Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Nikmat Kemerdekaan

Nikmat Kemerdekaan
Khutbah Jum’at, 12 Agustus 2022
Ustadz Abu Umar

Di kesempatan hari-hari ini, kaum muslimin di Indonesia mengingat masa kenangan lalu, yaitu kenangan saat dijajah yang lantas Allah ta’ala berikan kepada mereka nikmat kemerdekaan. Nikmat yang masih diimpi-impikan oleh bangsa lain, sementara nikmat kemerdekaan yang Allah berikan kepada kaum muslimin di Indonesia adalah nikmat yang sampai saat ini masih utuh sebagaimana saat diberikan.

Nikmat kemerdekaan adalah suatu nikmat besar yang wajib bagi kaum muslimin untuk senantiasa menjaganya, menjaga keberlangsungannya, mengisi dengan hal-hal yang menyebabkan kita semua mudah dalam membangun negeri ini ke arah yang diridhoi oleh Allah ta’ala.

Kita ingat firman Allah ta’ala yang menyebutkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tatkala berdo’a, mendo’akan negeri di mana putranya Ismail alaihissalam  tinggal. Allah ta’ala berfirman;

رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ

Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya,” (QS. Al-Baqarah 126)

Kita cermati do’a nabi Ibrahim ‘alaihis salam ini, di mana Ia mendahulukan permintaannya kepada Allah ta’ala berupa permintaan aman untuk negeri, di mana negeri itu tidak ditindas oleh bangsa lain. Permintaan ini diajukan sebelum permintaan yang lain yaitu permintaan ketersediaan pangan. Dikarenakan tentunya kemerdekaan itu adalah nikmat yang mana kala ia dicabut oleh Allah ta’ala tidak menjadi nikmat lagi setiap makanan yang tersedia di meja kita. Karena manakala nikmat kemerdekaan itu dicabut oleh Allah ta’ala, maka tidak nyaman lagi rumah-rumah mewah yang kita tinggali, tidak nyaman lagi para penuntut ilmu dalam menuntut ilmu dan bahkan mungkin ibadah yang kita laksanakan menjadi terasa tergesa-gesa, terasa tidak nyaman karena dipenuhi oleh ketakutan penjajahan.

Nikmat kemerdekaan adalah nikmat yang besar, manakala nikmat ini dicabut artinya adalah masa depan yang buruk bagi generasi yang sebelumnya, menjadi ancaman pendidikan mental anak-anak, menjadi keputusasaan bagi para orang tua akan masa anak-anak mereka. Oleh karena itu, nikmat yang besar ini semestinya diupayakan yang pertama oleh kaum muslimin.

Kita mengingat satu kondisi di dalam alquran, di mana Allah ta’ala menceritakan kondisi Rasul-Nya dan kondisi para sahabat yang menggambarkan bagaimana sebuah penjajahan dan bagaimana sebuah nikmat kemerdekaan. Allah ta’ala berfirman;

وَاذْكُرُوْٓا اِذْ اَنْتُمْ قَلِيْلٌ مُّسْتَضْعَفُوْنَ فِى الْاَرْضِ تَخَافُوْنَ اَنْ يَّتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَاٰوٰىكُمْ وَاَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهٖ وَرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan ingatlah ketika kamu (para Muhajirin) masih (berjumlah) sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), dan kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Dia memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki yang baik agar kamu bersyukur” (QS. Al-Anfal 26)

Demikian gambaran yang dialami oleh para sahabat Nabi, ketika mereka dalam kondisi tertindas oleh mereka yang tidak seiman, kemudian Allah ta’ala memberikan satu negeri di mana mereka merdeka untuk melaksanakan keimanan mereka yaitu Madinah.

Hal ini menjadi perhatian bagi kaum muslimin untuk menjadi yang pertama, bahwa seorang muslim memikirkan untuk bisa mengisi kemerdekaan negerinya dengan cara yang disyari’atkan Allah ta’ala, kemudian nikmat aman dalam kemerdekaan adalah satu hal yang tidak bisa dilepas dari keimanan, Allah ta’ala berfirman;

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk” (QS. Al-An’am 82)

Nikmat aman yang Allah berikan kepada kaum muslimin di Indonesia boleh jadi karena banyak di antara kaum muslimin adalah orang-orang yang menjaga keimanan mereka, terus menerus mengajarkan keimanan kepada generasinya, terus menerus mengajarkan keimanan yang benar kepada generasi setelahnya, sehingga jika kaum muslimin adalah orang-orang yang enggan menjaga keimanan yang benar, maka tentu saja Allah akan mengganti nikmat kemerdekaan dan nikmat aman tersebut menjadi negeri yang tersebar di dalamnya kriminalitas. Allah ta’ala berfirman memberikan perumpamaan kepada kita;

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَىِٕنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللّٰهِ فَاَذَاقَهَا اللّٰهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (pen-duduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat” (QS. An-Nahl 112)

Hal pertama yang semestinya dilakukan oleh kaum muslimin adalah terus melaksanakan keimanan yang benar, menjalankan agama yang benar dan mengajarkan kepada generasinya, mengajarkan kepada sesama kaum muslimin untuk senantiasa istiqomah dan taat di atas syari’at agama dan menjauhi kemaksiatan.

Hal lain yang semestinya dilakukan oleh kaum muslimin dalam menjaga nikmat kemerdekaan ini adalah dengan berpegang teguh kepada alquran dan sunnah serta menebarkan ilmu syar’i di kalangan kaum muslimin di negeri tersebut.

Al-Iman Ibnul Qoyyim menjelaskan;

Mana kala ilmu syar’i (ilmu yang bermanfaat) tersebar di sebuah negeri atau sebuah tempat maka keburukan di negeri itu akan menjadi minoritas, dan apabila ilmu yang bermanfaat tersebut tidak tersebar maka keburukan dan kerusakan akan menjadi mayoritas

Senantiasa kita jaga semangat kita dalam rangka juga untuk mengisi kemerdekaan negeri ini, kita sampaikan kebaikan-kebaikan, kita sampaikan syari’at islam ini kepada kaum muslimin sekalian kemudian kaum muslimin juga semestinya menjaga nikmat kemerdekaan ini dengan mengajak kepada perbuatan yang ma’ruf serta meninggalkan perbuatan yang mungkar.

Allah ta’ala berfirman;

وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ

Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa

اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar;” (QS. Al-Hajj 40-41)

Sehingga dapat kita simpulkan di sini, bahwasanya menyeru kepada perbuatan yang ma’ruf serta mencegah kepada perbuatan yang mungkar adalah salah satu di antara sebab terjaganya keamanan sebuah negeri dan merdekanya sebuah negeri. Hal lain yang semestinya dilakukan oleh kaum muslimin dalam menjaga kemerdekaan negerinya adalah terus memberikan dukungan kepada pusat-pusat pendidikan yang menyeru kepada indahnya berpegang teguh kepada alquran dan sunnah, dan efeknya yaitu terjaganya rasa aman untuk sebuah negeri dan terjauhnya mereka dari orang-orang yang akan dikuasakan untuk berbuat dzalim kepada negeri tersebut.

Di antara cara lain untuk menjaga nikmat kemerdekaan ini juga dengan terus menerus berjuang untuk menjaga kaum mudanya dari hal-hal yang menyebabkan mereka menyimpang. Karena masa depan sebuah negeri berada pada tangan pemudanya, senantiasa menjaga mereka dari hal-hal yang menyebabkan mereka menyimpang baik dari penyalahgunaan teknologi internet misalnya atau dari perilaku dan tata cara hidup mereka.

Hal yang patut kita simpulkan, bahwasanya kemaksiatan dan rasa aman adalah dua hal yang tidak mungkin untuk dapat dipersatukan, dikarenakan kemaksiatan adalah satu hal yang mnyebabkan hilangnya nikmat aman. Manakala negeri itu meninggalkan keimanannya kemudian berbuat kemungkaran, maka Allah akan menggantikannya menjadi negeri yang tidak aman, menjadikan negeri itu menjadi hal yang jauh dari nilai-nilai kemerdekaan, menjadikan negeri itu jauh dari esensi sesungguhnya dari kemerdekaan yang mereka dapatkan.

Allah ta’ala berfirman;

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۙ

Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Al-Anfal 53)

Allah ta’ala juga memberikan peringatan kepada kita;

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. An-Nur 55)

Semoga senantiasa Allah ta’ala memudahkan bagi diri kita untuk tinggal di negeri ini dan terus menerus melestarikan nikmat aman dan kemerdekaan ini. Menyampaikan kepada mereka generasi setelahnya, betapa beratnya sebuah penjajahan yang dialami oleh para pendahulu kita dan bahwasanya nikmat ini adalah nikmat yang sangat terikat dengan agama kita, nikmat yang di dalamnya kita mendapatkan kemerdekaan untuk terus menjadi hamba Allah yang menyembah-Nya.

Demikian ringkasan khutbah ini kami sampaikan, semoga dapat memberikan manfaat dan barakah bagi yang membacanya.

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close