Artikel IslamArtikel Pilihan

Isra’ dan Mi’raj

Isra’ Mi’raj
Khutbah Jum’at 25 Februari 2022
Ustadz Ibrahim

Jamaah Jum’at rahimakumullahu

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah mukjizat besar dan tanda kenabian yang sangat jelas. Selain itu, ini adalah kekhususan Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal ini tidak pernah terjadi kepada nabi dan rasul sebelumnya. Peristiwa ini termasuk ayat Makkiyah yaitu terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum melakukan hijrah.

Pengamat sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa sebelum Isra’ dan Mi’raj ada beberapa kejadian yang membuat hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sedih. Seperti wafatnya Abu Thalib yang selalu melindungi dan menolong Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari gangguan-gangguan orang-orang kafir. Kemudian wafatnya Khadijah radhiyallahuanha, istri yang setia, sehingga beliau tinggal dalam kesunyian. Ditambah lagi dengan hijrahnya sebagian sahabat nabi ke negeri Habasyah berkali-kali dalam rangka menyelamatkan agamanya.

Beliau pun sempat pergi ke Thaif dalam rangka menyeru penduduknya untuk beriman, menerima Islam, dan menjadi penolong agama Allah, akan tetapi mereka menolaknya dan menolak ajarannya.

Semua kondisi yang menyulitkan ini, Allah ta’ala memuliakannya dengan mukjizat yang besar dan kemuliaan yang tinggi, yaitu Isra’ dan Mi’raj.

Allah ta’ala berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَاۚإِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra’’: 1)

Kata “asra” seperti di dalam ayat pertama di surah Al-Isra’’ berarti melakukan perjalanan pada malam hari. Ada yang menambahkan bahwa yang dimaksud adalah melakukan perjalanan pada awal malam, begitu juga ada juga yang menyatakan bahwa melakukan perjalanan di akhir malam.

Adapun Isra’ yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melakukan perjalanan pada malam hari dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha.

Adapun “mi’raj” berasal dari kata yang artinya naik. Mi’raj adalah alat yang digunakan untuk naik. Sedangkan mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah naik dari bumi ke langit melewati langit dari lapisan pertama sampai lapisan ketujuh.

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullahu

Imam Bukhari mengisahkan perjalanan Isra’’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Intisarinya adalah suatu ketika Nabi berada di dalam kamar dalam keadaan tidur, kemudian datang malaikat mengeluarkan hati Nabi dan mencucinya, kemudian memberikannya emas yang dipenuhi dengan iman. Kemudian hati Nabi dikembalikan sebagaimana semula.

Setelah itu Nabi melakukan perjalanan Isra’’ Mi’raj dengan mengendarai Buraq dengan diantar oleh malaikat Jibril hingga langit dunia, kemudian terdapat  pertanyaan,

“Siapa ini?”

Jibril menjawab: “Jibril.”

“Siapa yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad”.

“Selamat datang, sungguh sebaik-baiknya orang yang berkunjung adalah engkau, wahai Nabi.”

Di langit dunia ini, Nabi bertemu dengan Nabi Adam ‘alaihissalam. Jibril menunjukkan bahwa Nabi Adam adalah bapak dari  para nabi. Jibril memohon kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengucapkan salam  kepada Nabi Adam, Nabi Muhammad mengucapkan salam kepada Nabi Adam ‘alaihissalam, lalu Nabi pun mengucapkan salam begitu juga Nabi Adam membalas salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Perjalanan dilanjutkan menuju langit kedua, di sini Nabi bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga, Nabi Muhammad bertemu dengan  Nabi Yusuf ‘alaihissalam, di langit keempat, Nabi bertemu dengan Nabi Idris, di langit  kelima Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Harun ‘alaihimussalam, di langit keenam,  Nabi bertemu dengan Nabi Musa. Dan di langit yang ketujuh, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Setelah itu, Nabi Muhammad menuju Sidratil Muntaha, tempat Nabi memunajatkan dan

berdoa kepada Allah ta’ala. Kemudian Nabi naik menuju Baitul Makmur, yaitu baitullah di langit ketujuh yang arahnya lurus dengan Ka’bah di bumi, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat yang masuk di dalamnya untuk melakukan thawaf.

Kemudian Nabi disuguhi dengan arak, susu, dan madu. Nabi kemudian memilih susu, Jibril mengatakan: “Susu adalah lambang dari kemurnian dan fitrah yang menjadi ciri khas Nabi dan umatnya.”

Di Baitul Makmur, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala. Allah mewajibkan kepada Nabi untuk melaksanakan shalat fardlu sehari lima puluh kali.

Lalu nabipun kembali, di perjalanannya Nabi bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam. Lalu disampaikan kepada Nabi Muhammad bahwasanya umatmu tidak akan mampu untuk melakukan shalat sehari lima puluh kali, maka menghadaplah kepada Allah mohonlah keringanan kepada Allah, maka Nabi Muhammad pun kembali menghadap kepada Allah, setelah meghadap ternyata Nabi Muhammad mendapatkan keringanan yaitu sehari sepuluh kali untuk melaksanakan shalat fardhu, akan tetapi dikatakan lagi oleh nabi Musa alaihissalam bahwasanya umatmu tidak akan mampu untuk melaksanakannya maka Nabi pun kembali menghadap kepada Allah ta’ala sampai akhirnya diwajibkan bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta umatnya untuk melakukan shalat sehari lima waktu.

Lalu Nabi musa pun tetap mengatakannya bahwasanya umatmu tidak akan mampu untuk melakukannya maka Nabi Muhammad menjawab, saya malu untuk kembali menghadap Allah. Saya ridho dan pasrah kepada Allah.

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullahu.

Kisah yang agung ini sarat akan banyak faedah, di sini kami menyebutkan ada 4 faedah:

  1. Kisah Isra’’ Mi’rajtermasuk tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla. 
  2. Peristiwa ini menunjukkan keutamaan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamdi atas seluruh nabi dan rasul’alaihimus shalatu wa salaam 
  3. Peristiwa yang agung ini menunjukkan keimanan para sahabat.Mereka meyakini kebenaran berita tentang kisah ini, tidak sebagaimana perbuatan orang-orang kafir.
  4. Isra’`dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga. Ini adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, muhadditsin, dan fuqah Serta inilah pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama Ahlus sunnah.Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra’` : 1)

Lalu Kapan Isra’ Mi’raj Terjadi?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isra’ Mi’raj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:57-58)

Abu Syamah mengatakan, “Sebagian orang menceritakan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perawi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al-Bida’ Al-Hawliyah, hlm. 274)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata, “Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isra’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadar. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isra’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isra’ tersebut.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:57-58)

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah juga menerangkan bahwa tidak ada dalil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau merayakan Isra’ Mi’raj. Beliau juga katakan bahwa beliau tidak mengetahui dalil dari para sahabat tentang hal ini, begitu pula tidak diketahui dari imam yang empat dari imam madzhab.

Jadi, tatkala tidak ada sedikitpun dalil tentang hal tersebut,  maka perayaan Isra’’ Mi’raj  bukan bagian dari ajaran Islam. Jika dia bukan bagian dari agama Islam, maka tidak boleh bagi kita untuk beribadah dan bertaqarrub kepada Allah Ta’ala dengan perbuatan tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari Allah dan rasul-Nya maka amalan tersebut tertolak “.

Demikian ringkasan khutbah jum’at pada 25 Februari 2022. Semoga Allah ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close