Artikel IslamUstadz Fathurrahman

Sifat Laki-laki Ideal

Ringkasan Nasihat Thabur Shabahiy / Apel Pagi
Senin, 18 Januari 2021 M / 4 Jumadal Akhir 1442 H
Oleh: Ustadz Fathurrahman

Pada apel pagi kali ini, Ustadz Fathurrahman menjelaskan sosok lelaki ideal yang diharapkan oleh agama islam. Bagaimana ciri seorang laki-laki itu ideal menurut agama islam?

    1. Barometer Lelaki Ideal adalah Para Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum
      Sahabat merupakan generasi terbaik umat islam. Mereka dididik langsung oleh sebaik-baik pemimpin, yang tak lain adalah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka untuk menggapai predikat “lelaki terbaik”, yang harus kita lakukan adalah mengikuti jejak para sahabat. Ada sebuah ungkapan dalam Bahasa Arab yang berbunyi:

إِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا مِثْلَهُمْ فَتَشَبَّهُوْا، إِنَّ التَّشَبُّهَ بِالْكِرَامِ فَلَاحُ
“Jika engkau tidak bisa seperti mereka maka tirulah, sesungguhnya mencontoh yang baik merupakan keberuntungan.”

    1. Sifat Lelaki Ideal
      Ada beberapa sifat yang harus dimiliki seseorang yang menginginkan untuk menjadi lelaki ideal. Berikut beberapa sifat lelaki ideal tersebut:

      Sifat Pertama:
      اَلْقِيَامُ بِالْفَرَائض

      Menjalankan Perintah Yang Allah Wajibkan

      Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:

وما تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبدي بِشيءٍ أحبَّ إِلَيَّ مِمّا افْتَرَضْتُهُ عليهِ
“Aku lebih mencintai hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan apa yang telah diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah. Maka, barangsiapa yang menjalankan apa yang diperintahkan oleh-Nya, ia akan dicari oleh Allah untuk menjadi hamba yang dicinta. Dan ia merupakan lelaki terbaik di sisi-Nya.

Sifat Kedua:
اَلْحُبُّ فِي اللهِ و للهِ
Saling Mencintai Karena Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabb-nya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’, dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis.” (HR. Bukhari)

Sifat kedua dari lelaki sejati adalah saling mencintai dan menyayangi karena Allah, di jalan Allah, dan dengan mengharapkan Wajah Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan karena urusan dunia. Bukan pula karena harta, wanita dan tahta.

Sifat Ketiga :
اَلْعِفَّةُ عَنِ الْحَرَامِ
Bersabar Untuk Menahan Diri Dari Yang Diharamkan Oleh Allah Ta’ala

Disebutkan juga dalam hadits di atas, salah satu golongan yang akan mendapat naungan di hari kiamat kelak:

وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ
“Dan seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’” (HR. Bukhari)

Sifat Keempat:
ذِكْرُ اللهِ مَعَ الْبُكَاءِ مِنْ خَشْيَتِهِ
Senantiasa Berdzikir Mengingat Allah Ta’ala

Yang seharusnya kita lakukan adalah mengingat Allah Ta’ala hingga air tumpah dari mata kita. Bukan malah kita mengingat permainan yang kita lakukan di rumah, mengingat lirik-lirik lagu yang terdengar saat berjalan.

Semoga Allah melunakkan hati kita untuk senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla saat sendiri maupun saat berada di keramaian.

Sifat Kelima:
قِيَامُ اللَّيْلِ
Selalu Melaksanakan Shalat Malam

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bermimpi. Mimpi yang menyeramkan. Ada dua malaikat yang membawa beliau. Kedua malaikat ini membawa beliau untuk memperlihatkannya bagaimana keadaan di neraka. Ternyata di dalam neraka tersebut seperti ada dinding-dinding sumur yang membatasinya. Di dalam sumur tersebut ada dua tiang. Ternyata di dalam sumur tersebut ada beberapa orang yang beliau kenali. Beliau bertanya di dalam hati “Mengapa mereka ada di sini?” Maka beliau berlindung diri dari siksa api neraka.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ النَّارِ
“Aku berlindung diri dari api neraka. Semoga aku tidak termasuk dari penghuni neraka.”

Di pagi harinya, Abdullah bin Umar menceritakan mimpinya kepada Hafshah radhiyallahu ‘anha. Lalu Hafshah radhiyallahu ‘anha menceritakannya kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ، لَوْ كَانَ يُصَلِّيْ مِنَ اللَّيْلِ
“Sebaik-baiknya laki-laki adalah Abdullah bin Umar, jika ia melaksanakan shalat malam.”

Mulai dari itu, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu tidak pernah meninggalkan shalat malam semasa hidupnya.

Inilah lelaki ideal. Lelaki ideal bukanlah lelaki yang tubuhnya tegap, tampan ataupun kaya. Jika yang dinilai adalah tubuh yang tegap, maka Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tidak akan masuk di dalamnya. Akan tetapi, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memiliki betis kecil, namun di hari kiamat nanti, betisnya akan lebih berat daripada Gunung Uhud.
Jika yang dilihat adalah ketegapan tubuh, maka orang munafik memiliki keidealan tersebut. Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا رَأَیۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡۖ وَإِن یَقُولُوا۟ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡۖ كَأَنَّهُمۡ خُشُبࣱ مُّسَنَّدَةࣱۖ یَحۡسَبُونَ كُلَّ صَیۡحَةٍ عَلَیۡهِمۡۚ هُمُ ٱلۡعَدُوُّ فَٱحۡذَرۡهُمۡ
“Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka membuatmu takjub. Dan jika mereka mengatakan sesuatu, engkau mendengarkan tutur katanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka.” (QS. Al Munafiqun: 4)

Apabila engkau melihat mereka, maka engkau akan takjub dengan ketegapan, dengan kekekaran, dengan pakaian yang mereka kenakan. Namun, itu semua tidak berarti di hadapan Allah ta’ala. Yang patut kita lakukan adalah mencontoh apa yang ada pada diri para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Karena itulah satu-satunya jalan supaya kita menjadi lelaki sejati. Lelaki yang diharapkan oleh sesuai tuntunan alquran dan hadits.

Demikian nasihat ini disampaikan. Semoga Allah ta’ala karuniakan kepada kita hati yang lembut. Hati yang senantiasa mengingat Allah.

Magelang, 25 Januari 2021

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
Close
Close