Muliakan Ilmu dan Hormati Guru - pesantrenluluwalmarjan.org
Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Muliakan Ilmu Hormati Guru

Muliakan Ilmu Hormati Guru
25 Oktober 2024
Ustadz Bukhori

Ilmu adalah sesuatu yang sangat mulia dalam agama kita, ilmu memiliki kedudukan tinggi dalam syariat kita, sebagaimana firman Allah ta’ala:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat
(QS. Al Mujaadalah: 11)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengawali hari-harinya dengan berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima
(HR. Ahmad)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengawali hari beliau dengan do’a yang dimulai dengan memohon ilmu bermanfaat sebelum yang lain. Dan di antara bentuk mengagungkan ilmu agar ilmu itu berkah adalah memuliakan ahli ilmu. Ahli ilmu di sini mencakup para ulama, asatidzah, guru-guru TPA, guru-guru kita semuanya. Mereka semua adalah ahli ilmu yang patut kita hormati, kita muliakan dan hormati, karena sebab ilmu dan jasa mereka dalam bidang ilmu. Jika kita memang memuliakan ilmu, maka setiap orang yang mengajaran ilmu kepada kita wajib kita hormati dan muliakan.

Mengapa kita harus menghormati ahli ilmu? Karena guru kita adalah orang tua rohani kita, sedangkan orang tua kandung adalah orang tua jasamani kita. Karena merekalah yang membimbing kita, yang mengajarkan kita ilmu, sehingga kedudukan mereka seperti orang tua kita.

Ada seorang ulama yang mengatakan: “Apabia seseorang belajar dari seorang yang alim, belajar dari gurunya dan mengambil banyak faedah ilmu darinya, maka kedudukan seorang murid tersebut seperti seorang budak bagi gurunya”. Maksud dari perkataan ini adalah seorang murid siap berkhidmah, membantu, menjalankan peritah gurunya dalam hal yang ma’ruf, baik yang mubah maupun yang syari.

Syariat kita memerintahkan kita untuk menjaga hak para ulama sebagai bentuk pemuliaan, penghormatan dan pengagungan terhadap mereka. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam musnad Imam Ahmad, dari Ubadah ibn Shamid radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّه

Bukan termasuk umatku orang yang tidak memuliakan orang yang tua dan menyayangi anak kecil dan mengetahui hak orang yang berilmu
(HR. Ahmad)

Wajibnya menghormati ahli ilmu itu adalah Ijma’ para ulama, tidak ada di antara para ulama yang menyelisihi Ijma’ tersebut. Di antara bentuk adab menghormati guru tanpa berlebihan adalah rendah hati terhadap guru, meskipun terkadang murid mungkin lebih cerdas dibanding gurunya. Termasuk salah satu adab di hadapan seorang guru adalah kita harus bersikap tawadhu di hadapan guru kita, jangan meremehkan guru meskipun umur guru lebih muda dibandingkan dengan muridnya. Salah satu bentuk adab terhadap para guru adalah memperhatikan pelajaran ketika guru menerangkan, menyimak apa yang disampaikan dan juga tidak tengak-tengok saat jam pelajaran atau saat belajar.

Berikutnya adalah menjaga adab ketika berbicara kepada guru dengan cara berusaha untuk memilih kata-kata yang baik, memanggil dengan panggilan yang sopan. Kemudian apabila membicarakan tentang gurunya, maka hendaklah seorang murid menunjukkan penghormatan terhadap gurunya tanpa disertai sikap ghuluw (berlebih-lebihan).

Dan di antara adab menghormati seorang guru yang berikutnya adalah hendaknya seorang murid mengucapkan syukur dan terima kasih atas ilmu yang diajarkan serta senantiasa mendo’akan untuk guru di dalam do’a-do’a kita, kehidupan kita sehari-hari dan sujud kita.

Tidak menampakkan di depan guru sikap tidak butuh seperti tidak mendengarkan, tidak memperhatikan dan tidak menyimak dengan baik. Kemudian tidak menyakiti guru, baik itu ucapan maupun perbuatan. Hendaknya seorang murid berlemah lembut ketika mengingatkan gurunya atas kesalahannya, jika memang guru tersebut benar-benar melakukan kesalahan.

Mari kita muliakan ilmu dengan menghormati guru-guru kita yang berjasa bagi kita semuanya agar ilmu kita bermanfaat dan penuh berkah.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita, baarakallahu fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close