Home / Artikel Islam / Apakah Diri Ini Terjerumus Dalam Kemunafikan
https://www.pesantrenluluwalmarjan.org/panduan-penerimaan-santri-baru-psb-pesantren-al-lulu-wal-marjan-20182019

Apakah Diri Ini Terjerumus Dalam Kemunafikan

عَنْ حَنْظَلَةَ الأُسَيِّدِىِّ قَالَ – وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ – لَقِيَنِى أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا. فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَمَا ذَاكَ ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِى وَفِى الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِى طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Dari Hanzhalah Al Usayyidiy -beliau adalah di antara juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia berkata, “Abu Bakar pernah menemuiku, lalu ia berkata padaku, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku menjawab, “Hanzhalah kini telah jadi munafik.” Abu Bakar berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan?” Aku menjawab, “Kami jika berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami teringat neraka dan surga sampai-sampai kami seperti melihatnya di hadapan kami. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami bergaul dengan istri dan anak-anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa.” Abu Bakar pun menjawab, “Kami pun begitu.”

Kemudian aku dan Abu Bakar pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidurmu dan di jalan. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. (HR. Muslim no. 2750).

Faidah yang dapat dipetik dari hadits diatas adalah :

Anjuran bagi kita untuk menanyakan kondisi keadaan saudara kita dalam bentuk fisik maupun non fisik. Hal ini terlihat dalam pertanyaan Abu Bakar terhadap Hanzhalah, belaiu bukan hanya menayakan tentang kabar semata, tetapi ada sesuatu yang terkait dengan jiwa Hazhalah yang takut dalam pada kemunafikan.

Di dalam kitab Shahih Bukhari terdapat bab Kekhawatiran seorang hamba, amalnya gugur sementara dia tidak menyadari. Hal ini sangat penting direnungkan oleh setiap muslim, terkadang kita rajin beramal, namun jarang memperhatikan tentang suatu hal yang dapat menggugurkan segenap amal kita.

Pada zaman keemasan islam, seorang tabiin pernah menjumpai dan berguru dengan puluhan sahabat nabi radhiyallahu ‘anhum. Hampir dipastikan para sahabat semuanya takut akan teridentifikasi kemunafikan. Padahal sahabat semuanya telah dijamin oleh Allah ta’ala masuk surga. Terdapat satu hal yang perlu diketahui yaitu bahwa para sahabat generasi yang terjamin masuk surga takut kalau mereka terjangkit kemunafikan, maka terlalu naif orang di zaman sekarang merasa terbebas dari sifat kemunafikan. Sedangkan sahabat jauh lebih mulia daripada kita pada masa ini.

Sahabat nabi, Hudzaifah radhiyahullahu ‘anhu, dikenal sebagai pemegang rahasia rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana rasulullah tidak memberitahukan kepada siapapun selain beliau. Salah satunya rasulullah memberitahukan tentang saipa saja orang munafik di tengah-tengah kalangan para sahabat dan ini berdasarkan wahyu dari Allah ta’ala.

Ada kisah menarik terkait beliau, Hudzaifah radhiyahullahu ‘anhu. Suatu ketika Umar bin Khattab radhiyahullahu ‘anhu memperhatikan Hudzaifah ketika ada seorang jenazah yang sudah siap akan dishalatkan. Akan tetapi, Hudzaifah perlahan mundur ke belakang. Tatkala  umar mengetahuinya, umar mengikutinya dan bertanya “Apakah nabi menyebutkan fulan salah satu bagian dari orang- orang munafik?” Hudzaifah pun menjawab “Iya“. Sejurus kemudian Umar pun bertanya dengan penasaran “Apakah nabi menyebutkan namaku di daftar orang- orang munafik?” Namun Hudzaifah tidak menjawab dan terus berjalan. Mengetahui hal tersebut, umar terus-menurus bertanya, sehingga Hudzaifah pun menjawabnya “Tidak, dan setelah ini aku tidak akan menjawab pertanyaan serupa selamanya“.

Yang patut untuk diperhatikan oleh kita bahwa Umar radhiyahullahu ‘anhu merupakan orang terbaik kedua setelah Abu Bakar dan dijamin masuk surga. Akan tetapi beliau sangat takut untuk teridentifikasi kemunafikan. Hal ini sepatutnya menjadi tauladan bagi kita untuk lebih khawatir terjerumus dalam sifat kemunafikan .

Diantara bentuk sifat munafik adalah Kemunafikan I’tiqad yakni sesorang yang hakekatnya kafir, akan tetapi hanya menutup dirinya seakan-akan dia seorang yang beriman/islam. Sedangkan Kemunafikan Amaliyah adalah amalan tertentu yang membuat seseorang teridentifikasi kemunafikan, namun tidak mengeluarkan dia dari keislaman. Dalam hadist shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Ada dua perangai yang tidak terdapat pada oarang munafik, yaitu akhlak yang mulia dan ilmu agama”

Imam Nawawi rahimahullahu berkata “Hendaklah seseorang itu tidak ekstrim dalam beragama, adakalanya manusia itu dekat  kepada Allah, selama tidak menyelisihi yang mubah’’ yang artinya tidak boleh seorang muslim beribadah dengan ekstrim. sehingga tidak memberikan ruang terhadap yang mubah. Adakalanya manusia itu butuh terhadap hal yang mubah, seperti bermain bola untuk refresing, selama dalam batas mubah dan tidak berlebih sehingga tidak menjadi kemasksiatan.


Disadur dari kajian rutin kitab Riyadhus Shalihin pada tanggal 26 April 2017 yang diampu oleh Ustadz Rizal Yuliar Putrananda hafidzahullahu dengan sedikit perubahan.

https://www.pesantrenluluwalmarjan.org/panduan-penerimaan-santri-baru-psb-pesantren-al-lulu-wal-marjan-20182019

Check Also

Mari Datang Shalat Sebelum Iqamah Dikumandangkan

Tidak diragukan lagi bahwa shalat adalah tiang agama. Bahkan shalat juga menjadi penentu apakah seorang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *