Artikel Islam

Bersuci dan Urgensinya Dalam Islam

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberikan banyak kenikmatan kepada hambanya, diantara nikmat tersebut adalah nikmat islam, nikmat agama yang sangat memperhatikan masalah kebersihan, kesucian dan keindahan. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengajarkan umatnya hal-hal yang bermanfaat bagi mereka di kehidupan dunia dan akhirat.

Agama islam adalah agama yang sangat memperhatikan kebersihan dan kesucian, ini bisa dibuktikan dengan firman Allah ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri mereka”[1]

Muqotil Bin Sulaiman[2] berkata : “Allah ta’ala mencintai orang yang taubat dari dosanya, dan orang yang bersuci dari hadats dan najis dengan menggunakan air”[3]. Bila suatu hal dicintai oleh Allah ta’ala maka itu menunjukkan hal tersebut memiliki keistimewaan dan kedudukan dalam islam.

Allah ta’ala juga menjadikan suci sebagai syarat sah sebagian ibadah, seperti shalat dan thawaf, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

« لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ ، وَلاَ صَلاَةً بِغَيْرِ طُهُورٍ »

Allah ta’ala tidak menerima shadaqah dari hasil curian, dan tidakpula menerima shalat tanpa bersuci”[4]

Bahkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam mengategorikan bersuci sebagian daripada iman, Beliau bersabda :

الطهور شطر الإيمان

“Kesucian itu sebagian dari iman”[5]

Selain itu At-thaharah (bersuci) juga selaras dengan fitrah yang telah Allah tanamkan pada setiap manusia. Tidak diragukan lagi bahwasanya setiap orang cinta kebersihan dan keindahan, serta membenci kekotoran. Agama islam adalah agama yang sesuai denga fitrah manusia.

Dalam islam, bersuci terdapat dua bagian. Yang pertama : mensucikan diri dan hati dari kotoran dosa syirik dan maksiat. Dosa bisa mengotori hati bahkan bisa membuat hati itu mati. Cara mensucikan hati dari dosa adalah dengan cara bertaubat kepada Allah ta’ala. Mensucikan hati dari dosa lebih penting dari pada mensucikan badan dari kotoran, karena seseorang tidak mungkin akan mensucikan badannya bila hatinya penuh dengan dosa syirik dan kemaksiatan.

Yang kedua : mensucikan badan dari kotoran, baik itu kotoran najis atau hadats. Dan bagian inilah yang akan kita bahas pada artikel-artikel mendatang.

Bersuci hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“dan sucikanlah bajumu”[6]

Muhammad Al-Amin As-Syinkity menjelaskan ayat diatas : “yang kuat dari perkataan ulama dalam masalah mensucikan pakaian/baju disini, adalah pendapat yang mengatakan wajibnya mensucikan pakaian dari kotoran najis”[7]. Dan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

“Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci, dan sedekah dari harta yang haram”[8]

Intisari dari uraian diatas adalah :

  1. Bersuci memiliki kedudukan istimewa di dalam islam. Karena islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia yang mencintai kebersihan dan keindahan.
  2. Mensucikan hati dari noda-noda dosa sangatlah penting, terlebih dosa kesyirikan yang apabila terdapat dalam hati maka amalan-amalan zhahir yang dilakukan tidak akan bermanfaat, ditolak oleh Allah ta’ala.
  3. Mensucikan badan, pakaian, serta tempat dari kotoran najis dan hadats hukumnya wajib, terlebih apabila ingin menunaikan ibadah yang disyaratkan padanya kesucian seperti shalat dan thawaf.

Semoga Allah ta’ala senantiasa membimbing kita semua untuk bisa memahami agama ini dengan baik dan benar.

Penulis : Khalil Rusydi

(Kepala Kurikulum Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan)


[1] QS. Al-Baqarah: ayat 222

[2] Muqotil Bin Sulaiman Bin Al-Azdy Al-Balakhy merupakan ahli tafsir, beliau berasal dari daerah Balakh kemudian pindah ke Basrah, pernah singgah di Bagdad dan mengajar disana, beliau meninggal di Basrah.

[3] Tafsir Al-Baghawi: 1/259

[4] Dari sahabat Ibnu Umar, riwayat Imam Baihaqi dalam As-Sunan AL-Kubra: 1/42, no.190. dan Imam Muslim dalam shahihnya: 2/5, no. 329

[5] Dari Abi Malik AL-Asy’ari, diriwayatkan oleh Ad-Darimy dalam Sunannya: 1/174, berkata Husai Salim Asad: sanad hadist ini shahih.

[6] QS. Al-Mudattsir: ayat 4

[7] Adwa’ul Bayan Fi Idohil Qur’an Bil Qur’an: 8/362

[8] Riwaya Imam Muslim dalam shahihnya: 2/5, no.329

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close