Jangan Bangga Dengan Selain Ilmu Agama
Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Jangan Bangga Dengan Selain Ilmu Agama

Jangan Bangga Dengan Selain Ilmu Agama
07 Juni 2024
Ustadz Boby Ibrahim

Ilmu adalah segala kunci kebaikan, ilmu merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Allah ta’ala wajibkan kepada kita, tak sempurna keimanan dan tak sempurna pula amalan kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu Allah ta’ala disembah, dengan ilmu hak Allah ta’ala ditunaikan dan dengan ilmu pula, agama-Nya disebarkan. Kebutuhan pada ilmu lebih besar dibandingkan kebutuhan kita pada makanan dan minuman, sebab kelestarian urusan agama dan dunia bergantung pada ilmu.

Imam Ahmad rahimahullah ta’ala mengatakan;

“Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga kali saja dalam sehari, sedangkan ilmu diperlukan dalam setiap waktu”

Jika kita ingin menyandang kehormatan yang luhur, kemuliaan yang tak terkikis oleh perjalanan siang dan malam, tak lekang oleh pergantian masa dan tahun, kewibawaan tanpa kekuasaan, kekayaan tanpa harta, kedigdayaan tanpa senjata, kebangsawan tanpa keluarga besar, para pendukung tanpa upah, pasukan tanpa gaji, maka kita harus berilmu dan ilmu di sini yang dimaksud adalah ilmu agama. Maka jangan bangga dengan selain ilmu agama, ilmu syar’i yaitu ilmu yang menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajiban berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah. Dengan ilmu pula, ditunaikan berbagai ragam ibadah kepada Allah dan mensucikannya dari berbagai kekurangan.

Dari penjelasan tersebut, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ketika hanya disebutkan kata ilmu saja, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Oleh karena itu, merupakan sebuah kesalahan sebagian orang yang membawakan dalil-dalil tentang kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu dari Al-quran dan as-sunnah, tetapi yang dimaksud oleh mereka adalah motivasi untuk belajar ilmu duniawi. Meskipun demikian bukan berarti kita mengingkari manfaat untuk belajar ilmu duniawi, karena hukum mempelajari ilmu duniawi tergantung pada tujuannya. Apabila digunakan untuk kebaikan, maka baik pula hal tersebut dan apabila digunakan dalam keburukan, maka buruk juga ilmu tersebut.

Hal yang disayangkan, ternyata beberapa majelis ilmu sudah tidak memiliki daya magnet yang bisa memikat umat islam untuk duduk di sana, bersimpuh di hadapan Allah ta’ala untuk meluangkan waktu, mengkaji firman-firman Allah ta’ala dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Kita lebih senang menyia-nyiakan waktu kita bersama teman-teman, kita lebih senang menyia-nyiakan waktu kita di sosial media, tetapi enggan untuk menuntut ilmu di majelis ilmu. Kita belum mengetahui keuntungan duduk berjam-jam di majelis ilmu mempelajari ilmu agama, kalau kita tidak mengetahuinya maka kita tidak akan duduk di majelis ilmu, karena fitrah manusia akan bertindak sesuai dengan asas keuntungan.

Faktanya kalau kita tidak mengetahui keuntungan yang kita bisa dapatkan dari hal tersebut, maka kita tidak akan melakukan hal tersebut. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk banyak mempelajari keutamaan-keutamaan menuntut ilmu agama, sehingga mengetahui keuntungan yang akan didapat. Yang kita peroleh dari shalat, puasa, zakat, maka kita akan semakin bersemangat dalam menjalaninya. Hal ini seharusnya kita sadari, oleh karena itu kita harus mengetahui keutamaan dan keuntungannya.

Terdapat banyak dalil di dalam Al-qur’an dan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tentang keutamaan ilmu dan memiliki ilmu. Pada kesempatan kali ini akan disampaikan 7 keutamaan tersebut.

Yang pertama, ilmu menyebabkan dimudahkan jalan menuju surga. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hadis Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله به طريقا إلى الجنة

Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu agama maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga
(HR Muslim)

Yang kedua, ilmu adalah warisan para nabi, sebagaimana dinyatakan oleh hadits berikut

وإنَّ الْعُلَماءَ وَرَثَةُ الأنْبِياءِ وإنَّ الأنْبِياءَ لَمْ يُورِّثُوا دِينَارًا وَلا دِرْهَمًا وإنَّما ورَّثُوا الْعِلْمَ، فَمنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحظٍّ وَافِرٍ

“Para ulama adalah pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham tetapi mewariskan ilmu, maka dari itu barang siapa mengambilnya ia telah mengambil bagian yang cukup
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dinyatakan Shahih oleh Syekh Albani)

Keutamaan yang ketiga, ilmu akan kekal dan akan bermanfaat bagi pemiliknya, walaupun dia telah meninggal dunia. Hal ini disebutkan di dalam hadits;

إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang manusia meninggal terputuslah amalnya kecuali tiga hal yang pertama sedekah jariyah yang kedua ilmu yang bermanfaat kemudian yang ketiga anak sholeh yang berdoa untuknya
(HR. Muslim)

Keutamaan yang keempat adalah Allah tidak memerintahkan nabi-Nya meminta tambahan apapun, selain tambahan ilmu. Allah ta’ala berfirman;

وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

katakanlah wahai rob-ku tambahkanlah ilmu kepadaku
(QS. Thaha 114)

Keutamaan yang kelima yaitu orang yang dipahamkan ilmu agama adalah orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah ta’ala. Hal ini berdasarkan hadits Dari Muawiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

Barang siapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama
(HR. Bukhari dan Muslim)

Keutamaan yang keenam adalah yang paling takut pada Allah adalah orang yang berilmu agama. Hal ini bisa direnungkan di dalam ayat Allah ta’ala

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun
(QS. Fathir 28)

Kemudian keutamaan yang terakhir adalah orang yang berilmu akan Allah ta’ala angkat derajatnya. Allah ta’ala berfirman;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan
(QS. Al Mujadalah 11)

Allah telah memberikan kepada kita semua banyak kenikmatan, jika kita tidak menggunakannya untuk mempelajari firman-firman-Nya, maka kita akan menjadi salah satu orang yang Allah nyatakan dan abadikan di dalam surat al-mulk ayat 10. Allah ta’ala berfirman;

وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

Dan mereka berkata, “Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala

Semoga Allah ta’ala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk bisa menuntut ilmu dan mengamalkan sesuai dengan tuntunan nabi shallallahu alaihi wasallam.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakallahu fiikum.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close