerima Azab”
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-sa’di rahimahullah menafsirkan ayat tersebut:
“Dan juga tidak berguna bagi kalian ruh pelipur lara dari musibah. Sebab bila musibah menimpa di dunia dan dirasakan oleh banyak orang, maka musibah tersebut akan terasa ringan. Sedangkan musibah akhirat itu menyatukan berbagai siksaan yang tidak ada istirahatnya sedikitpun, tidak ada istirahat yang kita kenal ini”
Allah ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim 6)
Ada dua faidah yang dapat kita simpulkan.
- Menceritakan perbuatan maksiat kepada khalayak umum menyebabkan pelakunya melakukan kemaksiatannya secara terus- Dan hal ini juga menyebabkan manusia ikut mengamalkan perbuatan maksiat tersebut, sehingga dia akan mendapatkan dosa dari dosa-dosa para pengikutnya tersebut tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka. Karena penunjuk kepada keburukan seperti pelaku keburukan itu sendiri.
- Melakukan dosa secara terang-terangan akan menjadikan dosa tersebut lumrah di mata manusia.
Demikian ringkasan khutbah ini kami sampaikan, semoga dapat memberikan manfaat dan barakah bagi yang membacanya.