Artikel IslamArtikel Pilihan

Untaian Nasihat Untuk Kaum Muslimin

Untaian Nasihat Untuk Kaum Muslimin
Dr. Emha Hasan Ayatullah, Lc., MA
Rabu, 16 Maret 2022

 Sesungguhnya di antara keistimewaan seseorang bisa belajar ilmu agama merupakan sebuah pilihan di atas pilihan Allah ta’ala, Al-Imam Al Ajurri rahimahullahu dalam mukadimah kitab akhlaqul ‘ulama beliau mengatakan:

“Sesungguhnya Allah ta’ala yang maha tinggi nama-namanya, memilih di antara sekian makhluknya orang-orang yang Ia cintai, maka Allah ta’ala beri mereka hidayah, lalu Allah ta’ala kembali memilih di antara sebagian orang-orang beriman, orang-orang yang dipahamkan Al-Qur’an, dipahamkan hadits dan dipahamkan agama mereka, sehingga mereka menjadi menjadi orang-orang pilihan dari sekian orang-orang pilihan”

Orang beriman pilihan, lalu Allah pilih di antara orang beriman yaitu orang berilmu. Sehingga ketika Allah ta’ala melebihkan kita, menggerakkan kita, memberikan kesadaran dan kesempatan untuk memahami agama ini, hakekatnya kita telah mendapatkan kenikmatan dari Allah ta’ala.

Ikhwah sekalian, dulu sekali para sahabat mempelajari ilmu dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dengan jerih payah dan susah payah, lalu mereka jaga dengan disiplin, lalu mereka sampaikan kepada para tabi’in. Mereka katakan “Ini yang kami ambil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu kami pegangi dan kami wariskan kepada kalian agar kalian pegang”. Mereka menghafal hadits-hadits itu sebelum mereka akhirnya menuliskan, sebagian sampai melakukan perjalanan jauh untuk mencari sebuah hadits yang pernah didengar oleh salah seorang dari sahabat lain. Hal ini mejadi penyadar betapa kita saat ini, ketika mempelajari hadits nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal merasakan nikmatnya dengan instant. Padahal dulu orang-orang yang mempelajari hadits, membutuhkan safar dan perjuangan yang ekstra berat untuk mendapatkan sebuah hadits.

As-Sa’bi rahimahullah ketika ditanya oleh seseorang, beliau mengatakan;

Ambil pelajaran ini dengan mudah (Cuma-Cuma), sungguh sebelum ini dengan pertanyaan yang lebih ringan seorang perlu melakukan perjalanan jauh dari Iraq menuju Madinah

dan ini mereka lakukan karena mereka tahu bahwa ilmu syar’i merupakan ilmu yang berat dan istimewa. Maka orang yang mendapatkan keistimewaan dari Allah ta’ala, dia mendapatkan warisan Nabi dan dia telah beruntung dengan untung yang seuntung-untungnya.

Ikhwah sekalian, hari ini kami melihat sebuah pemandangan yang membahagiakan sekali ketika kami menghadiri sebuah pesta haflah, atau penghargaan kepada sekian puluh santri yang berhasil menghafalkan Al-Qur’an, bahkan 5 di antara 32 berhasil mendapatkan sanad Al-Qur’an dengan ijazah yang bersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami teringat ketika kami belajar di kota Madinah, ketika kami bertemu dengan banyak Mahasiswa dari negeri lain, mereka banyak menghafal, hafal Al-Qur’an, hafal mutun, hafal hadits, hafal syi’ir. Kenapa kita orang-orang Indonesia terlambat, kita tidak bisa seperti mereka padahal apa yang mereka miliki kita miliki, kita memiliki kemampuan, akan tetapi memang kita perlu menyadari bahwa kita perlu menggiatkan kembali sunnah untuk menghafal. Kita tahu bahwa menghafal merupakan salah satu rukun dalam belajar tidak bisa seseorang belajar tanpa hafalan, tidak mungkin, mustahil seorang belajar tanpa menghafal.

Hafalkan, “Karena setiap orang yang menghafal dia adalah imam, dia yang dapat menguasai”. Al-Abdur Rozaq Ash Shon’ani rahimahullah beliau mengatakan:

“Setiap ilmu yang tidak bisa engkau bawa masuk ke dalam kamar mandi maka jangan dihitung itu ilmu”

Artinya ilmu yang hanya sekedar tertulis di atas catatan tidak bisa kita kuasai, akan tetapi ilmu yang betul kita pegangi, kita bisa andalkan adalah ilmu yang bisa kita hafal dan ini banyak disampaikan oleh para ulama, mereka mengatakan:

“Ilmu itu bukan yang tertulis di buku-buku atau yang di angkat pakai tas akan tetapi ilmu merupakan maklumat yang di simpan di dalam dada”

Sehingga sudah menjadi kebiasaan para ulama, mereka menjadikan hari-hari mereka tidak lewat dari yang namanya hafalan, disebutkan di dalam biografi  seorang ahli hadits, ahli sejarah, Nasirudiin Ibnul Furoth Al-Misri Al-Mua’arrikh meninggal tahun 807, beliau di riwayatkan dalam biografinya tidak pernah melewatkan satu hari melainkan mereka harus menambah jumlah hafalan sekalipun sedikit, dan hafalan apapun, hadits, syi’ir atau sejarah dan sebagainya. Bahkan ini bukan kebiasaan ahli hadits saja, sebagian ahli bahasa mereka berusaha untuk menambah hafalan bahkan sampai hari terakhir hidup mereka. Sebagaimana dinukil dari biografi Ibnu Malik Rahibul ‘alfiah beliau pada hari meninggalnya, beliau masih menghafal “5 Bait Syi’ir” dihafalkan pada hari terakhir beliau hidup dan ini tidak mungkin dilaksanakan kalau tidak menjadi kebiasaan.

Dan kita perlu mengingatkan bahwa jika seandainya hafalan itu banyak yang harus kita lakukan, maka setidaknya hafalan yang paling penting adalah menghafalkan dalil yang paling kuat yaitu Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an menjadi sebuah hidayah, menjadi sebuah pembuka perjalanan seorang tholibul ilmi dan ketika seorang penuntut ilmu tidak hafal Al-Qur’an, tidak sedikit para ulama yang menilai itu merupakan sebuah aib atau sebuah celaan, sekalipun seorang akan dimaklumi di mana dia tinggal dan kemampuan serta lingkungan yang akan mendukung.

Syeikh Sholeh Al-Ushaimi hafidzahullah ketika beliau ditanya ketika ada orang tua ingin mulai belajar apakah dia juga harus menghafal Al-Qur’an lalu baru dia memulai membaca yang lain? Beliau katakan “kalau orang tua harus dipaksa menghafal Al-Qur’an dia tidak akan belajar”, akan tetapi pembahasan kita tentang thullabul ilm secara umum, membaca dan menghafalkan Al-Qur’an menjadi sebuah kebiasaan para ulama, hampir setiap biografi para ulama mereka akan mulai dengan menghafal Al-Qur’an, bahkan tidak jarang di antara para ulama yang hafal Al-Qur’an sebelum usia baligh, kami katakan demikian karena memang menghafal Al-Qur’an sekalipun itu merupakan sesuatu yang bisa dilakukan akan tetapi membutuhkan pembiasaan, membutuhkan pengkondisian.

Ketika sebuah lembaga yang mungkin bukan merupakan pesantren khusus tahfidz akan tetapi memiliki konsen terhadap al-Qur’an, Allah ta’ala akan mudahkan untuk dihafal dan kenapa kita harus merasa terhalang untuk menghafalkannya? Kalau seandainya kita mengatakan kita mungkin belum bisa menghafal Al-Qur’an secara penuh maka kita mulai dari sedikit demi sedikit, bahkan menghafal sedikit demi sedikit bukan hanya dilakukan para thullabul ilm yang baru mulai, bahkan seorang ‘alim yang bernama Abu-Bakr Ibnu Ayyas rahimahullah, beliau seorang Qari’ Wa Muqri’, beliau bercerita:

“Kami pernah membaca Al-Qur’an kepada salah seorang imam dalam Qiro’at, yaitu ‘Asim Ibn Abi Nujud, Aku diminta untuk menyetorkan hafalanku setiap hari satu ayat saja tidak boleh lebih, beliau katakan menghafal satu ayat setiap hari lebih bisa kuat hafalannya di otak kamu, aku khawatir syeikh meninggal duluan, aku belum menyelesaikan hafalanku dan aku harus bersabar karena itu guruku, aku harus bersabar membaca Al-Qur’an setiap hari satu ayat, satu ayat sampai beliau memberikan keringanan “sekarang kamu boleh membaca 5 ayat, 5 ayat”

Dan ini merupakan salah satu metode dalam menghafal Al-Qur’an, ketika seseorang memang tidak mampu untuk menghafal dalam jumlah besar, maka setidaknya dia memiliki porsi untuk menghafal Al-Qur’an tiap hari, satu ayat tidak ada masalah. Bahkan kalau seandainya dalam menuntut ilmu secara umum para ulama mengatakan seperti dinukil oleh Az-Zuhri rahimahullah “Orang yang mengharapkan langsung bisa menggapai sebagian besar ilmu, maka yang hilang juga akan banyak” maka dalam Al-Qur’an demikian. Dalam Al-Qur’an seorang membutuhkan kesabaran menambah sedikit demi sedikit, dan disampaikan tadi bahwa menghafal Al-Qur’an ketika ditinggalkan menjadi sebuah aib bagi seorang Thalibul ilmi. Dan ini pernah disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Taqribut Tahdzib beliau memberikan keterangan tentang biografi seorang ‘alim bernama Utsman ibnu Muhammad ibnu abi Saibah, beliau sebutkan bahwa beliau ini adalah seorang Tsiqotun (terpercaya), Hafidzun (Kuat Hafalan), Syahir (Terkenal) akan tetapi dia memiliki beberapa kesalahan (memiliki kekeliruan). Di antara kekurangan-kekurangannya dia tidak hafal Al-Qur’an, ahli hadits tidak hafal Al-Qur’an dijadikan sebuah contoh itu merupakan celah, maka seorang tholibul ilm ketika Allah memberikan kemudahan manfaatkan dan tidak ada alasan umur sebenarnya.

Kami pernah ceritakan pada beberapa pengajian, di daerah atau di negeri Dubai ada seorang syaikh, bukan syaikh artinya seorang ‘alim, bukan akan tetapi dia adalah seorang yang multazim, mustaqim tidak pernah meninggalkan ibadah, dia baru mulai menghafal Al-Qur’an ketika usianya sampai 52 tahun ia melihat ada anak-anak membaca Al-Qur’an, maka dia turut semangat untuk menghafal Al-Qur’an, karena umurnya sudah hampir pensiun, maka dia membutuhkan waktu yang agak panjang, dia selesaikan hafalan Al-Qur’an sekitar 6 tahun lebih, genap 59 tahun umurnya selesai dia menghafal Al-Qur’an, kemudian dia berusaha untuk menjadikan semua anaknya hafal Al-Qur’an dan berhasil, 5 anaknya hafal Al-Qur’an semua. Catatannya tidak ada alasan umur untuk tidak hafal Al-Qur’an, dan Al-Qur’an ini disebutkan oleh Syeikh Abdul Aziz hafidzahullah, beliau katakan orang yang hafal Al-Qur’an Allah telah beri keistimewaan pada 3 alam, yang pertama alam dunia, yang ke dua alam Barzah, yang ke tiga alam Akhirat.

Alam dunia Beliau katakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan penghargaan untuk seorang imam, yang paling berhak menjadi sholat adalah orang yang hafalannya paling banyak. Rasulullah menyatakan dalam hadits yang shahih,

“Hendaklah orang yang berhak menjadi imam (paling berhak maju menjadi imam) adalah orang yang paling Aqra (orang yang hafalannya paling banyak)”.

Ketika di alam Barza setelah seorang meninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memperlakukan orang yang hafalannya lebih banyak dengan istimewa, ketika terjadi perang Uhud sehingga kaum muslimin banyak yang meninggal perlu dikuburkan dengan kondisi yang sangat darurat, akhirnya kaum muslimin perlu menguburkan dalam satu kuburan dua orang sekaligus, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan

“Lihat siapa di antara kedua orang itu yang lebih banyak hafalannya”

Lalu ditunjukkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di antara kedua orang ini ada yang lebih banyak hafalannya, maka dia yang lebih di dahulukan untuk dikuburkan ke dalam lahat, ini penghormatan beliau kepada orang yang hafalannya lebih banyak sampai ketika pemakamanpun demikian.

Kemudian yang ketiga, hadits yang mashur ketika seorang akan masuk surga.

“Akan dikatakan kepada orang yang membaca, menghafal, menguasai maknanya dan mengamalkan isinya, yaitu orang-orang ahlul Qur’an bacalah kemudian bertambah tinggilah dan tartilkan bacaanmu sebagaimana engkau dulu di dunia mentartilkan bacaan karena sesungguhnya derajatmu di surga akan disesuaikan dengan bacaan terakhir dari ayat atau surah yang engkau baca”

Ini yang kata syaikh Abdul Aziz menjadi keistimewaan di tiga alam untuk seorang penghafal Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an merupakan sesuatu yang bisa dilaksanakan. Orang Arab mengatakan “Jangan kalian katakan sekarang sudah hilang masa orang-orang yang menyibukkan diri dengan ilmu, akan tetapi setiap orang yang akan memulai dia yang akan sampai” kapan kita akan mulai kita akan merasakan hasilnya.

Ikhwah sekalian, membaca Al-Qur’an atau menghafal disebutkan oleh para ulama setidaknya cara-cara yang agar memudahkan kita untuk menghafal dengan lebih cepat. Kata Al-Khatib Baghdadi rahimahullah dalam Al-Faqih wal mutafaqqih beliau katakan “orang yang ingin menghafal Al-Qur’an perlu memilih waktu yang tepat”, beliau katakan “Waktu yang paling tepat untuk menghafal adalah waktu sahur, waktu sahur sebelum subuh, kalau seandainya kita bisa bangun sebelum subuh maka itu waktu yang ideal kalau seandainya tidak bisa minimal habis subuh, itu merupakan waktu yang juga ideal untuk menghafal Al-Qur’an. Kemudian Al-Khatib Baghdadi mengatakan “Menghafal di waktu malam lebih mudah dan lebih cepat daripada seorang menghafal di waktu siang” sekalipun bisa di waktu siang akan tetapi capek, bising, ribut dan sebagainya. Lain ketika seorang mengahfal di waktu malam, tentu yang dimaksudkan waktu malam adalah waktu sahur yang tadi disebutkan.

Kemudian yang kedua perlu memperhatikan kondisi badan ketika lapar dan kenyang, beliau katakan “ketika lapar lebih mudah untuk digunakan menghafal daripada waktu kenyang” sekalipun orang terlalu lapar juga susah untuk masuk hafalan. Akan tetapi kesulitan ketika menghafal karena kenyang lebih berat daripada ketika lapar.

Yang ketiga memilih tempat, disebutkan oleh Al-Khatib Baghdadi Rahimahullah beliau katakan “Tempat yang paling bagus untuk menghafal adalah ruang tertutup” kemudian beliau katakan “dan setiap tempat yang jauh dari hal-hal yang mengganggu” beliau katakan “tidak terpuji seseorang menghafal justru di depan tkamiman dan pemandangan yang indah” karena justru konsentrasinya akan terpecah.

Kemudian yang ke empat adalah “Sedikit demi sedikit”, misalnya satu hari satu ayat. Sebelum menambah muraja’ah dulu hafalan yang kemarin nanti dalam hitungan waktu akan semakin banyak tambahan hafalan. Dan para Mujarribun (oarang-orang yang telah berpengalaman) mengatakan “Semakin banyak hafalan antum, semakin kuat daya ingat antum”.

Kemudian disebutkan oleh Syekh Abdul Aziz hafizohullahu “Jangan lupa berdo’a kepada Allah agar diberikan karunia ikhlas dalam menghafal Al-Qur’an” ini yang akan banyak mendukung ketika seorang ikhlas, dan ikhlas itu bukan pekerjaan yang gampang, akan tetapi juga bukan merupakan pekerjaan di awal, ikhlas merupakan tugas yang terus menerus harus diikuti dari awal, tengah kemudian sampai akhir”.

Kemudian usahakan menghafal sambil mengetahui maknanya sekalipun tidak mengetahui tafsir secara detail, akan tetapi ayat yang kita baca kita mengetahui artinya maka akan lebih mudah untuk mengingat.

Usahakan gunakan Mushaf satu tidak ganti-ganti karena ini akan menganggu konsentrasi.

Termasuk yang disarankan adalah, membaca hafalan itu dalam sholat semakin banyak yang kita baca dalam sholat diharapkan hafalan itu semakin kuat. Dalam shahih muslim dikatakan “Apabila seorang yang memiliki hafalan Al-Qur’an dia gunakan dalam sholat malam dan sholat siang maka dia akan mudah untuk memngingat akan tetapi jika tidak, maka dia akan sulit untuk mengingat-ingatnya”

Kemudian yang berikutnya seseorang dikatakan hafidz pada saat seseorang bisa menjaga hafalannya, seseorang yang memiliki jumlah hafalan maka dia memiliki kewajiban untuk muraja’ah, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam menyatakan:

“Kalian harus sering megulang-ulang (menjaga) hafalan Al-Qur’an kalian karena Al-Qur’an lebih cepat hilangnya daripada seekor unta yang tidak diikat”.

Kita perlu membagi hafalan kita menjadi tiga bagian, yang pertama Hafalan Tambahan, yang kedua Muraja’ah yang sudah lancar, yang ketiga adalah memperbaiki hafalan yang sudah pernah dihafalkan.

Kemudian sebagai penutup, para ulama memberikan nasihat agar kita menjauhi maksiat agar kita dimudahkan dalam mengahafal dan ini adalah sesuatu yang mashur. Ada pernyataan dari  seorang Tabi’in yang bernama Ad Dhohak Ibn Muzahib rahimahullah, beliau mengatakan “Tidak ada seseorang yang menghafalkan Al-Qur’an dan mempelajarinya kemudian dia lupa kecuali biasanya sebabnya adalah dosa”.

Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala

Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa kalian melainkan penyebabnya adalah ulah tangan kalian sendiri”.

Beliau mengatakan “Musibah apa yang lebih besar dari seorang lupa dari hafalannya?” Di sini kita ingin mengingatkan bahwa lingkungan menghafal Al-Qur’an itu perlu diciptakan.

Semoga Allah ta’ala memberikan kita kemudahan untuk menghafalkan Al-Qur’an dan kita bisa dijadikan oleh Allah ta’ala sebagai keluarga Allah ta’ala yang menguasai, menghafal dan mengamalkan isi Al-Qur’an.

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close