Rasa Malu Kepada Allah Yang Kian Hilang
Artikel IslamArtikel PilihanKhutbah Jumat

Rasa Malu Kepada Allah Yang Kian Hilang

Rasa Malu Kepada Allah Yang Kian Hilang
22 Agustus 2025
Ustadz Rahmat Hartanto

Pada kesempatan kali ini, mari kita merenung sejenak tentang sebuah sifat mulia yang menjadi pilar akhlak dalam islam. Sebuah perhiasan bagi seorang mukmin yang jika ia hilang, maka akan hilang pula kebaikan-kebaikan lainnya. Sifat itu adalah Al-Haya’, atau rasa malu. Bukan sekadar malu kepada manusia, tetapi yang lebih utama dan lebih agung, adalah malu kepada Allah ta’ala.

Kita hidup di sebuah zaman di mana batas-batas kepantasan seolah semakin kabur. Apa yang dahulu dianggap aib, kini bisa menjadi tontonan yang lumrah. Apa yang semestinya dilakukan dalam kesendirian karena takut kepada Allah, kini dipertontonkan dengan bangga di hadapan ribuan, bahkan jutaan mata manusia melalui media sosial. Inilah salah satu tanda terkikisnya rasa malu kepada Sang Pencipta. Lalu, apa sebenarnya hakikat malu kepada Allah ta’ala?

Malu kepada Allah ta’ala bukanlah perasaan rendah diri yang menghalangi kita dari kebaikan. Justru sebaliknya, malu kepada Allah adalah sebuah perasaan agung dalam hati seorang hamba, yang membuatnya merasa tidak pantas untuk melakukan perbuatan dosa. Karena ia sadar bahwa Allah ta’ala senantiasa melihatnya, mendengarnya, dan mengetahui segala isi hatinya.

Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah ta’ala melihat (segala perbuatannya)?”
(QS. Al-‘Alaq: 14)

Ayat ini adalah pertanyaan retoris yang begitu menusuk ke dalam jiwa. Tidakkah kita sadar? Tidakkah kita yakin bahwa Allah ta’ala senantiasa mengawasi? CCTV buatan manusia bisa kita hindari, pengawasan atasan bisa kita kelabui, tetapi pengawasan Allah meliputi setiap detik, setiap tarikan napas, bahkan setiap lintasan niat di dalam hati kita.

Jika keyakinan ini benar-benar meresap dalam sanubari kita, bagaimana mungkin lisan kita ringan untuk berdusta, menggunjing, atau menyakiti sesama? Bagaimana mungkin tangan kita berani mengambil yang bukan haknya? Bagaimana mungkin mata kita tega melihat hal-hal yang diharamkan-Nya? Rasa malu adalah cabang dari keimanan. Semakin kuat iman seseorang, semakin tebal pula rasa malunya kepada Allah ta’ala. Sebaliknya, jika rasa malu mulai menipis, itu adalah pertanda bahwa imannya sedang dalam bahaya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Iman itu ada tujuh puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaha illAllah ta’ala’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari keimanan.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Bahkan, dalam riwayat lain, beliau menegaskan bahwa malu dan iman adalah dua hal yang tak terpisahkan. Jika salah satunya diangkat, maka yang lain pun akan terangkat dan hilang. Pernah suatu ketika, Rasulullah shallallah ta’alau ‘alaihi wa sallam menasihati para sahabatnya tentang bagaimana seharusnya memiliki rasa malu kepada Allah ta’ala. Beliau bersabda:

اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ. قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا لَنَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ. قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ الْبَطْنَ وَمَا وَعَى وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالْبِلَى

“Malulah kalian kepada Allah ta’ala dengan sebenar-benar malu.” Kami berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami benar-benar malu, alhamdulillah.” Beliau bersabda, “Bukan itu maksudnya. Akan tetapi, malu kepada Allah ta’ala dengan sebenar-benarnya adalah engkau menjaga kepala dan apa yang dipikirkannya, menjaga perut dan apa yang dimasukinya, dan hendaklah engkau senantiasa mengingat kematian dan kehancuran (jasad).”
(HR. Tirmidzi)

Lihatlah betapa dalamnya makna malu dalam hadits ini.

  1. Menjaga kepala: Artinya menjaga pikiran kita dari niat-niat buruk, menjaga mata kita dari pandangan haram, menjaga lisan kita dari ucapan sia-sia, dan menjaga telinga kita dari pendengaran yang tidak diridhai Allah ta’ala.
  2. Menjaga perut: Artinya memastikan setiap suap makanan dan setiap teguk minuman yang masuk ke tubuh kita berasal dari sumber yang halal, karena dari situlah energi untuk beribadah berasal.
  3. Mengingat kematian: Karena dengan mengingat mati, kita akan sadar bahwa setiap perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran inilah yang akan menumbuhkan rasa malu untuk berbuat maksiat.

Para ulama salaf, generasi terbaik umat ini, sangat memahami pentingnya sifat malu ini. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata:

“Tanda celaka itu ada lima: hati yang keras, mata yang kaku (sulit menangis), sedikitnya rasa malu, cinta terhadap dunia, dan panjang angan-angan.”

Lihatlah, beliau menempatkan “sedikitnya rasa malu” sebagai salah satu tanda kecelakaan bagi seorang hamba. Nabi shallallah ta’alau ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”
(HR. Bukhari)

Ini bukanlah sebuah izin, melainkan sebuah ancaman keras. Kalimat ini bermakna, jika rasa malu sebagai benteng terakhir telah runtuh, maka tidak ada lagi yang bisa menghalangimu dari perbuatan hina dan keji. Bagaimana cara kita menumbuhkan kembali dan merawat sifat mulia ini?

  1. Tingkatkan Muraqabatullah. Tanamkan dalam hati kesadaran penuh bahwa Allah ta’ala senantiasa mengawasi. Renungkan nama-nama-Nya yang agung seperti As-Sami’ (Maha Mendengar), Al-Bashir (Maha Melihat), dan Al-‘Alim (Maha Mengetahui).
  2. Kenali dan syukuri nikmat-Nya. Renungkan betapa banyak nikmat yang Allah ta’ala berikan tanpa henti, mulai dari napas, kesehatan, hingga keluarga. Rasa malu akan muncul ketika kita menyadari bahwa kita membalas semua kebaikan-Nya dengan kemaksiatan.
  3. Perbanyak mengingat kematian dan akhirat. Sadari bahwa kehidupan ini hanya sementara dan kita semua akan berdiri di hadapan Allah ta’ala untuk mempertanggung jawabkan setiap amal.
  4. Bergaul dengan orang-orang shalih. Lingkungan yang baik akan saling mengingatkan dalam kebaikan dan membantu kita menjaga rasa malu.

Marilah kita jadikan khutbah ini sebagai momentum untuk introspeksi. Mari kita periksa kembali kondisi hati kita. Masih adakah rasa malu itu bersemayam di sana? Atau ia sudah mulai pudar, terkikis oleh gemerlap dunia dan godaan syahwat?

Semoga Allah ta’ala senantiasa menghiasi diri kita dengan akhlak yang mulia, terutama sifat malu. Semoga Allah ta’ala membimbing kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, taat dalam beribadah, dan memiliki rasa malu yang hakiki kepada-Nya, baik di kala ramai maupun di saat sendiri.

Demikian ringkasan khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah ta’ala ta’ala Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua dalam menjalankan amal-amal ibadah kita baarakAllah ta’ala ta’alau fiikum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pesantren Al Lu'lu' Wal Marjan Magelang
👋 Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Close
Close