Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Demikianlah Menyambut Kemuliaan Ramadhan

Demikianlah Menyambut Kemuliaan Ramadhan
Jum’at, 08 Maret 2024
Ustadz Imam Rosyadi

Tak lama lagi kita akan memasuki bulan ramadhan, bulan mulia yang sangat ditunggu-tunggu umat islam di seluruh dunia. Bulan penuh berkah, karena pada bulan ini nilai ibadah akan dilipatgandakan, doa-doa akan dikabulkan, dan pintu surga dibuka.

Oleh karena itu, kita perlu menyambut datangnya bulan ramadhan dengan gembira, tak ubahnya tamu agung yang dinanti-nantikan kedatangannya. Bulan ramadhan adalah salah satu bulan yang mulia dalam islam. Di dalamnya terhamparkan rahmat, ampunan, dan jaminan pembebasan dari api neraka bagi yang sungguh-sungguh mengisi bulan suci tersebut. Salah satu keistimewaan bulan ramadhan tercermin dalam firman Allah ta’ala:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Bulan ramadhan, bulan yang mana di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian mendapati bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.”
(QS. Al Baqarah: 185)

Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan, (Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji bulan puasa yaitu bulan ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan ramadhan Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi‘alaihimus salam

Adapun keutamaan puasa itu sendiri Allah ta’ala yang akan memberikan ganjarannya. Yang diriwayatkan Imam Bukhari:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya

Penegasan Allah, yang menisbatkan puasa sebagai milik-Nya dan Dia Allah sendiri yang akan mengganjarnya, merupakan penanda betapa spesialnya bulan ramadhan. Ada hubungan langsung yang sangat dekat antara puasa dan Allah. Sehingga, manusia yang serius menapaki bulan puasa ramadhan akan benar-benar menjadi pribadi yang mulia.

Salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira menyambut ramadhan. Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena bulan ramadhan ini adalah karunia dari Allah ta’ala dan seorang muslim harus bergembira. Allah ta’ala berfirman;

ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ اﻟﻠّﻪِ وَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮا ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮنَ

Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan
(QS. Yunus 58)

Lantas, kenapa kita harus bergembira menyambut ramadhan? Kegembiraan tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, keberkahan, dan keutamaan pada bulan ramadhan. Keutamaan tersebut membuat beribadah semakin nikmat dan khusu’. Kabar gembira mengenai datangnya ramadhan sebagaimana dalam hadits berikut.

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”
(HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385)).

Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya ramadhan. Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullahu menjelaskan:

“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yanh shalih dengan datangnya ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.” (Ahaditsus Shiyam hal. 13)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullahu menjelaskan,

ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺑﻔﺘﺢ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺬﻧﺐ ﺑﻐﻠﻖ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻨﻴﺮﺍﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺑﻮﻗﺖ ﻳﻐﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻳﺸﺒﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺯﻣﺎﻥ

“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (ramadhan). (Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148)

Mari kita melihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullahu berkata:

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di ramadhan yang lalu) mereka.” (Latha’if Al-Ma’arif hal. 232)

Tindakan mereka ini merupakan perwujudan kerinduan akan datangnya bulan ramadhan, permohonan dan bentuk ketawakkalan mereka kepada-Nya. Tentunya, mereka tidak hanya berdo’a, namun persiapan menyambut ramadhan mereka iringi dengan berbagai amal ibadah. Abu Bakr al Warraq al Balkhi rahimahullahu mengatakan:

شهر رجب شهر للزرع وشعبان شهر السقي للزرع ورمضان شهر حصاد الزرع

“Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk mengairi dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen.”

Sebagian ulama yang lain mengatakan,

السنة مثل الشجرة و شهر رجب أيام توريقها و شعبان أيام تفريعها و رمضان أيام قطفها و المؤمنون قطافها جدير بمن سود صحيفته بالذنوب أن يبيضها بالتوبة في هذا الشهر و بمن ضيع عمره في البطالة أن يغتنم فيه ما بقي من العمر

“Waktu setahun itu laksana sebuah pohon. Bulan Rajab adalah waktu menumbuhkan daun, Syaban adalah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan Ramadhan adalah bulan memanen, pemanennya adalah kaum mukminin. (Oleh karena itu), mereka yang “menghitamkan” catatan amal mereka hendaklah bergegas “memutihkannya” dengan taubat di bulan-bulan ini, sedang mereka yang telah menyia-nyiakan umurnya dalam kelalaian, hendaklah memanfaatkan sisa umur sebaik-baiknya (dengan mengerjakan ketaatan) di waktu tesebut.”

Wahai kaum muslimin, agar buah bisa dipetik di bulan ramadhan, harus ada benih yang disemai, dan ia harus diairi sampai menghasilkan buah yang rimbun. Puasa, qiyamullail, bersedekah, dan berbagai amal shalih di bulan Rajab dan Sya’ban, semua itu untuk menanam amal shalih di bulan Rajab dan diairi di bulan Sya’ban. Tujuannya agar kita bisa memanen kelezatan puasa dan beramal shalih di bulan ramadhan, karena lezatnya ramadhan hanya bisa dirasakan dengan kesabaran, perjuangan, dan tidak datang begitu saja. Hari-hari ramadhan tidaklah banyak, perjalanan hari-hari itu begitu cepat. Oleh sebab itu, harus ada persiapan menyambut ramadhan yang sebaik-baiknya.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.
(QS. Al-Baqarah 183)

Allah ta’ala menyebutkan hikmah dari ibadah puasa. Yaitu agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Karena sesungguhnya takwa itulah modal utama untuk masuk ke dalam surga. Takwa itu adalah merupakan bekal yang paling utama dalam kehidupan dunia. Sebagaimana Allah ta’ala mengatakan:

فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

Sesungguhnya sebaik-baiknya perbekalan adalah ketakwaan.
(QS. Al-Baqarah 197)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keistimewaan yang ada di bulan ramadhan. Beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan berharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini kesempatan yang Allah ta’ala sediakan. Seseorang yang berpuasa di bulan ramadhan telah dijamin oleh Allah dengan ampunan yang besar. Karena ketika ia berpuasa, ia mau untuk meninggalkan semua kenikmatan dan kelezatan yang biasa kita rasakan di selain bulan ramadhan. Tapi ketika kita tinggalkan itu karena Allah, karena mengharapkan wajah Allah ta’ala semata, karena mengharapkan surga Allah ta’ala, maka Allah ta’ala sudah pasti janjikan untuknya ampunan yang besar di sisi-Nya. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang shalat malam dibulan Ramadhan karena iman dan berharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka yang senantiasa menjaga shalat tarawihnya, yang berusaha semaksimal mungkin untuk menghidupkan malam dengan bermunajat kepada Rabbnya, mereka yang melewati malam-malam ramadhan dengan mereka berusaha untuk berdiri di hadapan Allah ta’ala sebagai bentuk ketakwaan, rasa takut dan berharap akan surgaNya. Maka mereka yang seperti ini dijanjikan oleh Allah dengan pahala yang besar. Yaitu Allah ampuni dosa-dosanya.

Subhanallah, bayangkan dua kesempatan ini kita bisa melakukannya di bulan ramadhan. Kemudian rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang bangun untuk ibadah dimalam Lailatul Qadar karena iman dan berharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Malam Lailatul Qadar, saudaraku. Allah sebutkan:

خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Lebih baik daripada 1.000 bulan.”
(QS. Al-Qadr 3)

Artinya bila kita shalat tarawih di malam itu, maka lebih baik daripada kita shalat tarawih selama 1.000 bulan. Apabila kita membaca Al-Qur’an di malam itu, maka itu lebih baik daripada membaca Al-Qur’an selama 1.000 bulan.

Subhanallah, kesempatan-kesempatan yang luar biasa yang Allah sediakan untuk kita. Kita semua hamba Allah yang tak lepas dari dosa. Setiap hamba Allah pasti tak pernah lepas dari kesalahan. Maka Allah pun ingin dengan adanya bulan ramadhan, Allah ampuni dosa-dosa kita semuanya.

Persiapan rohani ini penting supaya amal kita selama bulan puasa berjalan lancar dan berkah. Lancar, karena kita secara mental sudah siap sedia, baik menunaikan segenap ibadah wajib dan sunnah maupun menghadang godaan-godaan yang bakal menghadang. Perlu perbekalan ilmu yang benar dalam segenap ibadah, agar kita tidak sia-sia dalam melakukan ibadah dan rasa capek yang ia dapatkan. Bekal ini amat utama sekali agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullahu berkata,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”

Jangan sampai kita termasuk orang-orang tekun berpuasa tapi mendapat kritik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja” (HR Imam Ahmad)

Sungguh celaka orang yang keluar dari bulan ramadhan, ternyata tidak mendapatkan ampunan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad bin Hambal. Bahwasannya Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

Celakaa seorang hamba, masuk padanya bulan Ramadhan, lalu keluar ia dari bulan Ramadhan dalam keadaan ia tidak mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Kenapa dia tidak mendapatkan ampunan? Padahal kesempatan mendapatkan ampunan sangat besar dibulan Ramadhan. Karena ia menganggap ramadhan sebagai beban saja dalam hidupnya. Di hatinya tidak ada cinta ibadah kepada Allah. Hatinya dipenuhi cinta kepada dunia dan syahwatnya. Ia terasa berat melewati hari-hari di bulan ramadhan. Seperti inilah yang Allah ta’ala sebutkan mengenai orang-orang ahli kitab:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

Perumpamaan orang-orang yang diberikan kepada mereka Taurat, kemudian mereka tidak membawanya dengan semestinya, itu seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar.
(QS. Al-Jumu’ah 5)

Taukah Anda mengapa Allah ta’ala menyebutkan seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar? Karena keledai tidak mengetahui kitab apa yang ada di punggungnya. Ia tidak tahu kalau di punggungnya tersebut kitab yang memberikan hidayah kepada-Nya. Bagai keledai, kitab itu hanyalah beban dalam hidupnya. Maka siapa yang menganggap bahwa perintah-perintah Allah ta’ala hanyalah beban bagi hidupnya, siapa yang menganggap bahwa syariat Allah ta’ala hanyalah beban untuk hidupnya, maka ia masuk didalam ayat tersebut.

Maka dengan datangnya bulan ramadhan, sambutlah dia dengan kegembiraan. Karena sungguh ini kesempatan kita semua untuk meraih ampunan Allah ta’ala. Kesempatan kita untuk memperbaiki hati dan jiwa kita. Kesempatan untuk semakin kita menjadi hamba-hamba yang bertakwa kepada Allah ta’ala.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah selama bulan ramadhan 1445 H, baarakallahu fiikum.

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close