
Obsesi Negeri Akhirat
Obsesi Negeri Akhirat
18 Juli 2025
Ustadz Aufa Abdullah
Jika kita merenungkan hakikat dunia ini, maka kita dapati bahwa ia sangatlah singkat. Bahkan perhiasan dan segala apa yang ada di dalamnya adalah suatu yang hina dan tidak ada harganya. Barangsiapa yang percaya kepada dunia, maka dia telah terperdaya. Barangsiapa yang bersandar kepada dunia, maka ia telah binasa. Begitupula umur manusia di dunia ini, singkatnya umur dunia sesingkat umur seorang manusia.
Umur seorang manusia dimulai dari detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan lalu tahun demi tahun, sehingga selesailah umur manusia dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi dari perkara-perkara besar setelah kematiannya. Hal ini digambarkan oleh Allah ta’ala di dalam firman-Nya.
يٰقَوْمِ اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌۖ وَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
“Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal”
(QS. Ghafir 39)
Bahkan waktu yang lama dari kehidupan manusia di alam kubur mereka hingga kebangkitan kelak di hari hisab seperti hanya sesaat saja. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala.
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَاَنْ لَّمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُوْنَ بَيْنَهُمْۗ
“(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (seperti ketika) mereka (sejenak) saling mengenal di antara mereka (setelah dibangkitkan dari alam kubur)”
(QS. Yunus 45)
Allah ta’ala juga berfirman:
وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُوْنَ ەۙ مَا لَبِثُوْا غَيْرَ سَاعَةٍۗ كَذٰلِكَ كَانُوْا يُؤْفَكُوْنَ
Pada hari (ketika) terjadi kiamat, para pendurhaka (kafir) bersumpah bahwa mereka berdiam (dalam kubur) hanya sesaat (saja). Begitulah dahulu mereka dipalingkan (dari kebenaran)”
(QS. Ar-Rum: 55)
Umur kita hanyalah sesaat, maka amalan apa yang telah mengisi waktu yang sesaat ini? Sungguh beruntung orang yang melakukan amalan-amalan shalih, yang menjauhi hal-hal yang haram, maka ia akan meraih keridhoan di dalam surganya Allah ta’ala. Celakalah bagi orang-orang yang mengikuti syahwatnya dan meninggalkan kewajiban-kewajibannya, betapa merugi orang yang kesehatannya ia gunakan untuk melampaui batas dengan kemaksiatan. Betapa merugi orang yang waktu kosongnya telah merusaknya. Betapa merugi orang yang terfitnah hingga ia binasa. Betapa merugi orang yang mengikuti hawa nafsunya sehingga ia terjatuh di dalam lubang dosa. Betapa merugi orang yang tertipu dengan masa mudanya, sehingga ia lupa bahwa dia akan tua dan mati. Betapa merugi orang yang berani terhadap Rabbnya karena merasa panjang umurnya dan tinggi angan-angannya sehingga tiba-tiba kematian datang menghampirinya. Maka pertanyaan yang besar untuk diri kita masing-masing, apakah bisa kita kembali ke dunia ini setelah kematian? Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”
(HR. An Nasai)
Karena tidaklah seseorang yang banyak mengingat kematian kecuali ia akan kembali kepada Rabbnya, terbangun dari kelalaiannya serta bertaubat kepada Allah. Manusia yang memiliki bekal amalan yang ia usahakan di dunia ini maka ialah seberuntung-beruntungnya seorang manusia. Allah ta’ala berfirman:
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ ٣٩
”bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,”
وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ ٤٠
bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya),
ثُمَّ يُجْزٰىهُ الْجَزَاۤءَ الْاَوْفٰىۙ ٤١
kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna,
وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ ٤٢
bahwa sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),
(QS. An Najm 39-42)
Maka marilah kita beramal dengan amalan akhirat yang kekal yang tidak akan sirna. Allah ta’ala berfirman:
ࣙادْخُلُوْهَا بِسَلٰمٍۗ ذٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُوْدِ ٣٤
Masuklah ke (dalam surga) dengan aman dan damai. Itulah hari yang abadi.”
لَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌ ٣٥
Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki dan pada Kami masih ada lagi tambahan (nikmat).
(QS. Qaf 34-35)
Maka marilah kita menjaga diri kita masing-masing dari neraka Jahannam yang mana tidak pernah lelah untuk membakar para penghuninya, dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi kemungkaran. Allah ta’ala berfirman:
هٰذَانِ خَصْمٰنِ اخْتَصَمُوْا فِيْ رَبِّهِمْ فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّنْ نَّارٍۗ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوْسِهِمُ الْحَمِيْمُۚ ١٩
Inilah dua golongan (mukmin dan kafir) yang bertengkar. Mereka bertengkar tentang Tuhan mereka. Bagi orang-orang yang kufur dibuatkan pakaian dari api neraka. Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih.
يُصْهَرُ بِهٖ مَا فِيْ بُطُوْنِهِمْ وَالْجُلُوْدُۗ ٢٠
Dengan (air mendidih) itu akan diluluhlantakkan apa yang ada dalam perut mereka dan (juga) kulit (mereka).
وَلَهُمْ مَّقَامِعُ مِنْ حَدِيْدٍ ٢١
Untuk mereka (azab berupa) palu (godam) dari besi.
كُلَّمَآ اَرَادُوْٓا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ اُعِيْدُوْا فِيْهَا وَذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِࣖ ٢٢
Setiap kali hendak keluar darinya (neraka) karena tersiksa, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan,) “Rasakanlah azab (neraka) yang membakar ini!”
(QS. Al Hajj 19-22)
Allah ta’ala juga berfirman:
وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ مُّلٰقُوْهُۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ ٢٢٣
Utamakanlah (hal yang terbaik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menghadap kepada-Nya. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin.
(QS. Al Baqarah 223)
Selain kita telah mengetahui bagaimana dahsyatnya sifat neraka adzab yang kekal abadi kelak di akhirat, maka di sisi lain Allah ta’ala telah membuka pintu-pintu rahmat-Nya dengan mensyariatkan kepada kita amalan-amalan kebaikan. Inilah yang akan menambahkan pundi-pundi bekal kita yang akan kita bawa di hari akhirat kelak, dan jauhkan diri kita dari membangkang dan memerangi Allah dengan melakukan dosa-dosa kemaksiatan. Allah ta’ala berfirman:
وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗ فَسَاَكْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِاٰيٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَۚ
dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa dan menunaikan zakat serta bagi orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Kami
(QS. Al A’raf 156)
Mari kita gunakan masa sehat ini untuk berbuat kebaikan, untuk melakukan amalan-amalan kebaikan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang. (HR. Bukhari)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل
Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir yang sedang dalam perjalanan. (HR. Bukhori)
Sehingga obsesi kita terhadap dunia bukanlah hal yang utama di dalam kehidupan ini, karena tujuan kita adalah akhirat dan keridhoan Allah.
Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakAllah ta’alau fiikum.